Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
The Best Appetizer


__ADS_3

Keesokan paginya, Ara hanya bisa melengos ketika sudah siap berangkat kerja, tapi begitu membuka pintu depan rumahnya sudah ada mobil Darma memenuhi halaman.


Lelaki itu segera keluar dari mobil, lalu melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaannya sejak beberapa minggu lalu. Meminta izin kepada orang tua Ara agar gadis itu berangkat bersamanya.


Sebisa mungkin Ara memasang raut biasa-biasa saja saat berpamitan kepada orang tuanya sampai akhirnya duduk di jok mobil kekasihnya.


"Seharusnya Mas Darma nggak perlu repot-repot begini. Kantor kita 'kan beda arah," kata gadis itu seakan tak mampu membendung kekesalan di dalam hatinya.


"Biasanya kalau aku nggak ada rapat atau nggak bangun kesiangan juga gini. Kenapa sekarang tiba-tiba nggak suka? Masih marah gara-gara semalem?" Darma berdecak di penghujung kalimatnya dan memutar bola matanya malas. Niat hati ingin meminta maaf malah sudah lebih dulu disuguhi wajah ngambek pacarnya.


Ara mengatupkan mulutnya rapat-rapat, meski hatinya ingin sekali berteriak meluapkan segala emosi yang ada.


"Aku cuma khawatir. Takut kamu kenapa-napa, sedangkan kamu tahu aku lagi sibuk-sibuknya sekarang." Darma menoleh sejenak. Menelisik bagaimana raut wajah kekasihnya saat ini. Namun, ia tak mendapat jawaban sebab saat ini Ara melihat ke luar jendela.


"Tapi, nggak dengan cara ngomong kayak gitu. Posisiku emang nggak seberapa, tapi untuk sampai di titik ini itu nggak gampang. Aku harus ngalahin banyak orang."


"Tahu, kok, aku kalau itu nggak mudah buatmu. Kamu emang hebat bisa sampai di titik yang sekarang karena kerja kerasmu. Nggak kayak aku yang pakai orang dalam biar bisa duduk di kursi direktur." Sembari berkata demikian, perlahan Darma menaikkan laju mobilnya. "Kamu juga beruntung karena punya orang tua yang selalu mendukung kamu, membela kamu, dan membebaskan kamu untuk memilih apa yang kamu mau. Nggak kayak aku yang apa-apa sudah diatur dan harus nurut, tanpa ada yang membela apalagi mengerti."


Bak orang kesetanan, kini Darma mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil jenis SUV itu melesat membelah jalan protokol yang sudah cukup lengang karena jam anak sekolah sudah lewat. Di sebelah lelaki itu, Ara mencengkeram sabuk pengamannya dengan jantung berdebar.


Gila! Darma benar-benar gila. Lelaki itu bahkan tak menggubris saat banyak klakson sebagai bentuk umpatan tertuju kepada dirinya.


"MAS!" Ara memekik saat mobil Darma hampir menyenggol sebuah sepeda motor.


Lagi, Darma seakan tak acuh. Lelaki dalam balutan kemeja abu tua itu hanya menyeringai tipis.


"Mas, berhenti!" perintah Ara.


Darma menoleh sejenak, lalu menambah kecepatan mobilnya sebelum berbelok memasuki wilayah perkantoran milik temannya.


"MAS!"


"Udah sampai," jawab Darma begitu mobilnya berhenti tepat di depan lobi kantor Aldo.


Bahu Ara naik turun seiring dengan degup jantungnya yang masih tak beraturan. Melepas sabuk pengamannya, Ara lantas melirik Darma dengan tatapan marah.


"Kalau mau mati nggak usah ajak-ajak!" cetusnya, lalu membuka pintu mobil dan menutupnya dengan cukup kencang.

__ADS_1


Darma menyugar rambutnya frustrasi, lalu kembali menjalankan mobilnya dengan gaya yang sangat arogan. Kendati demikian, pada sore harinya Darma datang lagi untuk menjemput Ara.


Di ambang pintu lobi kantornya, hari ini Ara melengos untuk kedua kalinya melihat mobil yang pagi tadi ia tumpangi sudah terpampang di depan mata. Ara memilih untuk pura-pura tidak melihat dan berjalan ke arah lain dengan langkah kaki yang sangat cepat.


"Ra!"


Seruan itu terdengar dari belakang Ara bersamaan dengan pergelangan tangannya yang dicekal oleh Darma.


"Mau ke mana? Ayo, aku anterin pulang."


