Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
How Time Flies


__ADS_3

Tak ubahnya para calon pengantin di luar sana, Darma dan Ara pun menjalani tradisi pingitan selama satu minggu. Mungkin terkesan sebentar, tapi bagi keduanya yang hampir setiap hari bertemu rasanya jadi seperti sewindu. Oke, itu mungkin terdengar lebay. Nyatanya, bagi Darma yang di hari pertama dibuat badmood setengah mati lantaran ponselnya disembunyikan oleh sang ibu kini sudah jauh lebih anteng mirip anak kucing. Yeah, memang siapa yang masih bisa pecicilan saat hari pernikahannya sudah di depan mata?


Di kamarnya yang bernuansa abu tua, lelaki itu duduk di tepian ranjang. Helaan napas beberapa kali terdengar sebelum kemudian ia menoleh kala mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Masuk."


Sang ibu muncul dengan sebuah botol beling di tangan kanannya yang Darma yakini sebagai multivitamin dan segelas air mineral di tangan kiri. "Minum vitamin dulu, Dar."


"Repot-repot, sih, Ma. Kan tinggal panggil aku buat turun. Biasanya juga gitu."


Selly tersenyum tipis. "Sengaja. Sebenarnya ini cuma alasan. Mama cuma pengen ngobrol berdua sama anak mama yang ternyata udah beneran gede."


"Maa ... apaan, sih!" Darma pura-pura bodoh dan langsung menoleh ke arah lain begitu mendapati mata ibunya berkaca-kaca.


Selly terkekeh. Ia pandangi anak sulungnya semakin dalam, dan itu sukses membuat Darma risih.


"Kalau mau lihatin aku terus mending keluar aja."


"Kamu nggak minta wejangan dari Mama?"


"Tiap hari juga dapat," sahut Darma kekeuh.


Selly menyunggingkan senyum, kemudian meraih lengan putranya agar menghadapnya. Wanita itu lantas memegangi kedua bahu Darma, dan berkata, "Mama nggak mau banyak omong, Dar. Mama cuma mau pesan kalau nanti kamu sudah jadi seorang suami. Jadilah, suami yang setia. Jangan kayak papamu. Cukup, cukup mama aja yang merasakan bagaimana sakitnya. Nggak dengan Silvia atau pun menantu Mama. Kamu tahu 'kan kalau Mama akan maju paling depan buat memerangi kamu kalau kamu macem-macem. Jangan, ya, Dar. Jangan sakitin Ara."


Darma mengangguk dengan wajah dan telinganya yang sudah merah. "Ma ...," panggilnya dengan suara menahan tangis.


Tanpa sepatah kata, Selly langsung memeluk putra sulungnya. "Kebahagiaan Mama adalah dengan melihat anak-anak Mama bahagia, dan bisa melihat kamu menikah adalah salah satunya," ungkap sang ibu diiringi usapan di punggung.


Di balik punggung ibunya, Darma berdeham untuk menghilangkan serak di tenggorokannya. Menarik napas panjang untuk menghentikan tangisnya, ia lantas mengurai pelukan itu. Dia tatap ibunya dengan raut gelisah. "Bisa nggak, ya, Ma, aku bahagiain Ara? Jagain dia kayak orang tuanya menjaga dia selama ini?"


"Bisa, harus percaya pasti bisa. Ya?"


Darma mengangguk. "Makasih buat semuanya, Ma."


"Kamu kayak sama siapa, Dar, Dar." Selly terkekeh sambil menghapus sisa air mata di pipi. "Pokoknya jangan terlalu maksain diri. Biarin aja semuanya berjalan apa adanya. Pelan-pelan kalian belajar buat lebih mengerti satu sama lain. Memahami sifat-sifat jelek yang masih disembunyikan waktu pacaran."


"Maaaaa ...."


"Kamu jangan marah ke Ara kalau dia ngomel gara-gara kamu susah dibangunin karena ya ... kamu emang senyebelin itu, Dar."

__ADS_1


"Maaa ... jangan-jangan Mama udah bocorin ke Ara, ya?"


"Yeah, kasih tahu tipis-tipis, lah, biar dia nggak kaget. Kamu udah siapin baju yang mau dibawa ke hotel?"


Darma cemberut, kemudian menggeleng. "Belum."


"Ya, udah, siapin. Yuk, Mama bantu." Selly bangkit berdiri, tapi tidak dengan putranya. "Dar!"


"Hapeku dulu mana?" Darma menadahkan tangan.


"Enggak! Besok 'kan udah bisa ketemu."


