
Semua berjalan sesuai dengan apa yang Darma inginkan. Ara membuka mata dalam keadaan kamar sudah terang benderang oleh sinar matahari. Kekagetan tampak jelas di wajah ayunya. Keningnya mengernyit dalam kala tak menemukan ponsel dan jam weker yang harusnya berada di nakas. Satu-satunya cara agar ia tahu sudah jam berapa sekarang adalah bertanya pada laki-laki yang tengah duduk di sofa sembari memperhatikannya. Dan kalau matanya yang minus tidak salah lihat, sudut bibir pria itu justru terangkat.
Ara mengembuskan napas panjang sebelum dengan keraguan yang membelenggu, memberanikan diri bertanya, "Mas, ini sudah jam berapa?"
Darma menyalakan ponselnya, lalu menjawab, "Hampir jam setengah sembilan."
"Hah?" Ara melongo di tempat tidur. Otaknya nge-lag. "Shila? Sekolahnya?"
Buru-buru perempuan itu menyingkap selimut dan turun dari ranjang dengan niat menuju kamar anaknya. Namun, sebelum tangannya berhasil meraih gagang pintu, tangan lain yang lebih lebar menahannya.
"Shila udah berangkat sekolah. Kamu nggak perlu khawatir."
Ara makin tak mengerti mengapa bangun-bangun jadi membingungkan begini. Ini juga kali pertama ia bangun telat. Biasanya telinganya tak pernah absen mendengar alarm yang dipasang sebelum tidur. Ah, alarm! Tampaknya pagi tadi pengingat itu tidak membangunkannya, dan sekarang ponselnya juga entah di mana. Apa jangan-jangan ada maling masuk dan mencuri beberapa barang di rumahnya? Jika iya, mengapa Darma menunjukkan raut santai?
"Aku minta maaf udah bangun kesiangan." Ara tidak tahu kenapa justru kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Kamu nggak salah jadi nggak usah minta maaf. Lebih baik sekarang mandi karena setelah ini aku mau ajak kamu pergi."
"Kamu nggak ke kantor?" Wanita itu masih ingat kalau ini hari Senin.
"Libur sehari nggak bikin miskin, 'kan?" Darma tersenyum jenaka. Senyum yang rasanya sudah lama sekali tidak dilihat Ara. Melihat istrinya masih bergeming, pria itu pun menggiring Ara ke kamar mandi.
Sembari mengecek surat elektronik yang masuk lewat ponselnya, Darma menunggu Ara selesai bersiap-siap. Lelaki itu mengangkat wajahnya saat derap langkah istrinya mendekat.
"Aku nggak tahu mau pergi ke mana. Jadi, pakai ini nggak apa-apa?"
Darma mengamati istrinya yang tampak menggemaskan dalam balutan dress warna biru muda di atas lutut. Lengkungan senyum diiringi anggukan menjadi jawaban. Ia lantas meraih kunci mobil dan menggandeng istrinya untuk turun ke lantai satu.
Jantung Ara berdebar kencang. Entah rindu atau memang benar adanya, tapi ia bisa menghirup kalau aroma tubuh suaminya lebih wangi dari biasanya. Ara mengembuskan napas pelan ketika Darma membukakan pintu untuknya. Rasanya gugup terlebih tadi Darma tersenyum sekilas padanya. Sudah mirip anak gadis yang akan diajak kencan pertama kali saja.
Ketika mobil sudah melaju, Ara jadi penasaran ke mana Darma akan membawanya. Jalanan yang mereka lewati seperti hendak menuju rumah orang tuanya. Ara menoleh dan ingin sekali bertanya, tapi Darma yang terlihat anteng di belakang kemudi membuatnya mengurungkan niat.
"Kamu mau sarapan apa?" Akhirnya sebuah kalimat meluncur dari mulut lelaki itu.
"Terserah."
Darma manggut-manggut. Lagi, hal yang direncanakannya berjalan dengan semestinya. Ia membelokkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji dan membeli makanan secara drive thru.
