
Aroma alkohol tercium tajam di salah satu ruangan privat sebuah kafe yang diisi lima orang pria. Duduk di pojokan ditemani sebatang rokok yang terselip di jari telunjuk dan tengahnya, hanya sesekali Darma menyahuti keempat temannya yang sedang ngobrol ngalor-ngidul.
"Aldo sekarang cemen, ya. Nggak berani minum banyak," kelakar Joni yang sudah setengah mabuk.
"Kasihan Imelda nanti," balas Aldo tanpa rasa malu.
Hendri manggut-manggut paham. "Berarti Yovan bentar lagi juga gitu."
Yovan tak menanggapi. Lelaki berkumis tipis itu memilih untuk mengambil sebotol wiski dan meminumnya langsung.
Joni terkekeh. "Makanya gue nggak mau nikah."
"Kayak ada yang mau aja sama lo." Darma menimpali, lalu mengikuti jejak Yovan, menenggak wiski.
Sebuah botol hampir saja melayang mengenai kepala Darma kalau saja Aldo tak mencegah tangan Joni yang hendak melemparnya. Di antara lima orang itu, bisa dibilang Joni yang paling bobrok. Suka gonta-ganti pacar, check-in bersama perempuan, dan pernah melakukan tindak kekerasan ke salah satu mantan pacarnya. Kalau Aldo bilang, sih, "Dosa-dosa gue kalau dihitung itu cuma 0.05% dosanya Joni."
__ADS_1
Kembali Darma menenggak minumannya hingga tandas. Kendati sudah demikian, nyatanya pikirannya masih saja tertuju pada Ara. Ya, Darma memikirkan wanita itu, istrinya. Kenapa Ara mengulangi kesalahan yang sama? Kenapa Ara menyakitinya?
Darma terbatuk-batuk lantaran tersedak saat hendak meminum botol keduanya. "**!*!" umpatnya sambil menepuk-nepuk dada.
"Kalem, Bro, nggak usah buru-buru. Gue pesenin lagi kalau kurang." Yovan menepuk bahu temannya.
Darma yang merasa risih menyingkirkan tangan Yovan dengan kasar. Kini gantian asap rokok membumbung tinggi keluar dari mulut dan hidung lelaki itu. Darma sendiri lupa kapan terakhir kali ia merasa se-stress ini. Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Anj!ng! Gue mau balik sekarang!" seru Darma seraya bangkit berdiri, dan membuat yang lain cukup kaget. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Darma mencemaskan Ara. Agaknya pilihannya untuk pergi tanpa mendengar penjelasan istrinya adalah keputusan yang salah.
Darma meraih kunci mobilnya tanpa memedulikan ocehan teman-temannya yang meledak ataupun mengkhawatirkannya pulang dalam keadaan mabuk. "I'm not drunk!" katanya sambil mengacungkan jempol kanan.
Kondisinya yang sudah mengenaskan nyatanya tak menghalangi Darma untuk tetap menjalankan mobilnya menuju rumah. Pikirannya yang kini hanya dipenuhi oleh Ara dan Ara membuatnya lupa kalau kecelakaan di London beberapa tahun silam menjadikan fisiknya tak sekuat dulu. Darma menginjak pedal gas dalam-dalam dan alhasil ia lepas kendali dan membuat mobilnya menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan.
Di waktu bersamaan, Ara yang mengurung diri di kamar hingga ketiduran—setelah meminta Bi Marni meng-handle Ashila—terbangun dengan tubuh lemas dan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika berdiri darah sudah mengotori sprei tempatnya tidur dan masih mengalir dari pangkal pahanya.
__ADS_1
Ara langsung memegang nakas untuk menopang badannya yang seketika gemetar. Air mata telah mengaliri pipinya. Ara terisak dengan rasa takut yang teramat sangat terlebih kala menyadari bahwa ia seorang diri di kamar itu.
Ara ingin berteriak meminta tolong, tapi tubuhnya yang lemah membuatnya tak mampu untuk berucap. Karena tak mau mati konyol, pelan ia melangkahkan kakinya. Darah-darah itu menetes mengotori lantai marmer putih yang menjadikannya terlihat sangat kontras.
Napas wanita itu terengah-engah saat berhasil keluar kamar. Ara kembali menangis kala melihat anak tangga yang harus ia pijaki satu per satu demi bisa sampai di lantai satu untuk sampai di kamar Bi Marni. Satu-satunya orang di rumah itu yang bisa menolongnya.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Wajah Ara sudah sangat pucat mengingat darah yang keluar sangatlah banyak. Embusan napas panjang terdengar berkali-kali, tinggal beberapa langkah lagi ia sampai di kamar pembantunya.
Tubuh Ara merosot tepat di depan pintu. Tidak! Ara tidak pingsan. Ia masih sadar dan kini sedang menggedor-gedor kamar Bi Marni dengan sisa tenaga yang ada.
Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Bi Marni terkejut melihat majikannya terduduk di depan kamarnya. Namun, yang membuat matanya sukses melebar sempurna adalah ketika melihat darah berceceran di lantai.
"Non Ara, kenapa, Non?" tanyanya panik.
Ara hanya menggelengkan kepala dengan tangisannya yang makin kencang. Bi Marni ikut menangis melihatnya. Refleks, ia pun memeluk Ara.
__ADS_1
"Sa-saya panggil Pak Surip. Kita ke rumah sakit, ya, Non," katanya masih dalam posisi memeluk majikannya.
Ara hanya mengangguk-angguk. Merasa telah berhasil mendapatkan bantuan, ia tersenyum samar sebelum akhirnya pandangannya berubah gelap.