Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Prewedding


__ADS_3

H-7 pernikahan, Ara dan Darma masih harus menjalani sesi foto prewedding terakhir yang mengusung tema monokrom setelah beberapa waktu lalu mereka menjalani sesi pertama yang mengambil lokasi di Pantai Pok Tunggal, Gunungkidul, Yogyakarta, dan akhir bulan kemarin menjalani sesi kedua dengan tema glamor. Namun, sudah tiga puluh menit menunggu, Ara tak jua mendapati mobil kekasihnya datang menjemput. Dia semakin resah saat puluhan panggilan telepon yang dilakukan juga tak ada jawaban.


"Huh!" Ara mendengkus. Berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya dengan perasaan tidak tenang.


Dari arah dalam, ibunya datang, lalu menengok ke arah jam dinding. "Nggak jadi pergi?"


"Jadi, tapi, Mas Darma belum ke sini. Ditelepon juga nggak diangkat." Ara menjatuhkan bokongnya di kursi. Kembali mengecek ponselnya untuk yang kesekian kalinya, dan nihil.


"Telepon yang lain coba. Udah janjian 'kan sama tukang fotonya?"


"Telepon ibunya?"


"Ya, terserah. Adiknya juga boleh."


Mendengar ibunya menyebut kata adik, Ara hanya bisa meringis. Pasalnya, dia dan Silvia memang masih amat sangat canggung. Beda kalau ketemu dengan Bima, dia bisa jauh lebih santai.


"Udah belum?" Bu Ata terlihat tidak sabar.


"Iya, ini mau." Ara tak punya pilihan selain menelepon calon ibu mertuanya.


"Halo, Ara." Suara Selly terdengar setelah dering ketiga.


"Halo, Tante. Maaf, aku mau tanya, Mas Darma ada di rumah nggak, ya?" tanya Ara penuh kehati-hatian.


"Oohhh ... Darma! Baru aja berangkat ke rumah kamu. Maaf, ya, Ra, tadi Tante ikut car free day. Nggak inget kalau harus bangunin Darma. Maaf, ya. Kamu nunggu lama, ya?"


"Enggak, kok, Tante. Ya, udah, aku tunggu Mas Darma-nya."


"Oke. Semoga lancar semuanya, ya."


"Iya, Tante."


Dua puluh menit setelah panggilan itu dimatikan, Darma menampakkan batang hidungnya. Dengan wajah tanpa dosa, lelaki itu menampilkan senyuman lebar di depan Ara.


"Nyebelin!" ketus Ara.


"Iyaaa ... maaf. Tadi malem diajak main PS sama Bima sampai pagi terus mama bukannya bangunin malah gegayaan ikut CFD."


"Ya, bagus, dong. Kan sehat, kok, malah dibilang gegayaan." Lagi Ara mengomel.


"Iyaaaa ... belain aja terus mertuamu."


Ara kontan memalingkan wajah. Menahan senyum malu-malu yang enggan ia tunjukkan di depan Darma. Kenapa mudah sekali bagi Darma mengatakan hal-hal yang menyangkut status semacam calon istri dan mertua? Batin Ara berteriak. Kan, jadi malu sampai-sampai Ara bisa merasakan hangat yang merayap di wajahnya.


"Cie, malu, ya? Pipinya merah, tuh." Darma menatap Ara dengan jarak yang lebih dekat.


"Apaan, sih. Yuk, lah, berangkat." Ara menarik lengan Darma tak sabaran.


"Eh, belum pamitan, Ra."


"Pamitan sama siapa? Tembok? Nggak ada orang di rumah. Ibu baru aja pergi nggak tau ke mana." Ara terus menarik tangan kekasihnya sampai tiba di samping mobil.


"Iya, iya. Galak banget, sih. Lagi PMS, ya?"


"Iya," jawab Ara asal.


"Yang bener?" tanya Darma serius sampai tangannya yang hendak membukakan pintu mobil pun gagal.