Keanehan kembali menyergap Ara. Lima tahun lebih mengenal Darma, belum pernah sekalipun pria itu sarapan dengan menu junk food.
"Makan, gih." Lelaki itu menyerahkan cheeseburger kepada istrinya, sedangkan makanan lainnya ia taruh di dashboard.
Di sebelah Ara yang kini menikmati burger dengan canggung, Darma tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan restoran, tepat sebelum memasuki jalan raya. "Kamu tahu nggak? Dulu aku pernah sembarangan ngira cewek sebagai tukang ojek di sini."
Kontan saja Ara tersedak roti bercampur daging dan keju dalam mulutnya. Darma segera mengambilkan minum dan mengelap sudut bibir istrinya yang terkena saus. "Pelan aja makannya. Nggak ada Ashila yang minta," ucapnya sambil terkekeh.
Kembali Darma menjalankan mobilnya. Ditemani lagu milik grup band Naff, mereka melanjutkan perjalanan. Sesekali Ara melirik Darma yang kini sedang mengunyah burger dengan pandangan lurus menatap jalanan. Dia kepo, apakah membeli sarapan di tempat kerjanya dulu adalah ketidaksengajaan atau memang sudah direncanakan.
Usai meminum cola dan bersendawa, telunjuk Darma tiba-tiba menunjuk bangunan paling tinggi yang terlihat di sebelah kanan jalan. "Kamu lihat gedung itu? Itu Hotel Coriander. Di depan lobi hotel itu, aku punya hutang sama cewek tadi gara-gara dompetku ketinggalan di mobil yang mogok. Untungnya dia mau aku kasih jaminan kartu nama lecek, tapi anehnya dia nggak ngehubungin aku. Mungkin sadar kali, ya, pasang tarifnya ketinggian. Mahal banget 'kan dari restoran tadi ke sana kena enam ratus ribu? Yah, dia bilangnya, sih, tiga ratus. Tapi, aku janji bakal ganti dua kali lipat. Tapi, tetep mahal, kan?"tanya pria itu meminta pendapat.
Ara berdeham rendah dengan bibir bawahnya yang digigit guna menahan senyum. Pipinya tampak makin merah mengingat masa-masa itu. Ketika dirasa ekspresinya sudah biasa-biasa saja, ia menjawab, "Namanya orang kepepet kalau mau cepet emang harus ngeluarin uang lebih."
Darma mengangguk-anggukkan kepala. Senyuman indah yang terukir di bibirnya terpaksa disamarkan karena tatapan intens dari wanita di sebelahnya.
Petikan gitar dari intro lagu "At My Worst" milik Pink Sweats mengiringi perjalanan selanjutnya. Tujuan lelaki itu kali ini adalah mal. "Yah, belum buka," ucap Darma kecewa begitu mendapati tempat tujuannya masih tutup. Dengan berat hati, ia tidak jadi membelokkan mobil dan memilih jalan terus.
Ara mengulum senyum, kemudian menatap jalanan supaya tidak beradu pandang dengan suaminya yang sedang melihat ke arahnya.
"Mal tadi itu salah satu tempat bersejarah," kata Darma.
"Oh, ya? Kenapa?" Ara mulai mengikuti permainan lelaki berkaus putih di sampingnya.
"Aku ketemu cewek itu lagi dan seperti kena karma, dia kebingungan karena dompetnya nggak ada waktu mau bayar tiket nonton film." Darma tergelak beberapa saat. Begitu tawanya mereda, ia lanjut berkata, "Tapi, karena aku baik, aku bayarin, deh. Kita nonton bareng. Lucunya lagi waktu aku beliin minum sama popcorn sebagai pembayaran hutang, wajahnya jadi merah banget. Dia malu kali, ya. Hahaha ...."
Sial! Sudah lama sekali, tapi tetap saja memalukan kalau diingat. Ara pun mengambil beberapa potong kentang goreng dan memakannya. Agaknya kesibukannya mengunyah makanan itu sedikit berguna dalam menutupi rasa malunya.
