Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Ashila Wants Baby


__ADS_3

Tiga tahun kemudian .....


"Shilaaaa ... Ashilaaaa ...."


Teriakan itu menggema di salah satu rumah berlantai dua yang berada di kawasan elite.


"Shilaaaa ... Ashila, di mana, ya?" Kembali teriakan seorang ayah yang memanggil anak perempuannya terdengar nyaring. Darma mesam-mesem. Pura-pura tidak tahu jika putri semata wayangnya yang sebentar lagi genap berusia empat tahun sedang bersembunyi di balik gorden.


Merasa puas bermain-main, pria itu secara tiba-tiba membuka gorden tempat persembunyian putrinya. "Hayoo ... ketahuan!"


"Aaaaaaa ...." Ashila langsung memekik saat ayahnya berhasil menemukannya dan kini sudah menggendongnya serta menciumi ketiaknya. "Papi geliii ... udah, udah."


Darma baru menghentikan keisengannya saat anaknya sudah hampir menangis. "Cape nggak?"


"Haus. Minum, Papi."


"Oke, tunggu sini, ya." Darma mendudukkan putrinya di sofa depan TV, sebelum kemudian pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.


Di sana ada istrinya yang sedang memasak ditemani oleh Bi Marni.


"Cari apa, Mas?" tanya Ara melihat suaminya kebingungan di depan kabinet.


"Botol minumnya Shila."


"Oh, masih di sterilizer belum aku ambil."


Darma mengangguk, tapi sebelum dia menuju alat yang dimaksud istrinya, ia lebih dulu mendekati perempuan itu. "Masak apa, sih? Baunya enak banget."


"Aku bikin dimsum. Resep yang kapan hari dikasih Keyla. Susah juga ternyata bikinnya terus lama."


"Enak langsung makan, ya," kata Darma diiringi kekehan.


Ara menengok, lalu tersenyum. "Iya, hahaha ...."


"Kapan-kapan beli aja kalau mau. Nggak usah bikin. Capek nanti kamu."


"Cape, tapi seneng," kata Ara yang mulai memasukkan dimsumnya untuk dikukus.


"Hmm ... iya. Kamu juga seksi kalau masak. Rambutnya diikat tinggi gini." Darma merapatkan tubuhnya. Mendaratkan kecupan singkat di tengkuk dan pipi Ara.


"Mas, jangan gini, ih, ada Bi Marni." Ara menyikut tubuh suaminya.


"Biarin. Cium istri sendiri masa nggak boleh, Bi." Darma malah mencari pembenaran.

__ADS_1


Bi Marni tersenyum sekilas. "Ya, boleh, dong. Itu namanya sayang."


"Tuh, denger, nggak?"


Ara berdecak kesal. "Iya, tapi nggak di sini. Nggak pas masak juga."


"Ooo ... terus maunya di mana? Di kamar?" Darma makin senang untuk menggoda.


Wajah Ara sudah merona. Mirip kepiting yang tadi malam mereka makan. "Sana! Pergi, nggak?! Aku mau ngambil ayam yang tadi aku panggang. Mas Darma ke sini 'kan buat ambil botol minum."


"Papiiiiiii ... mana minumnya?"


"Tuh, dipanggil sama bos kecil!" Ara segera menyingkir dari hadapan suaminya, mengecek ayam yang semestinya sudah matang sejak lima menit yang lalu. Sementara Darma dengan bibir manyun mengambil botol minum, mengisinya dengan air, kemudian enyah dari dapur.


"Papi lama! Shila 'kan mau lihat TV." Anaknya langsung protes setibanya Darma di sana.


Darma mengembuskan napas lelah. Wajah Ashila boleh mirip dengannya, tapi sifatnya itu Ara sekali. Manja, gampang ngambek, dan tidak sabaran. "Iyaaa. Nih, minumnya," katanya, lalu menyalakan TV.


Selama dua puluh menit, Ashila diam menonton kartun Sofia the First. Selama itu pula, Darma sibuk dengan ponselnya. Perhatian ayah dan anak itu teralihkan begitu wanita yang menjadi pusat kehidupan mereka datang dan menyuruh untuk makan siang.


"Sayang, makan, yuk!" panggil Ara kepada suami dan anaknya.


"Makan sini," pinta Ashila.


"Nggak. Kalau makan, ya, harus di meja makan. Baru nanti lanjut nonton TV lagi."


"Ashila harus nurut, ya, sama Mami. Lagian filmnya masih lama, kok, itu. Janji, deh, hari boleh nonton sepuasnya."


