Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Park Min Young


__ADS_3

"Keturunan yang bagus karena lahir dari keluarga yang sama-sama mentereng ...."


Kalau mengingat kata-kata itu, rasa-rasanya Ara jadi ingin menampiknya tepat di depan dua orang yang secara tidak langsung merendahkannya. Dia memang bukan orang berada, tapi bukan berarti dia dididik dengan cara yang tidak baik oleh orang tuanya.


Tidak usahlah membawa silsilah keluarga yang cuma bikin kepala mumet. Cukup lihat bagaimana nenek dari pacarnya dan perempuan bernama Imelda itu memandang Ara sebelah mata. Tidakkah itu cukup membuktikan bahwa keturunan yang bagus bukan dari keluarga seperti apa mereka berasal, tapi bagaimana cara orang tua mendidik seorang anak dengan benar sehingga memiliki karakter yang baik.


Ara melengos. Mengingat itu membuat pikiran dan badannya yang sudah cape jadi tambah cape. Mendudukkan tubuhnya di lantai, Ara bersandar pada lemari kaca tempat di mana barang-barang dagangan orang tuanya ditata. Sudah seminggu ini dia membantu ayahnya di toko karena tekanan darah Bu Ata naik gara-gara kelelahan.


"Ra, bikinin kopi susu, dong," pinta Pak Narto diiringi embusan napas berat. Keringatnya bercucuran usai mengangkat beberapa barang.


"Nggih." Ara bangkit berdiri dan menuju belakang bagian belakang toko.


Karena kopi susu yang dimaksud hanyalah kopi susu sachet-an, kurang dari satu menit Ara sudah kembali dengan mug gambar Mickey Mouse di tangannya. "Nih, Pak."


"Kamu kalau haus ambil minum aja," kata Pak Narto sebelum menyesap kopinya.


"Nggak pake disuruh juga udah ambil." Ara tertawa, lalu membuka lemari pendingin, mengambil minuman bervitamin untuk yang kedua kalinya di hari ini.


Tenggorokannya akhir-akhir ini memang terasa kurang enak karena cuaca sangat tidak bersahabat. Pagi teriknya minta ampun, tapi lewat jam dua belas, mendung sudah menyelimuti. Seperti sore ini, Ara langsung bergegas memasukkan berkrat-krat telur yang ada di depan toko karena gerimis mulai turun.


"Biar Bapak aja, Nduk." Pak Narto mau tidak mau ikut beranjak.


"Kuat, kok, aku." Ara bersikukuh membantu.


Pak Narto tidak bisa apa-apa selain membiarkan. Anak gadisnya itu memang sedikit keras kepala. Tidak butuh waktu lama, ayah dan anak itu sama-sama tersenyum diiringi embusan napas lelah begitu pekerjaan mereka selesai.


"Ujiannya waktu itu bisa?" tanya sang ayah.


Ara yang hendak minum sontak menjauhkan mulut botol dari mulutnya. "Yah ... gitu, deh."


"Kok, gitu, deh? Kira-kira lolos nggak?"


"Ya, semoga aja lolos. Kalau enggak, aku mau cari kerja di kota gede aja." Ara menatap ayahnya, melihat setiap perubahan ekspresi pria paruh baya itu. Takut tidak boleh.


"Darma jadi jemput pulangnya?" Pak Narto mengalihkan pembicaraan.


"Jadi. Kenapa, Pak?"


"Nggak apa-apa. Ibunya Darma kerja juga?"


"Nggak tahu. Kayaknya, sih, enggak." Ara mulai tak nyaman. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang.


"Rumahnya gede, ya, Ra?"


"Iya, tiga lantai. Pembantunya banyak." Ara meringis mengingatnya. Kelihatan sekali perbedaan status sosial antara dirinya dan Darma.


Pak Narto hanya mesem, lalu beranjak untuk menutup rolling door toko. "Kamu catetin apa yang habis, ya, biar besok tinggal belanja aja."


