
Jarum jam menunjuk angka lima lewat lima belas menit ketika Ara keluar dari toilet usai mengganti seragam kerjanya dengan kaus yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Gadis itu mengembuskan napas pelan. Seharian ini rasanya lelah sekali. Terlebih Keyla yang ia harap-harapkan dapat menghiburnya ternyata mulai hari ini tidak lagi satu shift dengannya. Membuat Ara semakin sulit untuk mengenyahkan Elang dari pikirannya.
Keluar dari restoran, Ara yang kini berjalan menuju parkiran sembari memainkan kunci motornya mendadak berhenti kala melihat laki-laki yang sebenarnya juga ingin ia temui rupanya sudah menemuinya terlebih dahulu.
Seandainya kemarin tidak terjadi apa-apa, saat ini Ara pasti sudah mempercepat langkahnya menghampiri laki-laki itu dengan senyum mengembang yang menampilkan rentetan gigi putihnya. Namun kenyataannya, gadis itu tetap melangkah biasa dengan wajah datarnya yang membuat hati sang laki-laki berdenyut nyeri.
"Kebetulan sekali Mas Elang udah ke sini duluan." Dalam hatinya, Ara bersyukur karena setidaknya Elang tidak menunggunya di rumah.
"Kita cari tempat buat ngobrol," ujar Elang tanpa berkedip barang hanya sekali.
"Nggak perlu. Di sini aja cukup, kok. Lagian cuma sebentar." Percayalah, butuh keberanian besar bagi Ara untuk bisa berkata seperti itu pada Elang.
"Raa ...." Wajah Elang sudah pias. Ia hendak menggenggam tangan gadis di depannya, tapi gadis itu dengan sigap sudah melangkah mundur.
Untuk beberapa saat pandangan keduanya sejenak terkunci. Beberapa kali Ara menarik napas panjang untuk menahan agar air matanya tidak keluar, setidaknya untuk saat ini. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan laki-laki yang sudah berkali-kali mengecewakannya.
"Aku cuma mau tanya satu hal sama kamu, Mas."
Elang mengangguk. "Tanya apa?"
__ADS_1
"Kenapa kamu bohong?"
"Ra, aku ...." Bola mata Elang bergerak ke kiri dan kanan seakan di tempat itu ada jawaban atas pertanyaan Ara. Satu lagi, Elang juga tidak tahu mengapa dia harus berbohong. Seandainya jujur, mungkin saja 'kan Ara akan memakluminya.
"Kamu mulai suka lagi sama mantan kamu itu?" tanya Ara menohok.
"Nggak!" bantah Elang cepat.
"Terus?"
Hawa panas seketika menyergap meski angin karena cuaca mendung bertiup cukup kencang. Mata Ara terus menatap intens iris gelap Elang sambil menunggu jawaban dari mulut laki-laki itu.
"Tapi kenyataannya aku sakit, Mas. Banget!" Ara memberi penekanan pada kata terakhirnya seraya mengarahkan telunjuknya ke dadanya.
"Aku udah nolak, tapi ... kamu tahu sendiri gimana ibuku."
Wajah memelas itu membuat Ara langsung memalingkan wajah kala melihatnya. Lagi dan lagi masalah yang sama entah untuk yang keberapa kalinya.
"Apa ibumu nggak tahu kalau kamu udah ada janji sama aku?" Kembali Ara menatap wajah sendu Elang.
__ADS_1
"Ibu tahu ...."
"Tapi dia tetep nyuruh kamu pergi sama Ajeng." Ara tersenyum masam dengan lelehan air mata yang jatuh tanpa permisi. Ia mengangguk berulang kali, mencoba sadar bahwa hubungannya dengan Elang tidak akan mendapat restu dari wanita yang telah melahirkan laki-laki di hadapannya. Jangankan restu, mendapatkan senyuman tulus Bu Rini saja rasa-rasanya Ara tidak pernah.
"Udah, ya, Mas." Lagi Ara berkata dengan suaranya yang hampir hilang karena tangis yang kian menyesakkan.
"Nggak, Ra! Aku nggak mau kita putus." Elang melangkahkan kakinya, tapi dengan cepat Ara pun kembali melangkah mundur. "Please, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon ...." Terdengar keputusasaan dari nada bicara laki-laki itu.
Ara menggeleng. "Sayangnya aku nggak mau ngasih kesempatan sama orang lain buat nyakitin hati aku lebih dalam lagi."
"Ra ...."
"Maaf, aku nggak bisa lagi nerusin hubungan ini. Kamu orang baik, Mas. Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu dan tentunya juga sesuai sama yang ibu kamu harapkan. Maaf ...."
"Ra! Araaaa ...."
Tanpa mengacuhkan Elang yang terus meneriakan namanya, Ara setengah berlari menghampiri motornya. Dengan cepat ia memakai jaket serta helmnya hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya sampai dirinya benar-benar pergi dari tempat itu.
Di tengah bisingnya suara kendaraan karena ramainya jalanan malam ini, Ara menumpahkan tangisnya di balik kaca helm yang ia kenakan. Berat rasanya harus melepaskan laki-laki yang masih mengisi relung hatinya, tapi mempertahankan juga bukan pilihan yang tepat. Ara masih muda, perjalanannya masih panjang. Jika benar berjodoh, entah dengan cara seperti apa, bukankah Yang Mahakuasa juga pasti akan menyatukan kembali dia dengan Elang?
__ADS_1