
⚠️ Bab ini mengandung percakapan dewasa ⚠️
Jika biasanya seorang istri akan terbangun dengan kepala bersandar di dada suaminya, maka hal itu tidak berlaku bagi Ara. Ketika ia membuka mata, tubuhnya terasa seperti tertindih balok kayu jati karena lengan kekar Darma yang melingkari pinggang dengan wajah lelaki itu yang dibenamkan di dadanya. "Mas, bangun," katanya merasa sesak.
"Hmm ... lima menit lagi, Ma," gumam Darma tak jelas.
Mata Ara melebar. Apa suaminya bilang barusan? Ma? Mama? "Mas, bangun! Ini aku Ara bukan mama."
"Iya, bent—" Mata Darma sontak terbuka lebar. Menengadahkan kepalanya, ia menyengir kuda menyadari kebodohannya.
"Minggir!"
"Nggak mau. Enak gini, empuk," kata Darma menggesek-gesekkan wajahnya ke dada istrinya.
"Mas! Malu, ih!" Wajah merengut Ara justru disambut dengan kekehan Darma.
"Ngapain malu. Cantik gini, kok." Darma berangsur naik sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Ara. Setelahnya, lelaki itu berbisik di telinga istrinya, "Apalagi kalau pas merem melek kayak semalem."
Ara memejamkan mata, meredam kekesalan dalam hati. Laki-laki modelan Darma memang seharusnya balik dilempar senjata agar mulutnya tidak terus-menerus mengucapkan kalimat tidak senonoh. "Mau aku kasih tahu nggak gimana ekspresi kamu semalem waktu panggil-panggil namaku. Ara ... Ara ... aku ... Araaaa ...." Ia menirukan raut muka serta suara suaminya beberapa saat sebelum lelaki yang masih memeluknya erat mengalami pelepasan dengan nada yang sama persis.
"Raaaaa ...." Kembali Darma menyerukan wajahnya. Kali ini diceruk leher Ara. "Malu tahu! Kok kamu nakal gitu. Siapa yang ajarin?"
"Otodidak!"
"Ra!"
"Apa, sih, Mas? Masih pagi, lhoh, ini."
"Nggak apa-apa. Aku merasa beruntung aja punya istri nakal."
Ara hanya tersenyum. Sejatinya, dia juga tidak menyangka mengapa begitu berani ia mengekspresikan dirinya di depan Darma. Apalagi saat mengingat apa yang terjadi semalam. Saat ia dengan entengnya menyuruh Darma memakaikannya baju dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka di tubuhnya. "Mas, aku mau mandi."
"Bareng, ya?"
"Nggak mau, ah. Malu." Malu yang sekadar di mulut.
"Nggak bakal ngapa-ngapain, kok." Adalah kalimat yang juga pernah Darma ucapkan ketika pertama kali Ara mengunjungi rumah lelaki itu yang berujung keduanya melakukan ciuman perdana.
Ara sontak memasang wajah waspada. "Aku nggak percaya. Inget nggak Mas Darma juga pernah ngomong kayak gitu waktu pertama kali main ke rumah dan ngajak ke kamar."
Darma memamerkan rentetan gigi putihnya. "Hehehe ... kamu gampang dimodusin. Untung kamu ketemunya cowok baik kayak aku, Ra. Abis kamu kalau ketemunya sama Aldo."
Omong-omong tentang Aldo, Ara jadi ingat kalau ada banyak pertanyaan tentang mantan atasannya yang kini malah menikah dengan perempuan yang dulu pernah mengejar-ngejar suaminya. "By the way, Mas, kenapa Pak Aldo bisa nikah sama Imelda?"
__ADS_1
"Gara-gara Imelda hamil."
Bibir Ara manyun. "Bukan itu ... maksudnya bukannya Imelda sukanya sama Mas Darma?"
"Imelda itu aneh."
"Aneh gimana? Dia biasa aja, kok, ya ... walaupun dulu keliatan arogan gitu."
"Sekarang juga masih. Cuma karena kamu nikah sama aku aja jadinya berubah."
Pandangan Ara menelisik. "Berarti kalau aku nggak nikah sama Mas Darma dia tetep arogan?"
"Maybe." Darma mengangkat kedua bahu, tak peduli. "Kamu hati-hati aja kalau sama dia."
"Kenapa?"
"Karena dia aneh."
"Maaasssss ... yang jelas, dong, jelasinnya."
Darma mengembuskan napas panjang. Malas sekali di pagi pertama pernikahannya malah disuruh bergosip tentang istri dari sahabatnya.
Melepaskan pelukannya, Darma menjadikan lengan kanannya sebagai bantalan, sedangkan lengan kirinya dipakai oleh Ara. "Dulu sepupuku juga ada yang suka sama dia, tapi Imelda bilang kalau dia suka sama aku. Karena aku nggak suka dia, ya, udah, aku cuekin aja. Dia bosen kali, terus lari ke Aldo. Kebeneran banget si Aldo juga dari dulu termehek-mehek sama dia. Jadilah, hubungan mereka kayak sekarang."