"Siap, Bos!"


Ara segera menuju lemari kaca, mengambil sebuah kertas kosong beserta pulpen. Matanya mengedar, menatap toko kecil milik orang tuanya sembari mengingat-ingat apa saja yang habis, kemudian mencatatnya.


"Beli rokok, Mbak." Suara milik seorang lelaki membuat gerakan tangan Ara terhenti.


Gadis itu menegakkan kepala. "Rokok a ... pa ... Mas?" tanyanya berangsur-angsur pelan melihat pembelinya ternyata pacarnya sendiri.

__ADS_1


Darma menyunggingkan senyum manis yang sayangnya tidak berpengaruh apa-apa bagi Ara.


"Rokoknya abis. Tokonya juga mau tutup," kata Ara galak.


"Ada banyak gitu, kok, bilang abis." Darma menunjuk etalase di belakang Ara.


"Nggak ada rokokmu di sana."


"Ada, tuh. Beli satu, Ra."


"Mas!" Ara berujar tak santai. Dia keluar dari tempat dirinya biasa melayani pembeli, dan kini sudah berdiri berhadapan dengan Darma. "Kenapa kamu tiba-tiba ke sini?"


"Mau ngajak kamu makan." Darma masih terlihat tenang, dan sebelum Ara menjawab, dia sudah menghampiri Pak Narto untuk meminta izin.


"Yuk, boleh, tuh, sama bapak kamu."


Darma membawa Ara ke sebuah restoran yang cukup jauh. Lelaki itu juga memilih meja yang ada di rooftop yang kondisinya tidak terlalu ramai.


"Mau makan apa?"


"Apa aja."


"Nggak ada makanan apa aja, Ra." Darma menyerahkan buku menu, meminta Ara memilih sendiri.


Ara memesan nasi goreng dan es jeruk.


"Dingin-dingin gini minum es?" tanya Darma setelah pelayan restoran tadi pergi.


"Aku gerah." Ara berbohong.


Darma terlihat lahap sekali. Dalam hitungan menit makanan di piringnya telah tandas, tanpa mengacuhkan Ara sama sekali. Sangat berbanding terbalik dengan Ara yang makannya justru sangat pelan.


"Kamu kenapa, sih, Ra?"


Ara tidak jadi menyendokan nasi goreng ke mulutnya. "Nggak apa-apa, kok."


Darma mendengkus. "Kamu nggak sadar, ya, sikapmu selama seminggu ini jadi aneh banget. Cuek terus kesannya kasar gitu."


"Maaf, aku cuma cape aja." Ara menundukkan kepala. Sendok di tangannya juga telah terlepas. Nafsu makannya benar-benar hilang.


"Cape?" Darma tersenyum sinis. "Aku juga cape, Ra. Kamu nggak tahu berapa banyak pekerjaan yang aku tinggalin buat ketemu kamu. Aku samperin kamu ke toko dan kamu malah tanya kenapa aku ke sana? Ya, jelas, aku pengen ketemu kamu. Ketemu pacarku, tapi kamu malah kayak nggak seneng."


"Kalau Mas Darma cape, aku pulang sendiri aja nggak apa-apa."


"Kamu pikir aku cowok apaan? Udah minta izin sama orang tua kamu buat ajak anaknya pergi, tapi pulangnya nggak dianterin. Sengaja biar nama aku jelek di depan orang tuamu?" Emosi Darma bertambah.


"Pulang sekarang aja." Ara memalingkan wajah, menghapus air mata yang jatuh.


Darma melihatnya, tapi ia seakan tak peduli. "Habisin dulu makanannya. Nggak bagus buang-buang makanan."


Ara tak menjawab. Meraih kembali sendok, ia makan nasi gorengnya dengan sangat hati-hati agar tidak tersedak.


"Udah?" tanya Darma beberapa saat kemudian yang hanya dijawab dengan anggukan.