"Tapi, aku seneng, sih, soalnya dari situ kita jadi kenalan. Pulangnya aku anterin dia ke rumahnya karena waktu itu hujan deras," ungkap Darma. Senyum mengembang menghiasi wajahnya yang rupawan.
Sesudah mengambil kentang goreng yang tersisa dan memakannya. Bibir lelaki itu lantas menggumamkan lirik lagu yang masih mengalun merdu.
No, I'm not perfect, but I hope you see my worth
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
"Kita juga ketemu lagi di sini." Darma menunjuk sebuah mal yang terletak di kiri jalan, yang baru saja dilewati.
__ADS_1
Ara sempat menoleh ke belakang, sebelum kemudian kembali menatap Darma. Tadi itu mal di mana dia memergoki Elang pergi bersama Ajeng, setelah mantan pacarnya itu membatalkan janji dengannya.
"Dia nangis di mobilku gara-gara mergokin pacarnya selingkuh. Kasihan banget waktu itu mukanya mirip anak ayam minta dikasih makan. Jadinya, aku kasih sushi sama aku anterin pulang lagi, tapi jahatnya malah bukannya disuruh mampir, aku disuruh nurunin dia beberapa meter sebelum sampai rumahnya!" Darma yang pura-pura kesal menaikkan kecepatan mobilnya.
Seakan tak peduli dengan mobil yang melaju kencang, Ara menundukkan kepala. Kalau dipikir-pikir, dulu memang dia tega sekali ke Darma. Namun, mengingatnya sekarang, ia malah jadi tersenyum. Apa iya laki-laki itu sudah cemburu jauh sebelum mereka berpacaran?
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Darma melayangkan tatapan mengintimidasi yang dibuat-buat.
"Ng-nggak! Nggak ada yang senyum. Salah lihat kali, 'kan kamu nggak pakai kacamata," balas Ara sewot.
Batin Darma bersorak gembira. Ara mulai ekspresif lagi di depannya. "Eh, dekat perempatan tadi!" Ia berseru seraya menengok ke belakang.
"Kenapa sama perempatan itu?" Ara jadi ikut menolehkan kepala.
"Dia pernah jatuh dari motor di sana dan nyalahin aku. Padahal, niatku baik mau ngasih bakpia, tapi katanya aku kayak orang lagi catcalling."
Gila! Ara merasa gila. Bagaimana bisa Darma mengingat setiap titik tempat awal-awal mereka tidak sengaja bertemu?
"Memang benar pepatah yang bilang akan ada hikmah dari setiap kejadian."
Ara melempar tatapan tak mengerti. "Maksudnya?"
"Gara-gara musibah itu aku jadi tahu kalau ternyata dia udah putus sama pacarnya." Darma menutup mulut agar tawanya tidak meledak. " Terus kayak kebetulan banget pas aku main ke rumahnya waktu tahun baru, ternyata dia itu mau ikut UMPTN. Ya, udah, karena otakku encer, dengan sukarela aku nawarin diri buat ngajarin dia dan kalau mau jam tambahan lebih lagi aku suruh dia datang ke kantor yang sebenarnya itu sambil modus. Yeah, namanya orang mau PDKT harus memanfaatkan kesempatan dengan baik, kan?" Ia menatap Ara, lalu menganggukkan kepala. Matanya seakan memberi perintah supaya wanita itu setuju dengan apa yang diucapkannya.
Ara pun perlahan mengangguk, terpaksa setuju. Bertepatan dengan itu, mobil Darma berhenti di tempat parkir khusus direktur gedung perkantoran milik keluarganya. Ara berpikir akan menunggu saja di mobil, tapi Darma yang membukakan pintu untuknya dan memberikan tangannya supaya digenggam membuatnya terpaksa ikut.