"Maaa ...." Darma menahan lengan ibunya agar tidak jadi melangkah. "Aku nggak ngapa-ngapain, kok. Cuma mau baca chat history-ku sama Ara."


"Enggak, ya, enggak! Cepetan berdiri. Telat, lhoh, nanti. Mama juga belum siap-siap. Belum siapin punya papa, punya Bima. Hadehhhh, pusing," keluh sang ibu yang ujung-ujungnya berteriak memanggil putrinya. "Siiillll ... Silviaaaaaaa ...."


"Apaaaaaaa, Maaaaa?" Dari kamar yang yang berjarak dua ruangan dengan kamar kakaknya Silvia menyahut dengan tidak kalah kencang.


"Cek kamarnya Bima. Lihat dia udah siap-siap belum."


"Okeeeeee."


......................


Di kamarnya, Ara baru saja selesai mengemas pakaian serta barang yang hendak dibawa ketika ibunya menghampiri.


"Udah semua, Nduk? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Bu Ata sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang, disusul Ara beberapa saat kemudian.


"Nggak, Bu. Kan cuma sedikit, lusa juga aku pulang ke sini baru ke rumahnya Mas Darma."


"Terus bulan madu?"


Ara tersenyum dan mengangguk. "Iya."


"Nanti, sebelum berangkat bulan madu, ke sini lagi, ya, Ra?" pinta sang ibu.


"Iya, pasti. Mas Darma juga bilang begitu, kok."


Selanjutnya, Bu Ata membelai lembut rambut putrinya penuh sayang, dan dengan senyum paling meneduhkan ia berkata, "Doa Ibu selalu menyertaimu, Nduk."

__ADS_1


Mendadak Ara jadi melankolis. Detik berikutnya, ia sudah merangsek dalam pelukan ibunya. "Makasih, Bu. Maaf Ara belum bisa jadi anak yang bisa membanggakan dan membahagiakan Ibu."


"Kamu selalu bikin Ibu sama Bapak bangga." Bu Ata melirik suaminya yang sejak beberapa menit yang lalu berdiri di ambang pintu kamar Ara.


Pria paruh baya itu pun ikut terharu melihat istri dan anaknya berpelukan. Namun, itu tak menjadikannya untuk bergabung sebab bukan Pak Narto sekali mengungkapkan kasih sayangnya dengan tindakan fisik.


"Sopirnya Darma jadi jemput, Ra?" tanya Pak Narto membuat pelukan istri dan anaknya terlepas.


Ara mengusap matanya yang basah. "Jadi, mungkin sebentar lagi dateng," jawabnya melihat jam weker berbentuk kodok yang ada di nakas.


"Ya, sudah, kalau begitu Ibu juga siap-siap, ya?"


Ara mengangguk. Sepeninggal orang tuanya, ia masih duduk mengamati kamar yang setelah ini hanya akan menjadi kenangan.


"Mbak."


Panggilan itu membuat Ara menoleh. "Gus."


Gusti yang tadi berdiri di depan pintu kamar kakaknya mulai melangkah masuk.


"Ada apa?" tanya Ara bangkit berdiri. Walau demikian, ia tetap harus sedikit mendongak lantaran tinggi badannya kalah jauh dengan Gusti.


"Semoga pernikahannya Mbak Ara dan Mas Darma besok lancar, ya."


"Iya. Makasih, Gus."


Untuk beberapa saat kakak beradik itu hanya diam dan saling menatap. Ada binar kebahagiaan, luapan emosi, dan kesedihan di mata masing-masing.


Ara menitikkan air mata lebih dulu sebelum akhirnya ia merentangkan tangannya. Dengan cepat, Gusti menghambur memeluk kakak perempuannya. Dan setelah sekian tahun lamanya, tangis pemuda itu pecah. Ada rasa kehilangan, tapi ada pula rasa bahagia yang menyelimuti hatinya.


Ara pun tersedu-sedu mengingat setelah ini akan jarang sekali baginya bisa adu mulut lagi dengan adiknya, diam-diaman karena masalah sepele, dan berlomba siapa yang lebih cepat masuk kamar mandi saat pagi hari. Ah, mengingatnya membuat dadanya semakin sesak.


Dan, entah disadari atau tidak. Itu adalah pelukan pertama mereka setelah terakhir kali keduanya berpelukan saat Gusti mungkin masih balita.


How time flies so fast.


.


Jaga kesehatan ya gengs. Belum genap sebulan aku udah tepar dua kali #disiniakumerasajompo #ringkih #curhat

__ADS_1


__ADS_2