"Ngapain pacaran? Nggak pacaran aja bisa ML."
"Iih, Mas ... emang mereka sering ngelakuin kayak gitu?"
"Ya, kalau nggak sering nggak mungkinlah Imelda sampai hamil." Darma geleng-geleng kepala. Kendati Ara tidak terlalu polos, tapi masalah hubungan badan tanpa adanya status pernikahan tampaknya menjadi hal yang sangat tabu bagi perempuan itu. "Itulah kenapa aku langsung menyanggah waktu Oma bilang kamu nggak ada apa-apanya dibanding Imelda. Nggak tahu, sih, kamu denger atau enggak waktu pas siang-siang sebelum akhirnya aku pergi ke London."
"Aku denger ...," lirih Ara dengan senyum yang sulit diartikan.
"Dia yang nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu, bukan sebaliknya," tegas Darma, kemudian membombardir kepala istrinya dengan ciuman. "Aku tahu banyak tentang Imelda, makanya aku pengen ketawa waktu Aldo kaget gara-gara Imelda ngaku udah nggak perawan sebelum mereka melakukannya untuk pertama kali. Aldo pikir Imelda hanya sejenis cewek-cewek matre yang memasang harga diri setinggi langit."
"Emang sama siapa yang pertama?" Sungguh, demi Neptunus Ara benar-benar kepo.
"Temen kampus waktu kuliah di Spore dulu. Emang ganteng, sih, Ra. Kaya lagi. Uang sakunya sehari lima juta. Kamu kalau ketemu dia mungkin juga bakalan klepek-klepek."
"Ish! Sembarangan!" Ara menyikut perut suaminya, tak terima. "Aku nggak gitu, ya!"
"Iyaaa ... aku inget, kok, waktu kamu nyegah aku buat nggak melewati batas pas kita di vila." Darma mengulas senyum hangat. "Kamu emang beda."
Mau tidak mau, Ara jadi berbangga hati. "Tapi, Mas ... kok kamu bisa tahu hal-hal kayak gitu? Emang bener, ya, kalau cowok habis tidur sama siapa itu diceritain ke temen-temennya?"
__ADS_1
Darma mengangguk. "Iya, tapi nggak semua kayak gitu."
"Kalau kamu?" Mata Ara memicing.
"Aku nggak pernah. Baru pertama kali semalem sama kamu."
"Bener?"
"Nggak percaya?" Darma memasang raut paling serius miliknya. "Kalau aku mau nakal udah dari dulu, Ra, tapi, sayangnya aku nggak bisa ngelakuin kayak gitu kalau nggak pake perasaan. Nggak bisa turn on."
"Mantan-mantanmu dulu nggak ada yang mancing-mancing?"
"Nanti aku cerita kamu cemburu terus marah-marah nggak jelas. Aku yang salah. Cewek 'kan gitu."
"Enggak, aku nggak marah. Masss ... ayolah." Ara memeluk pinggang Darma. Menggoyangkannya mirip anak kecil yang sedang merajuk meminta permen.
"Kalau yang godain, ya, banyak. Nggak cuma yang jadi pacar aja, tapi balik lagi ke aku yang nggak bisa kalau nggak pakai hati."
Ara manggut-manggut. Dia memang tidak salah pilih suami.
"Kenapa diem? Kamu, tuh, beruntung dapatin aku," ucap Darma jumawa.
"Mas juga beruntung dapatin aku." Ara tak mau kalah.
"Iyaa ... Darmasena Nugraha adalah laki-laki paling beruntung karena punya istri Arasellia Winata," ungkapnya lantang.
"Mas, apaan, sih, teriak-teriak gitu." Ara menabok paha Darma lantaran lelaki itu terdengar berlebihan.
"Kenapa? Kamu iri? Mau teriak juga? Sini aku bikin teriak sampai keringetan."
"Nggak mau!" tolak Ara.
Namun, terlambat! Darma secepat kilat sudah mengungkung tubuhnya.
"Mas, enggak mau! Ditungguin Ibu di rumah."
Darma melirik jam di dinding. "Masih bisa main sekali. Nanti di rumahmu belum tentu bisa main."
"Main, main. Emangnya apaan pakai dimainin!"
"Ini!" Dengan gesit Darma sudah menyingkap kaus miliknya yang dikenakan Ara, kemudian membenamkan wajahnya di dada istrinya dengan lidahnya yang begitu lihai bermain-main di puncak bukit.
Ara? Perempuan itu hanya bisa pasrah merasakan kenikmatan yang disuguhkan suaminya. Lemah! Katakan Ara lemah, tapi perempuan itu tak peduli apalagi kini jemari nakal Darma sudah bermain-main di bawah sana. Siap mengantarkan tubuhnya sampai di titik kepuasan yang membuatnya lemas, tapi enak, tapi lelah, tapi ingin lagi.
__ADS_1