Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Om-om


__ADS_3

"Ashila mau apa? Burger atau pizza?" tanya sang ayah saat dalam perjalanan menuju mall.


"Eumm ... Shila mau bulgel, pizza, kentang, es kim, sama boba."


"Nooo ...!" Ibunya dengan cepat menolak. "Shila cuma boleh pilih satu sama nanti ditambah es krim."


Gadis kecil itu berdecak. Bibirnya mengerucut kesal. "Tapi, Shila mau itu semuaaaaa," katanya setengah berteriak.


"Shila nggak habis nanti. Lagian Mami mau makan ramen."


"Kamu mau ramen?" tanya Darma.


Ara mengangguk. "Kamu mau 'kan, Mas?"


"Hmmm ... kalau nggak mau nanti ada yang ngambek," jawabnya menurut. Lagipula, bukan makan apa yang penting, tapi dengan siapa dia makan dan menghabiskan waktunya. Dasar budak cinta!


"Siapa yang ngambek. Kalau kamu mau makan yang lain, ya, sana. Tapi, sendiri," sahut Ara sinis.


Darma terkekeh. "Kayak gitu nggak ngambek?"


Ara langsung menoleh ke arah lain. Malas melihat wajah suaminya.


"Babe ...." Darma mengusap-usap lengan istrinya. "Kamu beneran ngambek?"


Ara masih belum menjawab. Kekanak-kanakan memang. Padahal, sudah punya buntut.


"Babe, lihat sini, dong. Mau lihat muka kamu yang cantik." Rayuan demi rayuan terus Darma lontarkan. Tidak peduli anak serta sopirnya mendengar. "Sayang ... aku, lho, makan selalu ngikut kamu. Yang penting kamu sama Shila."


Ara menoleh. Tidak tahan juga mulutnya diam saja. "Bohong! Ngikut aku, tapi abis itu komen bla bla bla ...." Jemarinya bergerak menirukan mulut bebek seperti saat ia membacakan dongeng untuk Ashila.


"Iya, nggak lagi, deh." Seperti sudah hal wajib, Darma membelai rambut istrinya dan mencium keningnya.


"Shila juga mau dicium!" Akhirnya setelah beberapa saat diabaikan, Ashila berseru.


"Iyaaa, sini cium," jawab Darma dan Ara hampir bersamaan. Mereka menghujani puncak kepala putrinya dengan kecupan. Orang tua itu terkekeh. Kendati sudah memiliki anak, tapi jujur saja kadang keduanya masih seperti orang pacaran. Suka memperdebatkan hal-hal tidak penting.


Mobil jenis MPV yang dikendarai Pak Surip akhirnya tiba di mall. Keluarga kecil itu segera turun lalu masuk, sementara sopir mereka akan mencari tempat parkir.


"Ashila mau ramen juga nggak?" tanya sang ibu.


"Mauuuuu, tapi nanti beli pizza sama es kim, ya, Mami?"


"Iya, Sayang."

__ADS_1


Restoran Jepang yang biasa didatangi Ara memang selalu ramai, tidak peduli akhir pekan atau bukan. Karena itu, mereka harus menunggu sedikit lebih lama dan itu sukses membuat Ashila bosan.


"Mamiiii ...."


"Ya, Sayang? Kenapa?"


"Ke itu, yuk." Ashila menunjuk toko mainan yang masih bisa dilihat dari tempat mereka duduk.


"Masa baru sampai udah mau beli mainan?" tanya Ara. Dia bukan tidak mau menuruti keinginan putrinya, tapi kalau sudah duduk rasanya malas mau berdiri.


"Nggak boleh, ya?" Ashila mengeluarkan jurus andalannya. Pasang wajah memble.


"Boleh. Yuk, sama Papi." Bak seorang pahlawan kesiangan, sang ayah langsung mengiakan.


Ara kontan melirik tak suka. Matanya seakan mengatakan 'kebiasaan!'.


Darma tak acuh. "Yuk, Sayang. Shila mau mainan apa?" tanyanya ketika sang putri sudah berada dalam gendongan.


"Mau plinses yang mutel yang ada sayapnya telus bisa nyanyi sama tikel juga, ya, Papi?"


"Iya."


"Tikelnya yang banyak."


"Iya."


Ah, mengingat itu dia jadi ingat keinginan putrinya kemarin pagi.