Memasuki kantor, mereka menaiki lift menuju lantai di mana ruangan Darma berada. Ruang kerja laki-laki itu masih sama dengan yang dulu saat pertama kali Ara menyambanginya. Meski seluruh barang-barangnya sudah diganti dengan yang lebih modern, posisi penempatannya sama sekali tak berubah. Ara duduk di sofa berwarna krem, tempat biasa ia menunggu jika datang ke kantor suaminya dalam rangka makan siang bersama.
"Aku urus kerjaan sebentar, ya? Kalau lapar bilang Widya suruh pesenin makanan," ucap Darma yang kini duduk di depan komputer.
Ara mengangguk mengiakan. Sementara suaminya sibuk dengan data, pandangan perempuan itu jatuh ke bawah. Ingatannya tertuju pada momen di mana dulu Darma menyatakan cinta dan memintanya menjadi kekasih. Di situ, di tempat ia duduk sekarang. Seketika Ara bisa merasakan kalau saat ini pipinya menghangat di tengah ruangan ber-AC itu.
"Lagi bayangin apa?"
Kepala perempuan itu mendongak. Matanya membeliak kaget melihat Darma berdiri di depannya. Sejaka kapan pria itu ada di sini? Bukannya tadi masih sibuk dengan layar monitor?
Tak mendapat jawaban, Darma dengan percaya diri mendudukkan tubuhnya di sebelah Ara. "Dulu, di sini aku minta dia buat jadi pacarku, tanpa persiapan apa-apa. Tapi, nggak tahu kenapa rasanya justru malah berkesan karena mengalir seperti air."
Ara manggut-manggut setuju, tanpa berani menatap suaminya.
Merasa gemas, secara tiba-tiba Darma merangkul bahu Ara, mendorongnya pelan ke belakang sampai akhirnya wanita itu terbaring di sofa. Darma mengungkungnya, kemudian mendekatkan wajahnya dan hanya menyisakan tiga sentimeter dari wajah Ara. "Posisinya gini," katanya lalu sebuah kecupan ia bubuhkan di kening wanitanya.
Kruyuk kruyuk
Sontak saja mata Darma mengarah ke perut rata istrinya. Sementara Ara langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah padam.
"Cewek itu juga pernah bilang nggak lapar, tapi perutnya malah ngasih tahu," ujar Darma, kemudian menegakkan tubuhnya. "Mau makan apa?"
"Terserah," jawab Ara sekenanya.
Tawa renyah Darma memenuhi ruangan. Tak tahan melihat tingkah menggemaskan istrinya, ia pun memeluk Ara dan mengusap-usap puncak kepala wanita itu.
Setelahnya, Darma meminta sekretarisnya untuk memesan makanan dan membawanya ke ruangannya. Usai menyantap bebek goreng H. Slamet, Darma bersama Ara keluar dari gedung perkantoran.
Perjalanan pasangan suami istri itu kembali berlanjut. Rasa-rasanya semua tempat tentang kenangan mereka sudah dilewati, lalu ke mana lagi tujuan Darma? Ara merasa tidak sabar setelah berpuluh-puluh menit mereka keliling Kota Solo.
"Mau es dawet nggak?" tanya Darma saat mereka berada di kawasan Pasar Gedhe.
"Masih kenyang. Lain kali aja."
Darma sedikit kecewa karena sebenarnya dia ingin minum es dawet yang legendaris itu, tapi kalau Ara tidak mau mungkin memang baiknya lain waktu saja.
"Setelah jadian sama dia, tempat ini jadi tempat pertama kami kencan karena waktu itu pas banget lagi ada lampion," ucap Darma ketika mobilnya berbelok di Tugu Jam.
"Masa, sih, kamu mau kencan di tempat kayak gitu? Bukannya sukanya pergi ke tempat fancy?" tanya Ara menantang.
"Mau, lah. Aku 'kan orangnya merakyat. Seneng tahu lihat orang-orang pada happy. Apalagi aku datangnya sama pacar baru."
"Kalau sama yang dulu-dulu?"
