Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
One Fact


__ADS_3

Sudah sejak dari pagi Ara merasakan perutnya mulas. Bukan karena diare, melainkan karena rasa grogi yang muncul sebab sebentar lagi Darma akan menjemputnya untuk diajak ke rumah laki-laki itu.


"Bu, gimana ya? Aku takut, nih," keluhnya entah untuk yang keberapa kalinya. "Apa aku pura-pura sakit aja, ya, biar ditunda." Sebuah ide pasaran tercetus di pikirannya.


"Hush! Nggak boleh bohong gitu, ah. Kualat nanti." Bu Ata mengingatkan.


Ara mencebikkan bibirnya. Hidungnya sudah kembang kempis karena rasa cemas yang membelenggu.


"Udah ... mandi sana biar wangi terus dandan yang cantik. Jangan cemberut gitu, jelek!"


"Aku emang pernah jelek?" ujar Ara narsistik.


"Sering," celetuk Gusti yang baru pulang dari toko usai membantu ayahnya. "Ada tuh foto Mbak Ara yang lagi ngiler waktu ketiduran pas belajar kemaren. Mau liat? Masih fresh from the oven."


""Gus! Jangan macam-macam ya kamu." Ara mengancam. Tangannya kanannya sudah mengepal dan mengarah pada Gusti.


Remaja itu terkekeh. Sama sekali tak terpengaruh dengan ancaman kakaknya. Lagi pula, kalaupun benar-benar adu jotos sudah pasti dia yang menang.


"Mandi, Ra, bukan berantem. Bentar lagi ... Nah, lhoh!" Belum selesai Bu Ata berkata, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


"Aku intip bentar." Ara sudah ngibrit lebih dulu.


Lega bercampur kesal begitu ia mengetahui kalau ternyata mobil itu bukan kepunyaan Darma, tetapi milik tukang kredit panci dengan segala tet*k bengeknya. Ara berbalik badan dan langsung menyambar handuk.


"Lhoh, bukan Mas Darma?" tanya Gusti yang sedang mengobok-obok isi kulkas, mencari sesuatu yang bisa dimakan.


"Kang kredit."


"BUAHAHAAHAHAHA." Anak dan ibu itu kompak tertawa.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Darma berada di rumahnya, tapi yang jelas ketika Ara baru keluar dari kamar mandi ibunya langsung memberitahu kalau dirinya ditunggu.


"Makanya kalo disuruh mandi, mandi. Sekarang Darma udah dateng malah belom siap. Kasian tau kalo disuruh nungguin lama." Bu Ata mengomel.


"Iya, iya. Ibu di sini dulu bantu tarikin resleting," pinta Ara sebelum masuk ke kamar.


Ia membuka pintu dengan rambut yang masih basah dan acak-acakan. "Ibu, bantuin keringin rambut aku. Aku mau dandan," pintanya.


"Halah!" Sembari terus menggerutu, Bu Ata menerima hair dryer yang disodorkan padanya.


Dua puluh menit kemudian, Ara sudah siap dengan blouse warna biru muda yang dipadu dengan celana putih. Segera ia keluar untuk menemui Darma yang mungkin sudah pegal menunggu, tapi semoga saja tidak sampai jamuran.


"Maaf lama."


Darma menyunggingkan senyuman manis, lalu mengangguk sedikit. "Nggak pa-pa. Udah siap?"


Darma bangkit berdiri, kemudian berpamitan kepada Bu Ata sekaligus meminta izin untuk membawa anak gadisnya bertemu orang tuanya.


"Iya. Ibu titip Ara, ya, Mas. Hati-hati di jalan."


"Ibu tenang saja. Saya pasti akan mengantar pulang Ara tanpa ada lecet sedikit pun.


Mobil Darma melaju meninggalkan halaman rumah Ara. Berkali-kali Ara menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Rasa gugup itu semakin menjadi sampai-sampai dia tidak berani menengok ke arah Darma.


"Ra ...."


Ara terlonjak saat Darma meraih tangannya.


"Kamu ngalamun?" tanya lelaki itu lagi.

__ADS_1


"Ng-nggak, kok. Kenapa, Mas?"


"Aku mau kasih tahu kamu sesuatu yang penting." Darma menurunkan sedikit kecepatan mobilnya.


Jantung Ara berdegup kencang. "A-apa?"


"Istrinya papaku dua."


"Hah?" Saking terkejutnya Ara sampai memundurkan tubuhnya.


"Iya." Lelaki dibalik kemudi itu tersenyum tipis. "Kamu inget nggak laki-laki yang pernah kita temui di bengkel waktu ambil motor kamu?"


Ara hanya bisa mengangguk.


"Dia anak papaku dari istri mudanya."


"Tapi kok ...." Ara menggigit bibir bawahnya, mengurungkan niatnya untuk menanyakan hal yang sepertinya terlalu sensitif.


"Tapi, kok, apa? Tanya aja nggak pa-pa."


"Eee ... tapi, kok, kayak seumuran kamu?"


"Namanya Lingga. Aku sama dia beda tiga tahun dan Lingga ini masih punya kakak perempuan." Raut wajah Darma sulit dibaca. Terlihat tenang, tapi seperti menyimpan sesuatu yang sulit diungkapkan. "Papaku diem-diem nikah lagi sama perempuan lain, waktu mama lagi hamil aku."


Ara tak bisa dibuat berkata-kata dengan penuturan laki-laki di sebelahnya. Darma yang terlihat sempurna dari segi rupa dengan hartanya yang berlimpah, nyatanya menyimpan sesuatu yang sangat menyakitkan.


"Tapi, kamu jangan khawatir, Ra. Karena aku nggak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang papaku lakukan ke mama. Aku serius dengan hubungan ini dan aku mau kita sampai menikah. I love you, Ara." Untuk ke dua kalinya, Darma mencium punggung tangan gadis itu.


"I love you, too."

__ADS_1


__ADS_2