Mereka keluar dari restoran setelah Darma membayarnya.

__ADS_1


Ara sudah duduk manis di jok depan, menunggu laki-laki di sebelahnya menyalakan mesin mobil.


Namun, apa yang Darma lakukan? Ia justru memasangkan sabuk pengaman, sebelum kemudian mengecup sekilas bibir Ara dan mengusap lembut pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.


"Kamu kenapa, hm?"


Susah-susah Ara menahan agar tidak menangis, tapi meleleh juga air matanya ditatap sehangat itu oleh Darma. "Aku ...."


"Aku ditegur sama Bima." Darma menyela. "Kamu minta tolong dia buat nunjukin toilet, 'kan? Katanya aku jahat karena biarin kamu kayak orang bingung dan tentang Oma ...."


Pupil mata Ara melebar. "Kamu tahu?"


"Bima yang tahu dan dia cuma cerita intinya. Maafin aku." Darma memeluk Ara erat. "Maaf juga buat yang tadi udah bikin kamu nangis."


Tangis Ara semakin menjadi. Kemeja Darma sampai basah oleh air matanya.


"Oma emang kayak gitu. Orangnya keras, dari dulu papa aja cuma bisa nurut. Pelan-pelan nanti Oma juga pasti berubah. Kalau Imelda, mah, biarin aja."


"Berubah gimana?" Ara merenggangkan pelukannya. "Kalau pada dasarnya mereka udah nggak suka sama aku, mau aku kasih mereka uang semiliar juga nggak akan mengubah apa pun."


Darma menaruh kedua tangannya di bahu Ara. Tatapannya sangat serius sampai berhasil membuat gadis di depannya menelan ludah. "Kalau misal berubah, emang kamu punya uang semiliar?" Dalam jangka waktu sepersekian detik, ekspresi Darma sudah berubah menyebalkan.


"Maassss ...." Ara merengek, lalu menyembunyikan wajahnya di dada lelakinya. "Aku minta sama kamu."


"Boleh, apa aja aku kasih asalkan kita udah nikah."


"Kenapa harus nikah dulu?"


"Soalnya kalau belum nikah, terus kamu udah kaya duluan, aku ditinggalin karena kamu cari yang lebih ganteng."


Ara mencubit pinggang Darma. "Aku nggak gitu, ya."


"Masa, sih?" Darma menggoda.


Bibir Ara sudah manyun.


"Iyaaaa ... gitu aja ngambek." Darma mengacak-acak rambut Ara. "Aku, tuh, sayang banget sama kamu, Ra. Aku juga orangnya cemburuan. Kamu nggak sadar, ya, sejak kita pacaran aku nggak pernah lagi pakai mobil yang dulu dipake sebelum kita jadian."


Ara jadi mengamati mobil tempat ia duduk sekarang. "Aku nggak perhatiin, tapi emang kenapa kamu nggak mau pake lagi?"


"Soalnya di mobil itu kamu pernah nangisin mantan kamu .... Siapa namanya? Elang? Huh!"


"Cemburu, ya?" Gantian Ara yang menggoda. "Yeah, begitulah risiko pacaran sama orang cantik, Mas."


"Ngerasa cantik? Cantikkan juga Park Min Young." Darma menyebutkan nama aktris asal Korea Selatan yang menjadi idolanya.


"Iiihh, kamu tahu? Suka nonton drakor emang?" Ara benar-benar terkejut dibuatnya.


Darma meringis telah membongkar kartu As-nya sendiri. "Dulu sering dipaksa Silvia suruh nemenin dia nonton," alibinya, lalu mulai menjalankan mobil sebelum diberondong pertanyaan aneh-aneh oleh Ara. Darma memang suka menonton drama Korea, tapi kalau pemain utamanya Park Min Young. Selain itu, malas.


.


.


Panjang banget ini babnya, tapi nggak sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan 🎶🎶🎶

__ADS_1


__ADS_2