Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Stop it!


__ADS_3

Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ara, Darma mulai melajukan mobil menuju rumah sang kekasih. "Kamu tambah kurus," katanya, lalu mencium punggung tangan Ara saat di lampu merah.


"Masa, sih?" Ara jadi menunduk, menatap tubuhnya sendiri. "Kurang tidur kali, ya."


"Kan udah nggak belajar. Suka begadang diem-diem, ya?"


"Hehe ...." Ara menyengir kuda. "Kadang-kadang, kan, pengen nonton film, tapi akhir-akhir ini emang lagi cape. Ibu sakit. Jadi, aku yang bangun pagi buat masak sama beres-beres sendirian."


"Ibu sakit?" Sejenak Darma menoleh. "Kenapa nggak bilang?"


"Kamu, kan, sibuk, Mas. Tadi kamu juga bilang banyak kerjaan yang ditinggalin. Aku nggak enak."


Genggaman tangan Darma mengerat. Rasa bersalah di dalam hatinya jadi bertambah. "Maaf, ya."


"Aku ngerti, kok. Mau cape kayak gimana juga seharusnya aku nggak jadiin Mas Darma pelampiasan."


Darma jadi terkagum-kagum, kan, kalau begini. Ara memang paket yang dikirimkan Tuhan untuk melengkapi hidupnya. "Mau makan lagi nggak? Tadi nggak abis, kan, makannya?"


"Udah kenyang. Porsinya kayak kuli nasi gorengnya."


Darma tertawa sebelum kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket.


"Lhoh? Mas Darma mau ngapain?" tanya Ara bingung


"Mau numpang tidur. Ya, mau belanja, lah!" Laki-laki itu keluar dari mobil diikuti Ara sesaat setelahnya.


Ara hanya diam melihat Darma mengambil sebuah troli yang berada di dekat pintu, lalu masuk dengan langkah pasti seakan hafal tempat itu. Ara memicingkan mata saat Darma menuju salah satu lorong yang kanan-kirinya dipenuhi berbagai macam makanan.


"Ibu suka apa?"


"Eh?" Ara menjengit kaget ketika Darma tiba-tiba saja berhenti.


"Ini mau?" Darma mengambil sebuah sereal. "Eh, ini juga kayaknya bagus." Ia juga mengambil oatmeal, kemudian memasukkannya ke troli.


Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Darma untuk memenuhi troli belanjaannya dengan berbagai macam makanan.


"Mau shin ramyun." Ara menyebutkan merek mie instan asal Korea.


"Nggak sehat itu. Ini, lhoh, udah aku beliin susu banyak." Darma menunjuk lima liter susu yang ia beli.


"Kan aku pengennya mie." Ara merajuk. Bibirnya mengerucut dengan tampang sebal.


"Iyaaaaa ... ambil dua, buat Gusti satu."

__ADS_1


"Perhatian banget, sih, sama Gusti. Nyebelin gitu juga." Ara tak suka. Cemburu lebih tepatnya. Padahal adiknya laki-laki. Entah apa jadinya kalau Gusti perempuan.


"Yah, siapa tahu abis dikasih sogokan gini langsung disuruh buat ngelamar kamu." Darma tersenyum menggoda, meski batinnya serius akan ucapannya.


"Ngebet nikah, Mas? Eh, tapi kita belanja bareng gini jadi kayak pengantin baru ya." Ara senyam-senyum tidak jelas.


"Nyeh! Ternyata kamu juga pengen, kan? Hahahaha ...." Darma terbahak-bahak sampai mendapat lirikan dari beberapa pengunjung dan seorang pegawai yang sedang menata barang di ujung lorong.


Karena masih punya rasa malu, akhirnya pasangan kekasih itu menuju kasir setelah Ara mencemplungkan dua Shin Ramyun dan dua mie Arirang. Korupsi!


Setibanya mereka di rumah Ara, Pak Narto dan Bu Ata kaget dibelanjakan sebanyak itu oleh Darma, dan itu terus berlanjut selama beberapa minggu ke depan. Selama dua atau tiga hari pasti ada yang mengirimkan paket berisi bermacam-macam makanan ke rumah Pak Narto. Pasangan suami istri itu jadi tak enak hati sehingga menyuruh Ara menyampaikan kepada Darma agar berhenti mengirimkan makanan.