"Shila nulut, tapi habis makan pelgi ke taman." Ya, selain sifatnya yang mirip Ara. Herannya di antara banyaknya mainan Ashila itu paling tidak ada bosannya untuk pergi ke taman yang terdapat ayunannya.


Darma berusaha menyenangkan putrinya dengan membelikan ayunan yang kini ditaruh di halaman belakang, tapi nganggur. Iya! Anaknya tidak mau main ayunan di rumah. Pokoknya maunya yang di taman.


"Kan hujan, Sayang. Tuh, lihat masih gerimis. Nanti pilek." Ara menunjuk rintik air yang masih betah membasahi tanah sejak masih pagi.


"Tapi, Papi bilang kalau udah pulang mau ajak Shila. Kata Miss Indah itu namanya bohong." Ashila menunjukkan raut kesalnya.


Darma menggaruk kepalanya, pusing. Dia memang menjanjikan untuk pergi ke taman sepulangnya dari Surabaya, tapi siapa yang tahu jika hujan turun dengan sangat awet hari ini.


"Besok sebagai gantinya kita makan pizza sama es krim. Oke? Sekarang Shila makan dulu terus nanti nonton lagi atau ... mau main sama Papi?" tawar Darma dengan wajah cerah, meski dalam hatinya ia berharap anaknya lebih memilih tidur siang.


"Shila nggak mau nonton. Shila juga nggak mau main sama Papi. Shila bosen."


"Terus Shila mau apa?" tanya sang ibu.

__ADS_1


"Shila mau bayi."


Darma dan Ara kontan saling melempar pandang dengan mata melebar.


"B-bayi?" tanya Darma masih tertegun.


"Bayi yang kayak punya Kalan."


Kalan atau Kalandra itu anaknya Aldo dan Imelda. Minggu lalu mereka berkunjung ke sana karena Imelda baru saja melahirkan anak kedua yang lagi-lagi berjenis kelamin laki-laki.


"Kenapa? Kenapa Shila pengen punya bayi?" Kali ini Ara yang bertanya.


"Om Aldo bilang nanti bayinya besal telus bisa jadi temen main kalo di lumah. Kalau Shila punya 'kan jadi nggak bosen. Shila mau bayi, Mami."


Ara hanya mengulas senyum tipis. Sudah banyak orang bertanya padanya akan menambah momongan, tidak terkecuali keluarganya dan keluarga suaminya. Dan saat itu pula Ara akan menjawab, "Nanti dulu."


Namun, bagaimana jika hal itu kini bukan lagi pertanyaan, melainkan sebuah keinginan buah cintanya bersama Darma?


"Nanti Papi cariin bayi buat Shila." Pernyataan terbodoh seorang Darmasena.


"Om Aldo bilang bayi itu dali pelut Tante Imelda yang besal telus nanti kelual bayi. Jadi, pelut Mami halus besal dulu. Tapi, kenapa pelut Mami nggak pelnah besal?"


"Karena Mami rajin olahraga," jawab sang ayah.


"Kalau gitu Mami nggak usah olahlaga bial pelutnya besal telus nanti ada bayinya."


Darma menyunggingkan senyum tipis. "Iya. Sekarang yang paling penting Shila makan dulu. Sini Papi gendong."


Ashila mendekat, lalu naik ke gendongan ayahnya. "Tapi, nanti halus ada bayi, lhoh, ya."


"Iya. Nanti Papi cariin."


"Bukan cali, tapi dali pelut Mami!"


"Iya, Sayang. Iya." Darma mengukir senyum. Sebelum melangkahkan kaki, ia menoleh kepada istrinya yang masih mematung di tempat. Darma mengulurkan tangan kanannya yang bebas, meminta Ara untuk menggenggamnya. Sebuah anggukan kepala juga ia berikan. Darma tahu bahwa istrinya resah dengan permintaan anaknya yang sangat di luar dugaan. Namun, ia sendiri bisa apa?


"Nggak usah terlalu dipikirin. Nanti Shila juga pasti lupa," bisik Darma sebelum akhirnya mereka tiba di meja makan.


Ara mengangguk pelan, meski hatinya tidak yakin.


.


Cape banget nulis dialog cadel 🌋🌋🌋🌋

__ADS_1


Yang kangen Elang sabar, ya, nanti dia nongol kok


Komen gengs! Kalau nggak komen aku ngambek 🔪🔪


__ADS_2