"Lupa. Udah lama banget soalnya."
Secara spontan Ara mengerucutkan bibir. Tak puas dengan jawaban suaminya. Darma mengedikkan bahu acuh tak acuh, sengaja tak merayu agar istrinya kesal. Ia fokus dengan jalanan yang siang ini terlihat ramai lancar. Tinggal satu tempat lagi, maka setelahnya Darma sedikit bisa bernapas lega.
Ara menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Darma membawanya ke apartemen pria itu. "Kita ngapain ke sini?"
"Istirahat."
__ADS_1
Belum sempat Ara bertanya lagi, Darma sudah turun dari mobil. Seperti yang sudah-sudah lelaki itu membukakan pintu untuknya. Tangan Darma menggenggam tangannya agar sedari memasuki lobi sampai akhirnya tiba di unit apartemen lelaki itu. Tidak ada yang spesial di sana. Begitu pula dengan kamar di mana kini Ara berada. Wanita itu masih berdiri, sedangkan Darma sudah duduk di ranjang.
"Di sini dulu terakhir kali aku ketemu dia sebelum pergi ke London buat lanjut S2." Pandangan Darma mengedar ke seluruh penjuru ruangan. "Kita berencana pergi ke Jogja buat kulineran karena besoknya ulang tahunku, tapi sayangnya itu tidak terealisasi. Aku sakit dan tiba-tiba Oma datang ngasih tahu aku kalau harus pergi. Aku benar-benar nggak tahu harus gimana apalagi setelah di sana aku mengalami kecelakaan."
Helaan napas panjang terdengar jelas. Ara bisa melihat jika wajah suaminya kini menahan tangis. Pelan ia berjalan mendekat dan hampir saja berlutut supaya bisa memandangi wajah sendu itu, tapi Darma tidak mengizinkannya.
Lelaki itu memintanya untuk tetap berdiri, begitu pula dengan dirinya kini. "Aku udah pernah nyakitin dia dengan ninggalin dia selama bertahun-tahun dan beberapa hari yang lalu aku mengulangi hal yang sama."
"Mas ...." Air mata telah merebak. Kedua tangan Ara kini menggenggam tangan Darma yang menangkup pipinya. "Kamu jangan salahin diri kamu sendiri."
"Gimana aku nggak salahin diri aku? Aku udah bilang kamu yang tidak-tidak sampai kita kehilangan calon anak kita. Bilang aku harus apa biar kamu maafin aku? Aku pasti bakal lakuin itu, tapi jangan minta aku buat pergi."
"Aku juga nggak tahu harus apa," jawab Ara. Rasa sesak yang sejak kemarin-kemarin tertahan dan hanya diluapkan ketika sendirian perlahan ia tunjukkan di depan Darma. Ara menangis tersedu-sedu dengan kepala tertunduk. "Aku memang pernah salah, tapi aku bukan tukang selingkuh. Kalau mengingat tuduhan itu, hatiku sakit banget. Kamu pergi gitu aja, tanpa mau dengerin aku dulu. Mungkin ke depannya aku juga akan melakukan kesalahan lagi yang entah apa, tapi nggak menutup kemungkinan kalau suatu hari aku bisa menjadi versi terbaik dari diri aku, 'kan? Kamu yang nggak pernah berbuat salah, bikin aku merasa nggak pantas buat kamu."
Ara menengadahkan kepalanya. Matanya yang basah pun bertemu dengan mata Darma yang berair. Untuk beberapa saat, keduanya saling diam memandang dan membiarkan mata mereka yang berbicara.
Isak tangis Darma yang perlahan terdengar membuat Ara mendapat pelukan secara tiba-tiba dari pria itu. Ini kali kedua suaminya menangis dalam pelukannya. Cukup lama, mungkin ada sepuluh menit mereka dalam posisi itu barulah pelukan itu terlepas.