"Aku mau pulang sendiri." Ara menarik lengannya, tapi cengkeraman Darma yang terlampau kuat membuat usahanya sia-sia.


"Nggak boleh. Aku yang jemput kamu tadi pagi, aku juga yang mesti anter kamu pulang.


Parau Ara berkata, "Lepas, Mas, please ...."


"Kita ke mobil, baru aku lepasin."


"Mas ...." Bahu Ara bergetar dan perlahan pipinya basah oleh air mata.


Bugh! Bugh! Bugh!


Tinju itu melayang ke dada Darma. Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan pacarnya sendiri. Ara memukul Darma sebelum akhirnya menyetujui ajakan masuk ke mobil.


Di dalam mobil, tangis Ara semakin menjadi. Entahlah, semakin keras suaranya, maka semakin lega pula perasaannya.


Sementara Darma yang sudah duduk di balik kemudi berhasil dibuat kelabakan. "Ra, aku bener-bener minta maaf. Tolong, berhenti nangisnya, please."


"Aku capek, Mas. Badanku sakit semua, tapi kamu malah nyebelin, nggak asik, rese!" racau Ara kembali memukul-mukul tubuh Darma. Kali ini secara sembarangan.


Darma mencoba menghentikannya dengan memeluk paksa Ara. "Iya, aku emang nyebelin, nggak asik, terus rese. Karena itu, aku minta maaf," ucapnya sambil terus mengelus punggung kekasihnya.


"Mas ...." Di balik punggung Darma Ara merengek.


"Iya, kenapa?"


"Maaf ...."

__ADS_1


"Maaf buat apa? Kamu nggak salah. Kan awalnya aku yang udah bikin kita berantem."


Masih dalam pelukan Darma, Ara menggeleng. "Mungkin nggak bakal jadi sebesar ini kalau mood-ku nggak lagi berantakan gara-gara tamu bulanan yang baru dateng tadi siang."


Darma merenggangkan pelukannya, lalu katanya, "Perutmu sakit, dong."


"Iya, tadi siang. Sekarang udah mendingan."


"Kasihan calon istriku." Darma mengelus puncak kepala Ara. "Makan dulu, yah. Mau makan apa?"


"Eumm ... apa, ya .... Ramen? Kayaknya enak, deh." Ara mengukir senyum malu-malu. Apa tadi Darma bilang? Calon istriku? Aih! Begitu saja sukses membuat ribuan kupu-kupu dalam perutnya beterbangan.


"Boleh, tapi aku mau makan appetizer-nya dulu."


"Hah? Apa?" Ara tidak mengerti.


"Appetizer. Ini, lhoh." Darma mencondongkan badannya. Mendekatkan wajahnya sampai berhasil memagut bibir merah Ara selama beberapa detik.


"Your lips is the best appetizer I've ever tasted," kata Darma dengan segaris senyum yang begitu tulus, tapi juga terkesan sedikit nakal.


Ara menyunggingkan senyum. Bukan karena terharu, tapi karena bibir Darma yang kini ikut merah sebab terkena lipstiknya. "Mas, bibirmu merah."


"Hah? Kok bisa?" Darma langsung membuka aplikasi kamera di ponselnya untuk digunakan berkaca. Pupil matanya melebar melihat bibirnya belepotan lipstik milik kekasihnya.


"Kok, gini, sih? Biasanya 'kan enggak," ujarnya sambil meraih tisu di dashboard mobil.


"Tadi pagi gara-gara badmood aku sembarangan pake lipstik. Eh, ternyata yang kepakai yang nggak waterproof. Yang sebelah sini belum bersih." Ara mengambil tisu, lalu mengelap salah satu sudut bibir Darma yang masih menyisakan noda merah. "Mas, kalau gini bagus kali, ya, aku cium kerah kemeja kamu, terus balik-balik aku telepon mama kamu sambil nangis-nangis bilang kamu abis neko-neko."


"Raaaa ... jangan ngaco, deh. Kita mau nikah, lho. Lusa kita berangkat ke Jogja buat foto prewedding pertama. Inget itu," ujar Darma cemberut.


"Iyaaaaa .... Lucu, deh, kalau gini." Ara mencubit bibir Darma yang mengerucut mirip donald bebek, lalu menggoyangkannya hingga wajah pacarnya bergerak ke kanan dan ke kiri.


.


.


Your lips is the best appetizer I've ever tasted \= Bibirmu adalah makanan pembuka terbaik yang pernah aku rasakan

__ADS_1


__ADS_2