"Ra, kamu udah bilang ke Darma belum, to? Kok, masih aja ngirim makanan ke sini. Nggak enak tahu, ntar dikiranya kamu yang minta."


Pulang-pulang dari toko, Ara diberi wejangan oleh sang ibu. "Aku udah bilang kemaren. Emang dikirimin lagi?" tanyanya sambil melepas jaket denim favoritnya.


"Tuh, liat sendiri. Bilang berhenti, ya, Ra. Ibu juga udah sembuh, lho. Nggak usah repot-repot segala."


"Iya, nanti aku bilang." Ara mengembuskan napas lelah. Gara-gara lelaki yang sudah dua minggu ini berada di ibukota, ia harus benar-benar meyakinkan orang tuanya kalau apa yang pacarnya lakukan diluar kendalinya. "Mas Darma juga dibilangin pake ngeyel segala," batinnya menggerutu.


Ara sudah mandi dan makan malam sebelum melakukan panggilan telepon. Keningnya sempat mengerut melihat panggilannya ditolak. Namun, menyadari Darma mungkin saja sedang telepon dengan orang penting, dia mencoba bersabar dengan menunggu beberapa saat.


Gayung bersambut. Tak sampai satu menit, nyatanya sebuah panggilan video masuk ke dalam ponsel. Usai merapikan rambut dan memastikan tidak ada cabai menyelip di gigi, Ara menggeser ikon hijau di layar.


"Halo, Sayang." Darma menjawab lembut, tanpa merasa bersalah sudah menolak panggilan Ara barusan.


"Kenapa tadi nggak diangkat?"


"Kan mau video call. Mau lihat pacarku yang cantik."


"Gombal! Cantik mana? Aku apa Park Min Young?" tanya Ara menantang.


"Kamu, dong. Kamu yang paling cantik." Darma memuji.


"Bohong!!!" Ara menyanggah.


Darma sudah mau membuka mulut, mengeluarkan kalimat yang kata Ara adalah gombalan receh, tapi Ara sudah lebih dulu kembali bersuara.


"Mas?"


"Ya, Sayang?"


"Jangan kirimin makanan lagi, please," ucap Ara memohon.

__ADS_1


"Kenapa? Cuma itu yang bisa aku lakuin sekarang."


"Nggak, pokoknya! Aku marah kalau kamu kirimin lagi!" Ara menolak keras.


"Iyaa ... tapi ...."


Ara melayangkan tatapan waspada. "Tapi, apa?"


"Cium dulu." Darma memonyongkan bibir.


Ara tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. "Gak mau, ah. Geli."


"Cepet! Atau mau aku kirimin makanan satu truk!"


"Mas!" Ara menutupi wajahnya malu.


"Satu ... dua ...."


"Ya, ya, ya." Ara memberi kecupan virtual dengan wajah semerah tomat.


Darma terkekeh-kekeh setelahnya. Lucu dan gemas bercampur jadi satu. Jadi, ingin cepat pulang dan bertemu dengan pacar tercintanya. "Oh, ya, besok pengumuman ujiannya, 'kan?" Dia memang selalu ingat dengan hal-hal kecil sekalipun tentang Ara.


"Iya, jam tiga sore." Wajah Ara mendadak pias.


"Lusa aku juga udah di Solo. Kita jalan, ya, buat rayain."


"Rayain 'kan kalau lolos. Kalau enggak?"


"Pasti lolos, lah! Gurunya aja ganteng begini masa nggak lolos." Darma mengedipkan sebelah matanya.


Ara menampilkan ekspresi menantang. "Oh, berarti kalau nggak lolos salah gurunya, ya!"


"Iyaaa ... hukum aja gurunya ntar. Ikhalas aku, mah, dihukum sama kamu." Darma mengul*um senyum, sedangkan Ara lagi-lagi memasang tampang kesal. "Eumm ... udah dulu, ya, Ra. Mau mandi, bau asem." Ia mencium kerah kemeja warna army yang dikenakan.


Ara pura-pura bergidik jijik karena ia tahu seasem-asemnya Darma, ya, tetap wangi. Tetap enak buat nempel-nempel. "Iya. Aku juga mau tidur."


Mereka saling melambaikan tangan, dan detik berikutnya panggilan video itu terputus.


.


.


Bonus foto yang minta cium

__ADS_1



__ADS_2