"Aku sangat cemburuan," aku Darma. Mereka kini duduk di tepi ranjang sambil berhadap-hadapan. "Maaf karena sifat cemburuku bikin kamu tersiksa. Setelah kamu bilang kayak tadi, aku jadi sadar kalau segala yang aku punya ternyata nggak bikin kamu bisa bahagia terus. Aku takut ... aku nggak bisa lihat kamu dekat-dekat sama cowok lain. Rasanya aku mau marah kenapa kamu nyakitin aku?"
"Aku minta maaf, Mas."
Cepat Darma menggeleng. "Kamu nggak salah, aku yang nggak bisa mengontrol diri sampai-sampai berakibat fatal. Aku minta maaf sudah bikin kamu keguguran."
"Itu bukan salah kamu. Berhenti salahin diri kamu. Aku nggak mau lagi denger kamu minta maaf sambil nangis setiap malam."
"Kamu tahu?" tanya Darma tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya, aku juga masih ingat semua kata-katamu. Mas ...." Ara berinisiatif menggenggam tangan suaminya. "Sebenarnya, sebelum keguguran itu aku sedang stress. Dan setelah tahu hamil, aku juga sadar kalau ternyata aku memang nggak sesiap itu buat hamil lagi dalam waktu secepat ini, makanya aku pengen kamu jadi orang yang pertama tahu dan berharap kamu bisa ngeyakinin kalau aku pasti bisa melewati ini bareng sama kamu. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain."
"Aku sudah pernah bilang, aku nggak apa-apa kalau cuma punya anak satu."
Dalam kondisi wajah masih sembab, Ara mencoba mengulas senyum. "Aku yang apa-apa. Aku 'kan juga mau punya Ara versi cowok yang sifatnya mirip aku, cuma mungkin jangan terlalu ngoyo."
"Iya, kamu nggak usah khawatir. Suamimu juga masih kuat, kok."
"Biarpun udah tua?" tanya Ara menggoda.
"Ra!" Mata Darma melotot tajam.
"Apa?" Di tengah air mata yang kembali mengalir, Ara tertawa bahagia.
"Nakal!"
"Kalau nggak nakal bukan istrinya Pak Darma, dong?" ungkap wanita itu makin menantang.
Merasa tingkat kegemasan istrinya sudah mencapai level akut, Darma pun memeluk erat Ara sampai akhirnya tubuh mereka terjatuh di ranjang. Jarak yang terlampau dekat membuat keduanya bisa merasakan hangat napas satu sama lain. Bibir mereka menyunggingkan senyum. Untuk kedua kalinya, di hari ini Darma mendekatkan wajahnya berharap bisa merasakan manis bibir istrinya. Namun, belum juga bibir itu menempel, dering ponsel seakan mencegahnya.
Darma berdecak sebal, sedangkan Ara hanya tersenyum mengejek melihat wajah kesal suaminya. Wanita itu ikut kemudian menempelkan telinganya ke ponsel Darma. Terdengar suara Mama Selly yang memberitahu kalau Ashila rewel dan ingin bertemu maminya.
"Ashila ...," ucap Darma sengaja menggantung.
"Kita jemput dia. Kasihan udah ditinggal kelamaan."
Darma mengangguk setuju. Mereka lantas bangun dan merapikan baju masing-masing. Darma sempat menyelipkan rambut Ara ke belakang telinga, sebelum kemudian mengulurkan tangannya.
Mereka bergandengan keluar dari apartemen dan saat tangan Darma sudah memegang gagang pintu, lelaki itu lebih dulu memiringkan kepalanya untuk mencuri ciuman dari Ara.
"I love you most ardently," bisiknya tepat di telinga sang istri.
...-TAMAT-...
.
.
.
Lhah, tamat, Thor?
Iya, hehehe
Makasih untuk teman-teman yang sudah membaca dan mendukung karya ini.
Jangan lupa mampir ke profil saya untuk membaca cerita saya yang lain 💗💗💗
^^^Best regards,^^^
__ADS_1
^^^Vin Shine^^^