Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Cucu Kesayangan


__ADS_3

Denting sendok dan garpu memenuhi ruang makan salah satu rumah bergaya modern yang terletak di sebuah perumahan elite. Di kursi yang letaknya paling ujung, sang kepala keluarga yang baru saja menyesap kopi hitamnya kini sedikit memiringkan tubuhnya untuk berbicara dengan putra sulungnya.


"Oma minta kamu buat nemuin dia," ucap Wira.


Darma mengembuskan napas panjang, lalu menyingkirkan piring berisi sarapan miliknya yang masih tersisa setengah. Ini masih pagi, tapi ayahnya sudah membuat suasana hatinya hancur seketika. "Aku usahain," jawabnya malas.


Menjadi cucu kesayangan mungkin impian banyak anak karena mereka tak perlu merengek pada orang tua untuk minta dibelikan ini dan itu. Tinggal datang ke rumah neneknya dengan wajah memelas, maka bim salabim semua barang-barang yang diinginkan mulai dari mainan hingga fasilitas belajar sudah ada di hadapannya. Ya, itulah yang Darma rasakan sewaktu kecil.


Dia bebas meminta apa saja yang ia mau. Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya ketika ia mulai beranjak dewasa. Ketika jiwa mudanya memberontak menginginkan kebebasan. Ketika teman-temannya dengan leluasa menentukan pilihan hidupnya, saat itulah kehidupan Darma yang sesungguhnya dimulai.


"Kamu harus masuk jurusan bisnis," tegas sang nenek tak terbantahkan.


Darma yang saat itu baru lulus SMA tentu saja menolaknya mentah-mentah. "Nggak! Aku mau masuk teknik. Aku mau jadi engineer ," ungkapnya mantap. Darma bahkan sudah membayangkan saat dia lulus nanti dan bekerja sebagai engineer di sebuah perusahaan besar di luar negeri. Dia pasti akan sangat bangga pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ratna hanya tersenyum miring mendengar cita-cita cucu kesayangannya. "Buang keinginanmu itu jauh-jauh. Kamu harus sekolah bisnis dan setelah lulus kamu akan langsung bekerja di perusahaan."


"Kenapa harus aku? Masih ada Papa, Om Rendra, Tante Maya, Tante Arumi, dan anak-anak mereka yang bisa mengelola perusahaan dengan baik." Darma menyebutkan saudara dari ayah serta sepupunya.


Sebenarnya masih ada satu lagi, yakni Wulan. Namun, adik bungsu ayahnya itu sudah menetap di Amerika karena mengikuti suaminya yang memang orang sana. Selain itu, Wulan juga sudah menjual saham perusahaan yang menjadi haknya kepada ibunya lantaran membutuhkan modal untuk usaha barunya bersama sang suami di tempat tinggal mereka yang baru.


"Oma tidak bisa percaya mereka." Ratna memasang wajah sendu. "Kamu sudah dewasa. Kamu pasti tahu tentang om dan tante kamu yang diam-diam justru menjual sahamnya kepada keluarga Baskoro." Senyum sinis tersinggung di bibir wanita itu.


Baskoro adalah adik tiri mendiang suaminya yang menuntut harta warisan berupa saham perusahaan di saat kematian sang suami bahkan belum genap empat puluh hari. Bahkan, Arumi menjual secara keseluruhan saham miliknya demi memenuhi hasrat hidupnya yang senang berfoya-foya.


"Kamu cucu Oma yang paling pintar. Harapan satu-satunya dan yang paling Oma percaya, bahkan melebihi papa kamu." Ratna berujar ditengah suaranya yang sudah parau.


"Sampai saat ini papa tidak berbuat kesalahan seperti yang dilakukan Om Rendra dan yang lainnya. Kenapa Oma nggak bisa percaya sama papa?" Darma masih mencoba mencari celah. Walaupun kasihan, tapi menurutnya dia masih bisa membahagiakan neneknya dengan caranya sendiri.

__ADS_1


"Karena kesalahan papamu berbeda, Dar. Bukannya kamu sudah merasakan akibatnya sejak kamu masih kecil?" Ratna menatap cucunya dalam.


Kepala Darma seketika tertunduk dengan senyum kecut terukir di bibir tipisnya. Dia mungkin mendapatkan semuanya secara utuh, kecuali satu.


Ayahnya.


Waktu, perhatian, dan kasih sayang yang dimiliki pria itu, Darma harus rela membaginya dengan saudaranya dari istri ayahnya yang lain.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen, ya!


KOMENTARMU ADALAH SEMANGATKU πŸ€ΈπŸ»β€β™€οΈπŸ€ΈπŸ»β€β™€οΈπŸ€ΈπŸ»β€β™€οΈ


__ADS_2