Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Diantar Pulang Lagi!


__ADS_3

"Permisi, Kak, ini pesanannya." Seorang pramusaji yang mengantarkan makanan pesanan Darma memecah ketegangan yang baru saja tercipta.


Sebelum pramusaji itu menaruh makanan di meja, Darma yang mulai memahami situasi, lantas berujar, "Bisa di-take away aja nggak, Kak, makanannya?"


"Bisa, Kak, bisa."


"Oh, ya, udah. Tolong di-take away, ya. Saya bayar sekalian." Darma mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang.


Setelah pramusaji tadi berlalu, Elang yang sejak tadi terdiam mencoba membuka suara. "Tolong, dengerin aku dulu, Ra. Aku bisa jelasin semua ini," katanya memelas.


Ajeng yang masih setia berdiri di samping Elang tak sedikitpun melepaskan tatapannya dari Ara. Gadis itu tidak sabar menunggu setiap kata yang akan keluar dari mulut Ara. Sedangkan Darma hanya memasang wajah datar melihat pasangan kekasih di depannya yang kini terlihat seperti salah satu adegan di FTV yang sering ditonton asisten rumah tangganya.


Dengan cepat Ara menarik tangannya ketika Elang secara tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. "Buat apa?" Ara memandang datar Elang. "Nggak ada gunanya!" desisnya penuh penekanan.


Merasakan dadanya kian bertambah sesak karena kekecewaannya yang begitu mendalam, Ara secepat kilat menyambar tas serta tote bag-nya, lalu keluar dari restoran tempatnya berada.


Hanya selang beberapa detik, pramusaji kembali menghampiri Darma untuk menyerahkan makanan yang tadi serta kembalian uang, yang mana membuat laki-laki itu bernapas lega. Tanpa mengacuhkan dua orang yang masih saja mematung, Darma berlari mengejar Ara.


"Ara!" Elang berseru. Dia juga ingin mengejar Ara. Namun, Ajeng yang sedari tadi mengulum senyum tentu saja menahannya.


"Lang, Nia sama suaminya pasti udah nunggu."


"Tapi, aku harus ngejar Ara, Jeng." Nada bicara Elang naik satu oktaf.


Ajeng menggeram rendah. "Kamu lupa kata-kata ibu kamu tadi sebelum kita berangkat?" Ia mengingatkan. Kali ini dengan senyuman culas yang tercetak di bibir merahnya.

__ADS_1


"****!" Elang mengumpat dalam hati.


Untuk kali ini saja, izinkan dia durhaka kepada ibunya karena mengingat kejadian tadi siang saat dirinya sudah tampil rapi dan hanya tinggal memakai sepatu. Namun, ibunya tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan berkata bahwa dia harus menemani Ajeng bertemu Nia, teman SMA mereka, yang saat ini sudah pindah ke Palembang dan kini sedang pulang kampung.


"Aku nggak bisa. Aku udah janji sama Ara mau nemenin dia beli buku," tolak Elang. "Ibu, nggak lupa 'kan kalau sebentar lagi Ara mendaftar kuliah." Ia berharap dengan mengatakan itu ibunya berhenti mendukung Ajeng untuk mendekatinya.


Dalam hatinya, Rini menggerutu. Selain ingin memiliki menantu yang berpendidikan tinggi, dia juga ingin memiliki besan yang kaya raya, dan tentu saja Ajeng adalah pilihan yang tepat mengingat gadis itu adalah anak seorang jaksa. Rini merasa tidak selevel dengan keluarga Ara yang hanya memiliki sebuah toko kelontong kecil sebagai sumber penghasilan, sementara dirinya adalah istri dari seorang kepala dinas di salah satu lembaga pemerintahan.


"Lang ...."


Panggilan itu membuat ibu dan anak yang tengah bersitegang sontak menolehkan kepala. Dilihatnya Ajeng yang kini melangkah memasuki ruang keluarga rumah mereka.


"Maaf kalo aku lancang, tapi aku udah bilang ke Nia kalau kamu juga bakalan ikut. Kali ini aja, Lang. Kapan lagi coba ketemu temen nongkrong waktu SMA," ucap Ajeng harap-harap cemas.


"Ajeng bener." Rini membela. "Kalau beli buku 'kan bisa kapan aja. Lagian kamu kenapa, sih, Lang, ketus gitu sama Ajeng. Kamu lupa, ya, kalo orang tua Ajeng yang dulu bantuin kita waktu ayah masuk rumah sakit."


