
"Babe, ambilin dasi, dong."
"Bentar, Om."
"Sama kaus kaki."
"Iya, Om."
"Aku sarapan di kamar aja."
"Ok—eh, kok, gitu?" Ara yang baru kembali dari walk in closet kontan menaikkan sebelah alisnya.
Darma memasang wajah angkuh. Tangannya yang berkacak pinggang membuat pria itu terlihat semakin arogan. "Kesel!"
"Kenapa?" Ara menaruh dasi serta kaus kaki di tangannya di nakas, lalu duduk di sebelah suaminya.
"Panggil om sekali lagi habis kamu," ujarnya sebal. Dari kemarin, Ara terus saja menggodanya, meski pulang-pulang ia langsung cukuran.
"Ampun, Om, eh!" Ara menutup mulut kurang ajarnya. Matanya takut-takut menatap Darma.
Lelaki itu menatapnya intens, sebelum kemudian menarik tangan Ara yang menutupi mulut dan menggantinya dengan bibirnya yang kini menyesap lembut bibir cerah istrinya.
Darma menghentikan ciumannya untuk sejenak memandang paras ayu yang tak berjarak dari wajahnya. "I love you, My Naughty Wife," ucapnya kembali melancarkan pagutannya.
Ia membaringkan tubuh istrinya. Senyum kepuasan terlihat samar kala Ara balas mencumbunya dengan tidak kalah panas.
Namun, gairah dalam dirinya harus terhenti lantaran istrinya menyeletuk, "Aku mau anterin Shila sekolah."
Saat itu juga Darma menegakkan tubuhnya dengan gurat kecewa yang masih bisa ditangkap oleh Ara.
Ara bisa apa selain menatap kasihan suaminya. Untuk saat ini, putrinya jauh lebih penting.
"Nanti malam, ya." Itu bukan tawaran, melainkan keharusan.
Wajah Ara merona malu, kendati sudah sering melakukannya.
"Tapi, aku minta appetizer-nya sekarang."
"Hah?"
Darma tersenyum sekilas sebelum akhirnya menyesap dalam leher istrinya.
"Mas!" Ara memekik begitu terlepas dari suaminya dan ia melihat tanda kemerahan melalui pantulan kaca.
"Tutupin pakai foundation. Biasanya 'kan kamu gitu," jawab Darma yang sejak tadi berdiri di belakang istrinya. Tangan nakalnya kini bermain-main dengan rambut Ara.
__ADS_1
"Nggak usah pegang-pegang rambutku!" ketus Ara galak.
"Yang belakang belum ada kissmark-nya."
"MAS! Kamu nekat nanti malam aku tidur sama Shila, lho, ya."
Kalau sudah diancam begitu, Darma langsung ciut. "Iyaa."
Ara bernapas lega. Usai membubuhkan foundation di leher, ia keluar kamar untuk mengecek Ashila yang akan berangkat sekolah.
"Ashila, udah siap, Sayang?" tanyanya begitu masuk kamar putrinya.
"Sudah, Mami. Lihat, Shila dikasih jepit kupu-kupu sama Mbak Sus."
"Shila udah bilang makasih belum?"
Bocah dengan model seragam sailor moon itu menyengir, lalu menoleh ke pengasuhnya. "Makasih, Mbak Sus."
"Sama-sama, Non."
"Ya, udah. Yuk, sarapan. Papi pasti udah nungguin."
Dengan digandeng sang ibu, Ashila menuruni tangga. Benar saja, di sana ada ayahnya yang lebih dulu meminum teh. Dan sama seperti tadi, Ashila juga memamerkan jepit kupu-kupu barunya.
Pagi ini, Ara tampak lega karena tidak perlu ada drama. Anaknya juga sarapannya terbilang cepat. Mungkin karena suasana hatinya sedang baik.
"Kamu juga hati-hati, Mas."
Darma mencium kening Ara, kemudian berjongkok untuk berbicara dengan putrinya. "Sekolah yang pinter, ya ,Sayang."
"Iya, Papi."
