Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Gubrak!


__ADS_3

Setelah kemarin Gusti dibuat terbelalak, kini giliran Keyla yang dibuat menganga kala mendengar cerita Ara. Ya, setelah sekian minggu tidak bertemu akhirnya kedua gadis itu bisa juga quality time. Sembari duduk di sebuah kafe yang mengusung tema kebun, mereka tidak ada habis-habisnya membahas insiden saat Ara menjenguk Elang. Namun, tentu saja yang paling menarik bagi Keyla adalah momen ketika Ara membalas perkataan Bu Rini dengan sangat menohok.


"Keren, keren. Nggak nyangka, ih, bestie-ku bisa hebat banget." Keyla memuji, lalu menyedot minumannya yang baru datang.


"Tapi ... jahat nggak, sih, Key, aku kayak gitu?" Sebenarnya malam setelah kejadian itu, Ara tidak bisa tidur mengingat ucapannya yang memang dibilang sangat berani. Jika ayahnya tahu, dia juga pasti akan ditegur.


"Nggaklah. Kan kamu cuma membela diri bukan ngata-ngatain balik."


Ara manggut-manggut. Mereka lalu menikmati makanan yang baru disajikan sambil menyaksikan langit jingga di ufuk barat sana.


"Tapi serius, deh. Kamu kayak orang nggak patah hati. Beda banget sama yang dulu itu." Keyla kembali bersuara sebelum menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya.


"Mungkin karena aku bisa mikir realistis dikit kali, ya, terus sibuk juga." Ara tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong soal sibuk," Keyla menyingkirkan piring bekas ia makan, kemudian bertopang dagu, "kamu ntar keluar dari kerjaan, dong. Mesti bimbel 'kan biar persiapannya lebih mateng."

__ADS_1


Ara menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengembuskan napas pelan. "Masalah bimbel, aku mau ikut yang online. Tapi kalo kerjaan ... nggak tahu, deh. Bingung. Iya kalo nanti keterima, kalo nggak ... nganggur, dong, aku. Pusing."


"Keterima pasti keterima. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha." Keyla mendadak bijak. "Lagian kamu nggak dodol-dodol banget, kok, waktu sekolah. Sepuluh besar pasti ikut." Ia menyengir kuda sambil menaik-turunkan alisnya.


Ara sudah mau memukul kepala Keyla dengan sendok, tapi sahabatnya itu dengan sigap langsung menghindari. "Dasar!" Gadis itu mendengkus sebelum kemudian menyeruput minumannya hingga tandas.


"Kamu sendiri gimana, Key? Jadi, kursus jahitnya?" Ara kembali bersuara saat bulan sabit menjadi satu-satunya benda yang menghiasi langit Kota Solo yang penuh polusi.


Menjadi penjahit adalah cita-cita Keyla sejak masih SMP. Perempuan itu ingin bekerja dari rumah agar tetap bisa memperhatikan anak dan suaminya kelak. Sungguh cita-cita yang sangat mulia.


"Aku tungguin aja."


"Nggak usah beneran. Antrenya suka lama, aku nggak mau denger kamu ngeluh. Kupingku sakit." Keyla mengusap-usap daun telinganya sambil meringis tidak jelas.


"Nyebelin! Ya, udah. Balik sekarang aja, yuk, keburu tambah malem."

__ADS_1


Mereka lantas beranjak untuk membayar makanan, kemudian pulang dengan mengendarai motor masing-masing.


Dua ratus meter dari jarak Keyla membelokkan motornya ke sebuah apotek, Ara kini berhenti di sebuah lampu merah. Bulu kuduk gadis itu seketika meremang menyadari cuaca dengan begitu cepat berubah mendung serta jalanan yang selalu terlihat sepi menjelang pukul enam. Ara tidak berani menolehkan kepala. Jantungnya bekerja lebih cepat saat seseorang menyebut namanya.


"Ara."


"Ara."


"Ara."


Suara itu memanggilnya sebanyak tiga kali. Kalau dalam iklan sudah pasti orang tersebut mendapatkan hadiah berupa piring cantik.


Ara mengeratkan cengkeramannya pada setang motor. Begitu lampu berubah hijau ia langsung memacu motornya. Dibandingkan setan, dia lebih takut jika yang tadi memanggilnya adalah orang yang hendak melakukan pelecehan di tengah jalan apalagi jika sampai orang itu mengikutinya. Memikirkan hal itu membuat konsentrasi Ara terganggu. Alhasil, saat hendak berbelok menuju jalan yang sebentar lagi menuju rumahnya ia menabrak trotoar.


Gubrakkkk!!!

__ADS_1


__ADS_2