__ADS_1


"Kenapa emang?" Pandangan Ara menelisik tajam.


"Nggak, nggak apa-apa. Yuk, jalan. Cari makan." Kali ini Darma benar-benar membukakan pintu.


Lagi dan lagi Ara mengomel sembari dirinya mendudukkan tubuhnya di jok mobil. "Udah telat, lho, Mas. Ngaco kamu."


"Telat dikit, udah nggak apa-apa. Sama aku, mah, santai." Darma mengedipkan sebelah matanya.


......................


Gara-gara Darma yang terlalu banyak mau perihal makanan yang ingin dimakan, mereka baru tiba di studio foto setelah jam makan siang. Memang benar sang fotografer dan yang lainnya—seperti make up artist, hair stylist, dan fashion stylist—tidak masalah. Namun, yang membuat Ara gondok setengah mati adalah karena alasan yang diberikan Darma bahwa mereka telat lantaran dirinya sakit perut.


"Oke, siap?" tanya fotografer bernama Indra yang ternyata juga masih berteman baik dengan Darma.


Calon pengantin itu mengangguk, lalu sesuai arahan sang fotografer mereka berganti-ganti pose.


"Mau pose yang agak hot nggak, Bro?" tanya Indra.


"Bakso kali, ah," jawab Darma seadanya.


Kendati demikian, mereka tetap menurut saat Indra meminta seorang fashion stylist untuk membuka kancing teratas kemeja putih oversize yang dipakai Ara, lalu menariknya ke samping hingga menampilkan bahu mulus gadis itu.


Dan, ya! Pada akhirnya pose di mana Darma mencium bahu telan*jang Ara dari belakang menjadi foto terfavorit bagi lelaki itu. Sementara bagi Ara sendiri, ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya setiap kali melihat pose di mana Darma mendongakkan kepala, memperlihatkan jakunnya yang menonjol, dan Ara diminta untuk menyentuhnya.


"Sebelum pulang, aku ajak kamu ke suatu tempat dulu, ya, atau mau makan dulu?" tanya Darma pada Ara begitu mereka keluar dari studio.


"Ke mana dulu?"


"Ada, lah. Kamu udah laper?"


Ara mengangguk. Ini masih jam empat, tapi perutnya sudah lapar lagi. Mungkin lelah sehabis bergaya di depan kamera. "Makan dulu, ya."


"Masih jauh, Mas?"


"Sebentar lagi. Capek, ya?"


"Nggak, kok." Ara menjawab jujur. Ya, mau selelah apa pun dirinya sekarang tak masalah sebab sejak dua minggu yang lalu ia secara resmi sudah mengundurkan diri bersamaan dengan tersebarnya undangan pernikahannya dengan Darma.


Kaget tentu saja. Mereka yang satu divisi dengan Ara melongo mendapat undangan dari rekan kerja yang selama ini notabenenya jomlo.


Darma membelokkan mobilnya, melintasi jalanan yang menurun kemudian berhenti.


"Ini tempat apa, Mas?" Dengan kening berkerut Ara bertanya melihat sebuah gazebo yang sangat sederhana di sisi kirinya.


"Turun biar tahu."


Ara mengedikkan bahu, lalu membuka pintu mobil. Semilir angin yang berasal dari tanaman kamboja menyambutnya. Ia terkesiap melihat sebuah pemakaman luas terpampang di depan mata.


Tanpa berkata, Darma sudah menggandeng tangan Ara memasuki pemakaman. Lelaki berkaus hitam itu sempat berhenti begitu tiba di area tengah. Matanya mengedar, lalu kembali melangkah sesudah menemukan sebuah makam dengan nisan bertuliskan "RATNA WIDJADJA".


Ara menelan ludah. Kepalanya menoleh dan melihat Darma sudah siap untuk berjongkok. Ara mengikutinya dan dengan suara hampir tertelan ia memanggil, "Mas ...."


Darma mengangguk. "Ini makamnya oma."