"Shila mau bayi, Mami."


Ara menipiskan bibir, lalu ia pandangi anak serta suaminya. Jarak yang tidak terlalu jauh membuatnya bisa melihat jika dua orang yang sangat ia sayangi sedang sibuk memilih mainan. Karena percayalah, anak yang bilang ingin mainan A, nanti akan kembali dengan mainan berbeda begitu keluar dari toko.


Ara yang tadinya menyunggingkan senyum tipis lantaran suaminya seperti djahili oleh anak sendiri sontak tertegun saat tiba-tiba saja seorang laki-laki duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Maaf, Mas, kursinya ada yang nempatin," kata Ara bermaksud mengusir.


Laki-laki itu tidak menyahut. Asyik bermain ponsel.


Ara masih mencoba berpikir positif melihat meja di sebelahnya sedang dibersihkan. Mungkin lelaki di depannya sedang menunggu meja itu mengingat restorannya memang penuh.


Namun, setelah meja bersih dan pegawainya juga sudah pergi, Ara jadi waswas karena laki-laki itu tak kunjung beranjak. "Ehm! Mas, itu kursinya udah ada yang nempatin."


Masih tak mendapatkan respons, Ara yang tak ingin ribut memilih untuk memasukkan barang-barangnya yang di meja ke tas. Tapi, sebuah cekalan tangan langsung menahannya begitu ia berdiri.

__ADS_1


Jantung Ara berdegup kencang. Ia menarik tangannya yang mana membuat lelaki asing itu mengeratkan cengkeramannya.


"Sini aja. Makan sama saya."


Ara tak berucap. Sekuat tenaga ia menarik tangannya agar bebas, tapi nihil. Yang ada malah tangannya semakin sakit dan memerah.


"JANGAN KURANG AJAR KAMU!"


Ara terkejut sekaligus lega karena suaminya telah datang. Darma menarik tangannya agar mendekat.


"Nggak usah ikut campur, Om!" kata lelaki itu.


Dipanggil om oleh laki-laki yang umurnya mungkin sepantaran dengan Bima membuat Darma murka. Memang, sih, kumis serta janggutnya sudah mulai tumbuh dan belum sempat dicukur, tapi bukan berarti orang itu dengan sembarangan memanggilnya om. Darma ingin mengumpat, tapi diurungkan mengingat Ashila berada di gendongannya. "Jelas saya ikut campur. Kamu mengganggu istri saya."


"Istri?"


"Iya. Dia istri saya," tegas Darma. Tatapannya setajam belati.


Lelaki itu akhirnya pergi dengan rasa malu mengingat pengunjung lain juga seakan menelanjanginya.


Darma mengembuskan napas kesal sekaligus lega usai laki-laki asing tadi sudah hilang ditelan kerumunan. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Ara menggeleng. "Makasih udah dateng tepat waktu. Tadi aku udah takut banget."


"Lain kali jangan gini lagi, deh. Takut aku biarin kamu duduk sendirian di tempat ramai."


"Memang olang tadi siapa, Papi? Kenapa Papi ngomongnya kelas?" tanya Ashila.


"Tadi orang jahat. Mau ganggu Mami."


Bocah itu lantas memandang ibunya. "Mami baik, 'kan?"


"Mami nggak apa-apa, Sayang. Gemes banget, sih, khawatir gini. Oh, ya, Shila jadi beli mainan princess yang bisa nyanyi itu? Mami mau lihat, dong." Ara berusaha mengalahkan perhatian anaknya.


"Jadi, dong," jawab Ashila bersemangat. Ia membuka paper bag berisi mainan barunya. "Shila juga beli masak-masakan, lego, tikel samaaa ... ini tadi namanya apa, Papi?" tanyanya lupa dengan mainan berbentuk unicorn yang terdiri dari bulatan-bulatan.


"Pop it."


"Iya, pop it. Nanti kita main, ya, Mami?"


"Iya, tapi sekarang Shila makan dulu, ya," jawab Ara melihat pramusaji menghampiri meja mereka dan menyajikan tiga mangkuk mie ramen yang jenisnya berbeda-beda.


.

__ADS_1


Kasih tahu kalau ada typo


Tinggalkan like, komen, dan juga GIFT 👻👻👻👻👻👻


__ADS_2