Diiringi senyuman, Darma mengacak-acak poni putrinya. "Papi, berangkat kerja, ya."
"Hati-hati, ya, Papi. I love you."
"Kiss-nya mana?" Darma menunjuk pipinya.
Dan satu kecupan dari Ashila pun mendarat. Darma kembali berdiri untuk sekali lagi mencium kening istrinya. Barulah ia masuk ke mobil.
Ara dan Ashila melambaikan tangan. Begitu mobil Darma keluar dari gerbang, Ara mengajak putrinya untuk masuk ke mobil yang dikemudikan Pak Surip.
"Mami," panggil Ashila menoleh ke arah ibunya.
"Ya, Sayang?"
__ADS_1
"Di pelut Mami udah ada bayinya belum?"
Untuk sesaat Ara tertegun. Ia mengembuskan napas panjang, lalu berkata, "Kenapa Ashila mau adik?"
"Adik itu apa?"
Ara tersenyum dengan keluguan anaknya. "Kalau nanti perut Mami besar terus ada bayinya, nanti bayi itu jadi adiknya Shila dan Shila jadi kakaknya."
"Kalau gitu Shila mau adik!"
"Kenapa? Kenapa Shila mau adik?" Ara mengulangi pertanyaannya.
Ashila menatap bingung. "Pokoknya Shila mau! Adik itu lucu. Bajunya kecil, sepatunya kecil, kepalanya botak. Hahahaha ...." Anak itu tertawa.
Mau tidak mau Ara ikut tersenyum melihatnya. "Tapi, kalau misalnya Shila nggak punya adik gimana?"
Tawa anak itu terhenti. Raut wajahnya berubah merengut. "Kenapa Mami bilang enggak? Mami nggak mau ada adik, ya?"
Ara jadi gelisah. Apalagi kini mata anaknya sudah merah dan perlahan air mata jatuh menetes membasahi pipi gembul Ashila. Karena semua orang terdekat selalu mengiakan apa saja keinginan Ashila. Jadi, beginilah anak itu sekarang. Tidak bisa menerima kata "tidak".
"Mamiiii ... Shila mau adik. Papi bilang iya, kenapa Mami enggak?" Pipi Ashila semakin basah oleh air mata.
"Shila jangan nangis, Nak. Sudah mau sampai sekolah, lho."
"Bialin! Mami bilang iya dulu!"
"Shila nggak boleh gitu, Sayang."
"Mami! Bilang iya dulu. Shila nggak mau sekolah kalau gitu!"
Mendapati ibunya belum mengiakan, tangis Ashila semakin menjadi-jadi. "Mamiiii ... Shila mau adik. Shila mau, Mami. Yang kayak punya Kalan." Terbata-bata bocah itu berucap.
Melihat putrinya sesenggukan sampai dadanya naik turun, Ara tahu betapa sesaknya itu sehingga ia yang tidak tega pun berucap, "Iya, nanti Shila punya adik."
"Benelan?" Seketika tangis Ashila berhenti. Gadis kecil itu juga mengusap air matanya sendiri.
Ara mengangguk dengan senyum keraguan yang tentu saja putrinya tidak tahu. "Iya."
"Yeeeeeee ...!" sorak Ashila girang.
Mereka sudah sampai di sekolah. Pintu mobil lantas terbuka. Ara tidak ikut turun. Putrinya sudah berani masuk kelas sendiri. Ia melambaikan tangan ketika Ashila juga melakukan hal yang sama sebelum anak itu berbelok menuju kelasnya.
"Jalan, Pak," pinta Ara. Selama perjalanan pulang, selama itu pula pikirannya berkecamuk. Mungkinkah ini saatnya ia melawan ketakutan itu? Ah, mengapa harus takut? Toh, tiga tahun lalu dia bisa melewatinya. Selama ada Darma di sampingnya, semua akan baik-baik saja, 'kan?
.
__ADS_1
KOMEN GENGS! INGAT!
KOMENTARMU ADALAH SEMANGATKU 🌋🌋🌋