
Darma membukakan pintu untuk Ara. Gadis itu hanya diam dan menurut, dan itu cukup membuat Darma senang. Setengah berlari ia mengitari mobil hingga akhirnya duduk di jok belakang kemudi.
Baru ketika mobilnya memasuki jalan protokol yang masih cukup ramai, Darma membuka suara, "Kenapa gampang banget buatmu bilang kalau hubungan kita udah selesai?"
"Karena memang itu yang semestinya terjadi," jawab Ara dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa kamu tahu apa yang aku bilang setelah aku ngambil tiket pesawat itu?"
Kali ini Ara menolehkan kepala. Ia menatap tak percaya lelaki yang fokusnya tertuju pada jalanan. Darma pikir dia sekuat apa sampai sanggup mendengar omongan Oma Ratna hingga selesai?
"Oke, fine." Darma mengangguk paham. "Biar aku kasih tahu kamu," lanjutnya sejenak menatap Ara dengan pandangan sulit diartikan.
Siang itu, sesaat setelah Darma memutuskan untuk mengambil tiket pesawat yang ditujukan padanya, dia dengan lantang berkata, "Baik, aku akan pergi, tapi bukan berarti aku bakal ninggalin Ara. Sampai kapan pun dia akan menjadi pilihanku, kecuali dia sendiri yang milih buat pergi."
Di tempatnya duduk, raut wajah Ratna tampak begitu tenang. Wanita tua itu bahkan masih bisa mengulas senyum tipis. Tentu saja, hal itu tak luput dari ekor matanya yang menangkap kepergian Ara dari rumah Wirasena, putranya, dengan wajah berhiaskan air mata.
__ADS_1
"Ya, terserah apa katamu, Dar. Sekarang kamu kemasi semua barang-barang yang mau dibawa, biar Oma bantu sekalian." Ratna benar-benar tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Darma karena ia yakin sekali kalau setelah ini gadis yang tidak ia inginkan sudah pasti akan menjauhi cucunya terlebih dahulu.
"Sepertinya oma satu-satunya orang yang sadar kalau kamu udah sampai ke rumahku waktu itu, makanya dia pakai kesempatan itu buat hancurin hubungan kita." Tanpa Ara ketahui, cengkeraman Darma pada setir mobil menguat. Tak dapat dipungkiri, meski orang yang sudah berbuat demikian padanya telah tiada, tapi rasa kesal itu belum juga berkurang setiap kali ia mengingatnya.
"Aku mengemasi barang-barangku, terus kita makan malam dan lanjut berkemas lagi. Sampai akhirnya Oma pulang, di situ aku baru inget kamu. Aku langsung cek hapeku dan yeah ...." Darma mengembuskan napas panjang. Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih rileks saat mobil berhenti di lampu merah. "Kamu tahu apa yang aku lakukan setelah baca chat kamu yang banyak itu?"
Walaupun sudah timbul sedikit penasaran di dalam hatinya, tapi Ara masih enggan membuka mulut. Jadilah, ia hanya menggeleng pelan.
"Aku langsung pergi ke rumah kamu. Di jalanan aku kayak orang gila apalagi setelah melihat kue ulang tahun di meja kecil depan rumah. Aku chat kamu dan terkirim, tapi nggak dibaca. Kenapa? Aku yakin waktu itu kamu belum tidur." Darma memelankan laju mobilnya. Jalanan yang sudah sepi membuat perhatiannya kini bisa lebih banyak tertuju kepada Ara.
"Aku bener-bener stress saat pulang tanpa hasil apa-apa, dan semakin stress saat mau berangkat ke bandara ternyata nomor sama medsosku udah diblokir sama kamu." Darma menyugar rambutnya frustrasi. Dia tahu Ara hancur, tapi tidak tahukah gadis itu kalau ia juga sama hancurnya? Atau mungkin malah jauh lebih parah?
"Dan bodohnya aku saat di sana, aku belajar mati-matian biar cepet lulus. Biar bisa cepet-cepet ketemu kamu, tapi kemarin saat kita benar-benar dipertemukan lagi kamu bilang hubungan kita selesai." Darma tertawa. Tawa yang entah mengapa terdengar menyakitkan bagi Ara.
Gadis itu mengangkat wajahnya, dan memberanikan diri untuk menengok ke arah Darma. Adu pandang pun tak terelakkan. Tatapan rasa bersalah Ara dan sorot mata kecewa Darma bertemu dalam satu garis lurus.
__ADS_1
"Apa segitu kecewanya kamu karena aku milih buat ngambil tiket itu?" tanya Darma dengan mata memerah. "Kalau iya, harusnya kamu tahu kalau aku jauh lebih kecewa, Ra. Kenapa aku harus memilih antara kamu atau keluargaku kalau di saat bersamaan aku bisa merangkul kalian?"
Pada akhirnya, pertahanan Ara jebol. Tangisnya dalam sekejap sudah memenuhi seisi mobil. Ara merutuk dalam hati karena keegoisannya selama ini.
"Sebagai anak pertama kita sama-sama tahu seberapa berat beban yang harus dipikul." Lagi Darma berkata sambil memalingkan wajah agar tak melihat wajah Ara yang sudah sembab. Melihat perempuan yang disayangi menangis adalah kelemahannya, dan Darma tak ingin hatinya goyah sebelum semua uneg-unegnya dikeluarkan sebab dia juga cukup kecewa dengan sikap yang diambil Ara setelah sekian tahun mereka tak bertemu.
"Kamu yang mengorbankan kesempatan kuliahmu supaya usaha orang tuamu tetap jalan. Begitu juga denganku ... harus mengorbankan kamu demi keluargaku, tapi ... apa kita benar-benar mengorbankan itu? Kita hanya menundanya. Toh, pada akhirnya kamu tetap kuliah. Dan aku, aku tidak pernah benar-benar melepaskan kamu. Aku hanya sedikit mengendurkan tali yang ada di antara kita agar saat aku tak ada kamu tidak tercekik ketika harus melangkah melewati jalan lain."
"Empat tahun." Dengan suara hampir tertelan, Ara akhirnya mampu berkata. Jika benar Darma memperjuangkannya, mengapa laki-laki itu meninggalkannya dalam kurun waktu yang cukup lama? Bukankah S2 itu bisa selesai hanya dalam waktu dua tahun?
"Kenapa bisa selama itu kalau di sana kamu bilang berjuang mati-matian supaya bisa cepat pulang ke sini?" tanya Ara meminta kejelasan.
"Kamu mau tahu?" balas Darma ragu.
"Ya, aku ingin tahu semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi."
__ADS_1