Dengan napas terengah-engah dan air mata yang semakin mendesak keluar, Ara yang kini sudah keluar dari Solo Square tampak kebingungan mencari di mana sepeda motornya. Dia harus segera pergi dari tempat itu sebelum tangisnya terdengar dan menarik perhatian orang lain. Beruntungnya, Ara yang saat ini sudah mulai terisak ditarik oleh seseorang dan memaksanya masuk ke sebuah mobil.


"Kamu aman di sini," kata Darma disusul helaan napas panjang. Ia sampai pontang-panting tadi mencari Ara.


"Thanks." Suara Ara yang bergetar diiringi lelehan air mata membuatnya sontak memalingkan wajah. Dia tidak ingin Darma melihatnya menangis.


"Aku masih ada urusan. Kamu di sini aja dulu nggak papa."


Ara hanya mengangguk. Begitu pintu mobil ditutup dan ia melihat Darma telah menjauh, tangis gadis itu pecah memenuhi seisi mobil. Hatinya sakit bukan main. Elang menuduhnya bermain api, tapi nyatanya laki-laki itu sendiri yang melakukannya.

__ADS_1


Ara menghentikan tangisnya dan menghirup napas panjang kala otaknya sudah bisa diajak berpikir. Mengapa ia harus heran mengingat keduanya pernah menjalin kasih, ditambah Bu Rini yang seakan menggadang-gadang Ajeng agar menjadi menantunya.


Di saat pikiran Ara berkecamuk karena asumsinya sendiri, pintu mobil tiba-tiba dibuka. Gadis itu menjengit hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Minum buat kamu." Darma menyerahkan satu cup es cokelat.


Sejatinya, pria itu sudah berada di luar mobil sejak lima belas menit yang lalu karena "perlu" yang ia maksud hanyalah membeli minuman untuk Ara. Namun, saat dia masih mendengar isak tangis saat dirinya kembali, Darma memutuskan untuk menunggu hingga tangis gadis yang duduk di dalam mobilnya mereda.


"Udah mendingan? Aku anterin pulang, ya," kata Darma seraya menghidupkan mesin mobil.


"Eh, enggg ...." Ara mendesis merasakan kepalanya berdenyut. Ini pasti karena terlalu lama menangis ditambah dia yang belum makan siang. "Nggak usah. Aku bawa motor," sambungnya sembari mengerjap-ngerjapkan mata.


"Kamu makan dulu aja, deh." Darma menyodorkan kotak berisi sushi yang sama sekali belum tersentuh. "Masalah motor, aku suruh orang aja buat bawa."


"Beneran nggak usah. Aku masih bisa, kok, bawa motor," tolak Ara lagi.


"Udah nggak papa aku 'kan—"


"Masih punya utang enam ratus ribu sama kamu!" potong Ara cepat.


Darma tertawa terbahak-bahak hingga sudut matanya berair. Laki-laki itu juga memegangi perutnya yang terasa kaku. "Aduh ... kayaknya diem-diem kamu ada dendam kesumat sama aku, ya?" katanya usai berhasil menghentikan tawanya.


Ara tidak menjawab. Ia lebih memilih menatap ke luar jendela daripada harus beradu pandang dengan Darma.


"Padahal aku tadinya mau bilang 'aku, kan, nggak tega juga biarin cewek naik motor dalam kondisi sakit'." Darma mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah kontak, lalu menyuruh orang di seberang telepon untuk segera datang menemuinya. Setelahnya, ia mengalihkan pandangan ke arah Ara, dan berkata, "Tunggu orangnya dateng, ya. Mana kunci motor kamu?" Ia menadahkan tangan.

__ADS_1


Ara tampak ragu. Jika dia pulang bersama Darma dan orang tuanya melihat pasti mereka akan menginterogasinya. Karena itu, sebuah syarat yang membuatnya seperti tidak tahu diri pada akhirnya Ara cetuskan. "Ta-tapi nggak papa, ya, nanti kalau udah deket rumah aku turun dari mobil dan bawa motor aku sendiri."


"It's okay. Tuh, orangnya dateng." Darma menunjuk seorang laki-laki yang baru saja turun dari ojek online, dan Ara pun menyerahkan kunci motornya.


__ADS_2