
Kembali dengan wajah pucat membuat Ara sukses diberondong pertanyaan oleh Mitha.
"Mukamu, kok, gitu? Kamu sakit, Ra? Apa laporannya salah? Atau kamu dimarahin?"
Gelengan kepala pelan Ara berikan sebagai jawaban. Walaupun setengah mati ia berusaha untuk biasa-biasa saja, tapi nyatanya sedari tadi matanya tak bisa untuk tidak jelalatan.
"Kantin, yuk. Kayaknya aku kecapean aja," ajaknya beberapa saat kemudian.
"Yuk, lah!" Mitha segera memasukkan barang-barang yang ada di atas meja ke dalam laci, tanpa ditata.
Ara mengantre di depan stand bakso dengan satu cup es teh manis yang sudah berada di tangan.
Ketika ia berbalik badan setelah menerima semangkuk bakso, lagi-lagi Ara mematung melihat laki-laki yang ia hindari, tapi di saat bersamaan juga ingin ia lihat sedang berjalan menuju mobil. Kafetaria kantor yang sekelilingnya dipenuhi kaca membuat mereka yang ada di dalam bisa melihat keadaan luar, begitu juga sebaliknya.
"Oy, ngalamun aja. Baksonya digondol kucing baru tahu rasa!" Mitha yang juga sudah mendapat makanan yang diinginkan membuat Ara terhenyak.
"Paling kucingnya yang pakai baju kuning," celetuk Ara melirik baju yang dipakai Mitha.
__ADS_1
"Haish! Nyebelin."
Ara hanya tertawa, lalu keduanya berjalan menuju meja yang masih kosong. Seperti biasa, suasana kafetaria tersebut tidak ramai juga tidak sepi mengingat beberapa karyawan selalu ada yang memilih makan di luar.
"Eh, Ra, itu, tuh, calon istrinya Pak Boss." Mitha mendadak heboh sampai-sampai bangkit berdiri.
Lengan Ara yang juga menjadi korban kehebohan otomatis membuat kuah bakso yang ada di sendok jadi tumpah. "Tumpah, nih."
"Tumpah dikit, elah. Cepetan berdiri kalau mau tahu."
Karena Ara pakai acara membersihkan tumpahan kuah bakso, jadilah saat ia berdiri sudah tak melihat orang yang dimaksud. "Mana? Nggak ada juga."
Ara mesam-mesem dibuatnya. Dia yang tidak melihat, tapi Mitha yang merasa rugi. Orang memang kadang aneh. Yang bukan urusannya terkadang yang paling bersemangat mengurusi, tapi giliran yang menjadi tanggung jawabnya malah malas-malasan melakukannya.
......................
Tak ubahnya Mitha, ibunya pun tak kalah cerewet sesampainya Ara di rumah dengan wajah lesu dan tubuh lemah.
__ADS_1
"Kamu sakit, Nduk?"
"Cuma kecapean dikit. Oh, ya, ini tadi aku beli makanan kesukaan Ibu." Ara mengangsurkan sebuah kantong plastik berukuran kecil yang isinya pisang goreng madu.
Bu Ata menerimanya dengan senyuman hangat. Kehidupan keluarganya saat ini sudah jauh lebih baik. Dia juga tidak lagi membantu suaminya di toko karena mereka sudah memperkerjakan dua orang karyawan. "Makasih, ya, Ra. Habis ini kamu langsung bersih-bersih terus makan, ya."
"Ibu ngapain, sih, pakai makasih-makasih segala. Kalau Ibu seneng, Ara juga senang. Mandi dulu, ya." Gadis itu balas menyunggingkan senyum, lalu meluncur ke kamar mandi.
Tidak seperti biasanya, malam ini sehabis menyantap makan malamnya, Ara langsung masuk ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya. Menarik napas dalam-dalam selama beberapa saat.
Sebenarnya lelah yang Ara maksud itu bukan badannya, tapi pikirannya. Pikirannya yang terus tertuju pada laki-laki yang kembali ia temui setelah empat tahun tidak bertemu. Hebat, ya, meski hanya beberapa menit melihatnya bahkan tanpa ada interaksi apa pun, tapi mampu membuat hatinya porak poranda.
Kembali Ara menegakkan tubuhnya. Berjalan menuju meja rias, ia membuka laci dan meraih sebuah kotak kecil, lalu mengambil isinya.
Sebuah memori card kini telah terpasang di ponselnya. Entah mendapat kekuatan dari mana, Ara kini dengan berani membuka galeri dan melihat satu per satu fotonya ... dengan Darma dulu.
Jemarinya terhenti pada foto waktu kencan pertamanya di mana dia dan Darma berfoto dengan latar belakang lampion. Ara tersenyum hambar menatapnya.
__ADS_1
Di sudut lain Kota Solo, sepasang mata juga kini tengah mengamati foto yang sama. Bedanya, bibir tipisnya mengukir senyum penuh pengharapan tentang apa yang terjadi setelah dirinya kembali dipertemukan dengan gadisnya.
"See you tomorrow, Arasellia."