
Lagi dan lagi Ara harus merasa tersisihkan sesampainya ia di depan dan bokongnya baru saja mendarat di sebuah kursi, seorang laki-laki bernama Aldo yang merupakan teman dekat Darma menghampiri mereka.
Entah apa yang keduanya bicarakan, tapi cukup berhasil membuat Ara seperti orang bodoh di tengah lautan manusia di kediaman keluarga Wirasena.
"Bima." Bahkan, ketika Ara memanggil putra bungsu keluarga itu, Darma sama sekali tak menoleh.
"Iya, kenapa?" Bima sempat melirik ke arah Darma, sebelum matanya sepenuhnya tertuju pada Ara.
"Bisa kasih tahu toilet di mana nggak?" Ya, toilet adalah tempat terbaik untuk sejenak menghindar dari rasa tak nyaman yang mendera.
Remaja itu segera menunjukkan di mana toilet terdekat berada, dan Ara pun kembali masuk ke dalam rumah. Menuju tempat yang mungkin membuat hatinya merasa sedikit lebih baik. Namun, nyatanya keputusannya salah.
Suara milik Ratna tertangkap indra pendengarannya. Yang mana membuat Ara memelankan langkahnya.
"Bisa-bisanya Darma bawa cewek kayak gitu ke rumah. Apa untungnya coba dia pacaran sama gadis itu?"
"Yang pasti Darma-nya suka sama Ara. Oma jangan mikir berat-berat. Lagian baru pacaran, belum tentu sampai nikah juga." Suara Imelda terdengar menyahuti.
"Yah, semoga saja, Mel. Oma berharap kamu yang nantinya nikah sama Darma. Biar keturunannya juga bagus karena lahir dari keluarga yang sama-sama mentereng. Kalau sama dia ... aduh, nggak bisa bayangin, deh."
Tak ingin mendengar kelanjutan obrolan dua wanita berbeda generasi itu, Ara yang merasakan sesak bukan main melangkahkan kakinya cepat.
Begitu memasuki toilet, ia langsung mendudukkan tubuhnya di atas kloset. Ingin menangis, tapi tidak bisa keluar air mata. Ara benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus bersikap setelah ini, dan ia pun menyadari kalau datang ke rumah ini adalah sebuah kesalahan. Ini bukan tempatnya. Dia tidak cocok ada di situ. Namun, biar bagaimana pun, mereka adalah keluarga Darma. Keluarga pacarnya.
Beberapa kali ia menekan tombol flush agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mungkin ada sepuluh menit ia berada di dalam, sebelum kemudian memutuskan untuk keluar mengingat Darma bisa saja mencarinya.
"Ara!"
Nah, benar, 'kan!
__ADS_1
Laki-laki yang rambutnya selalu rapi meski tidak disisir itu menghampiri dengan raut khawatir. "Kamu ke mana aja? Aku cariin dari tadi."
Ara berdecak dalam hati. Bukankah tadi Darma sibuk sendiri?
"Aku dari toilet, Mas. Maaf tadi nggak sempet bilang soalnya buru-buru."
Huh! Kenapa jadi aku yang minta maaf!
"Kamu baik-baik aja, 'kan? Muka kamu agak pucat gini. Mau istirahat aja di kamar?"
"Nggak, nggak!" Dengan cepat Ara menolak. "Bukannya istirahat yang ada malah dimodusin."
Darma tertawa. Padahal kalau Ara mau, dia sama sekali tidak keberatan untuk absen di acara ulang tahun ibunya dan menggantinya dengan memeluk pacarnya sampai puas. "Terus mau apa? Minum teh anget mau?" Ia menawari.
"Mau."
Setelahnya, mereka kembali ke depan, menyimak rangkaian demi rangkaian acara. Ara tak bisa fokus. Ucapan Ratna dan Imelda terus terngiang-ngiang di telinga.
"Ra."
Malam ini, untuk kesekian kalinya Ara tersentak.
Kening Darma mengerut, pandangannya menelisik heran. "Kamu kenapa, kok, tiba-tiba jadi diem gini? Tadi pas berangkat bukannya seneng-seneng aja, ya?"
"Ng-nggak. Nggak apa-apa, Mas."
Embusan napas pelan terdengar. Ara yang terlalu mudah dibaca ekspresinya membuat Darma tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Namun, jika Ara belum mau bercerita, dia juga tidak akan memaksa.
"Kita makan di belakang aja. Jangan di sini."
__ADS_1
"Kenapa? Nanti ada yang nyariin kamu, Mas."
"Biarin. Udah, yuk." Darma meminta Ara berdiri.
Gadis itu menurut saat Darma menggandengnya menuju tempat makanan berada. Mereka duduk di kursi panjang di taman belakang. Hening. Ara tak mau berucap apa pun usai menghabiskan makanannya. Dia hanya ingin pulang, tapi Darma sudah telanjur izin pada orang tuanya kalau mereka pulang terlambat.
"Kamu kenapa?" Secara tiba-tiba, Darma memeluknya.
Ara masih bungkam.
"Maaf, ya ...."
"Maaf buat apa?" Susah payah Ara bertanya demikian. Takut dirinya yang menahan tangis diketahui oleh Darma.
"Maaf tadi nyuekin kamu. Kamu marah, 'kan, gara-gara aku keasyikan ngobrol sama Aldo?"
"Nggak marah, kok."
"Bohong! Buktinya kamu nggak mau bales peluk."
Dengkusan pelan terdengar. Ara masih tak mau balas memeluk Darma sampai lelaki itu yang turun tangan untuk melingkarkan tangan Ara di pinggangnya.
"Kamu kalau ada yang nggak disukai, bilang, ya. Hubungan yang baik itu yang komunikasinya lancar. Aku kadang sibuk, kadang banyak pikiran. Jadi, kalau masih harus disuruh nebak-nebak ... apa kamu nggak kasian sama aku?"
Ara menengadahkan wajahnya, dan saat itu juga Darma menciumnya.
"Aku sayang banget sama kamu, Ra. Mau nikah sama kamu. Kamu yang terbaik. Yang paling penting buat aku." Ia mengeratkan pelukannya.
Bersamaan dengan itu setetes air mata Ara jatuh. "Aku juga sayang kamu, Mas."
__ADS_1