
Setelah memikirkan ucapan Darma tempo hari, akhirnya Ara benar-benar mundur dari pekerjaannya. Dan hari ini, seperti yang pernah laki-laki itu katakan pula, Ara mendatangi sebuah gedung bertingkat sesuai dengan alamat yang diberikan Darma. Gadis itu memandang cemas pintu kaca di hadapannya sebelum melangkah masuk dan menghampiri resepsionis.
"Selamat siang, Bu. Saya mencari Pak Darma. Apa dia ada?"
Wanita dengan rambutnya yang disanggul sederhana itu menatap Ara intens. Senyum meremehkan sontak terukir samar di bibir merahnya melihat penampilan Ara yang terlampau sederhana untuk bertemu seorang boss. Kemeja putih dengan bawahan celana jeans, serta sepatu converse warna abu-abu yang sedikit kotor karena kecipratan saat di jalan tadi menjadi pelengkap seakan gadis itu memang pantas dipandang sebelah mata.
"Sudah buat janji?" tanyanya malas.
"Sudah."
"Pak Darma-nya masih rapat. Tunggu aja di situ." Wanita itu menunjuk sofa panjang di lobi. "Nanti saya sambungkan ke ruangannya sekiranya udah selesai."
"Baik. Terima kasih." Ara beringsut mundur dan mendaratkan bokongnya di sofa yang ditunjuk.
Wajahnya mulai terlihat lelah setelah dua puluh menit berada di lobi kantor tidak ada tanda-tanda apa pun. Mencuri pandang ke arah resepsionis tadi, Ara dibuat menghela napas. Entah sudah berapa kali dia melihat wanita itu membubuhkan ulang make up-nya. Belum lagi, karyawan-karyawan yang berlalu lalang juga menatap heran dirinya.
"Apa Pak Darma belum selesai?" tanya Ara kembali menghampiri resepsionis tadi.
Wanita itu melirik tak suka, lalu mengukir senyum menyeringai. "Belum. Kalau capek pulang aja nggak pa-pa."
Dengkusan pelan terdengar. "Kalau toilet di mana, ya, Bu?" tanya Ara lagi dengan tingkat kesabaran level dewa. Dia tahu wanita di depannya tidak suka padanya, tapi apa alasannya? Ara tidak mencakar wajahnya, menjambak rambutnya, dan juga tidak merebut pacar atau suami wanita itu.
"Ke kanan, terus belok kiri nanti ada tandanya."
Ara hanya mengangguk. Ia masuk ke salah satu bilik begitu sampai di toilet dan membasuh wajahnya di wastafel, lalu kembali duduk di sofa yang sama. Ara melirik jam tangannya. Sudah hampir jam makan siang, pantas saja semakin banyak karyawan yang keluar kantor. "Apa aku pulang aja, ya?" batin gadis itu mulai tak nyaman.
Di tengah kegelisahan yang melanda, ponsel Ara tiba-tiba berdering. Nama laki-laki yang sedari tadi ia tunggu terpampang jelas di sana. Ara sudah mau menggeser ikon hijau ketika sebuah suara membuatnya mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Ara! Kok, kamu malah di sini?" Darma berjalan mendekati gadis yang sudah tampak lesu.
"Terus di mana? Tadi aku tanya, katanya kamu lagi rapat. Jadi, aku disuruh nunggu di sini."
Darma memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dan tatapan tajam langsung mengarah pada si resepsionis. "Kamu kalo masih pengen kerja di sini. Kerja yang bener, ya!"
"I-iya. Maafkan saya, Pak." Wanita itu mengucapkannya berulang kali dengan kepala tertunduk.
Darma tak acuh. Dia sudah kembali menghadap Ara. "Kamu udah lama di sini?"
"Baru, kok."
"Bohong! Muka kamu capek gitu."
Detik berikutnya, entah sadar atau tidak Darma langsung meraih tangan Ara dan menggandengnya menuju lift untuk sampai di ruangannya begitu gadis itu berdiri.
Dapat Ara rasakan bahwa bukan hanya tangannya yang menghangat, tapi sesuatu di dalam sana juga sepertinya ikut merasakannya diiringi desiran aneh yang muncul secara tiba-tiba.
"Siap, Pak."
Darma membuka pintu ruangannya dengan Ara yang mengekor di belakangnya. "Ini ruang kerjaku. Kalo kamu ke kantor lagi langsung masuk sini aja."
"Nggak sopan, dong," ujar Ara sambil mengedarkan pandangan.
"Liatnya sambil jalan biar jelas." Darma terkekeh.
Ara tersenyum kikuk, tapi ia ikuti juga apa kata laki-laki yang hari ini tampil menawan dalam balutan kemeja biru dongker. Eh, tapi kapan, sih, Darma tidak pernah menawan apalagi kalau sedang tersenyum.
__ADS_1
"Masa pasang foto sendiri, sih," ujar Ara melihat foto Darma di meja kerja lelaki itu.
"Maunya foto siapa? Pacar aja nggak punya," jawab Darma sambil membuka kaleng soda yang baru ia ambil dari kulkas.
"Carilah."
"Kamu aja gimana yang jadi pacarku? Mau nggak?"
Ara yang sedang melihat koleksi buku di rak kontan menoleh. "Ngaco!"
"Nggak ngacolah. Mau nggak?"
"Nggak!"
"Masih ngarep sama yang kemaren, ya?"
"Nggak, tuh. Di kamusku nggak ada kata balikan."
Darma manggut-manggut. Setelahnya, Fanny masuk untuk mengantarkan makanan pesanan boss-nya.
"Dessert-nya menyusul, ya, Pak. Ojeknya belum sampe."
"Ya."
Begitu Fanny keluar ruangan, Ara langsung menyeletuk, "Kamu cuci tangan dulu sana, biar aku yang siapin."
"Kamu, kamu, kamu. Emang aku Gusti."
__ADS_1
"Hehe ...." Ara menyengir kuda. "Cuci tangan dulu, ya, Mas Darma. Makanannya biar Ara yang siapin."
"Nah, gitu dong!" Lagi, sebuah tindakan yang membuat tubuh Ara berdesir Darma lakukan. Ia mengusap puncak kepala gadis itu dengan gemas sebelum kemudian berlalu menuju toilet yang ada di ruangannya.