"Harusnya tadi bawa bunga ke sini."


"Biasanya sebelum belokkan tadi banyak yang jual bunga. Mungkin karena udah sore, penjualnya udah pada pulang."

__ADS_1


Ara mengangguk singkat.


"Ra ...," panggil Darma seraya menyelipkan rambut Ara yang menutupi wajah akibat tertiup angin.


"I-iya, Mas?"


"Maaf ... aku minta maaf atas nama oma. Maaf karena oma pernah nyakitin kamu. Tolong, maafin, ya, Ra," kata Darma. Suaranya serak, matanya sudah memerah.


Lagi-lagi Ara mengangguk. "Udah aku maafin."


"Oma memang sudah seperti itu sejak dulu. Keras. Apa yang menjadi keinginannya mesti terlaksana." Darma memulai ceritanya. "Tapi, mungkin ada satu keinginan dia yang nggak kesampaian karena sudah lebih dulu dipanggil."


"Apa itu?" tanya Ara lirih.


"Lihat aku menikah," jawab Darma dengan segaris senyum yang tampak dipaksakan. "Aku memang kadang marah ke oma, tapi aku akui, aku mungkin nggak akan jadi Darma yang sekarang kalau nggak ada dia. Kamu tahu sendiri keluargaku. Papa punya istri lagi. Mama sibuk marah-marah ke papa sambil ngurusin Silvia yang waktu itu masih bayi. Aku ... nggak ada yang perhatiin aku, kecuali oma."


"Biar pun oma nggak lihat Mas Darma menikah, tapi aku yakin oma seneng karena kamu nurutin kemauan dia untuk lanjutin kuliah." Ara menyunggingkan senyum, kemudian mengusap bahu Darma pelan.


"Dan aku juga yakin sekarang oma sudah tahu kalau cucu kesayangannya ini nggak salah pilih perempuan yang cantik, pintar, dan pekerja keras yang sekarang ada di depanku."


"Gombal." Ara mencibir.


"Aku mana berani bohong di depan oma."


"Hmmm ... iya, deh. Bersihin, yuk."


Darma mengangguk.


Mereka lantas membersihkan daun kering yang mengotori makam Oma Ratna, dilanjutkan dengan memanjatkan doa sebelum akhirnya meninggalkan area pemakaman tersebut.


Keduanya sampai di rumah Ara saat hari sudah berganti malam.


"Mas ...," panggil Ara begitu tunangannya mematikan mesin mobil.


Darma baru menoleh dan belum sempat mengatakan apa-apa saat tiba-tiba saja Ara memeluknya.


"Nggak salah 'kan aku pilih kamu jadi suamiku? Aku sayang dan percaya sama kamu, Mas."


Merenggangkan pelukannya, Darma lantas berkata, "Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu? Kamu ragu sama aku?"


Ara menggeleng. "Aku cuma takut aja."


"Aku juga sayang benget banget banget sama kamu, Ra. Aku pasti berusaha buat bahagiain kamu. Jangan takut, ya. Ke depannya, kita hadapin semua sama-sama, oke?"


Ara manggut-manggut disusul air matanya yang jatuh membasahi pipi. "Satu minggu lagi," katanya parau.


"Sampai ketemu minggu depan." Darma mengecup kening Ara lama. "Yuk, turun. Aku pamitan dulu sama bapak dan ibu untuk yang terakhir kali sebagai tunangan kamu."


Ara tersenyum, tapi anehnya air matanya semakin mengalir deras. Belum pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. Bahagia karena sebentar lagi bisa bersatu dengan pria yang dicintainya, tapi di satu sisi juga sedih karena nanti tidak lagi tinggal serumah dengan orang tuanya.


.


.


.


🗣️: Tiga bab lagi tamat. Ada yang mau bonchap?

__ADS_1


📢: Enggak, Thor. Makasih


🗣️: Ya, udah. Aku juga cuma bercanda


__ADS_2