Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Ternyata Kamu


__ADS_3

Ara meringis merasakan perih di salah satu sikunya. Menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada orang di sekitar situ. Mereka yang berlalu lalang juga seakan tak peduli, kecuali sebuah mobil yang mendadak berhenti di depannya. Mobil yang cukup familiar karena ia pernah menaikinya sebanyak dua kali.


"Darma ...." Ia menggumamkan nama laki-laki yang baru turun dari mobil.


"Mikirin apa, sih?" tanya Darma ketika sudah berjongkok di depan Ara.


"Hah?" Ara tampak seperti orang bodoh sekarang karena tidak mengerti ke mana arah pembicaraan laki-laki itu.


"Dipanggil nggak nyaut malah ngebut. Jatuh, kan?"


Dengkusan kasar sontak terdengar jelas dari mulut Ara. "Jadi, kamu yang panggil-panggil?"


"Iya, masa ga hafal suaraku kayaknya udah beberapa kali ketemu, deh." Darma begitu percaya diri.


Kekesalan dalam hati Ara semakin memuncak. Memangnya di dunia ini hanya Darma seorang yang memiliki suara seperti itu? Yang mirip-mirip juga pasti banyak kali!


"Tau nggak aku jatuh gara-gara kamu!" Ara menyalahkan.


Darma sedikit membeliak. Tidak terima dirinya dijadikan penyebab gadis itu jatuh dari motor. "Kok jadi nyalahin aku, sih? Aku 'kan cuma manggil."


"Ya, aku pikir itu orang rese yang hobi catcalling, makanya nggak nengok."


Darma mengangguk membenarkan ucapan Ara. Jika dirinya yang dipanggil seperti tadi juga belum tentu menggubris. Detik berikutnya, Darma tersadarkan oleh Ara yang sedang meniup luka di lengannya yang cukup parah karena jaket denim yang dikenakan saja sampai bolong.


"Lepas aja jaketnya. Aku anterin ke rumah sakit, yuk."


"Daripada ngurusin aku, tolong tengokin motorku, dong. Apa-apa apa enggak." Ara meringis. Entah karena luka yang ia dapat atau karena mendapati lampu sen kiri motornya pecah begitu Darma memberdirikan motornya.

__ADS_1


Sementara dalam hatinya, Darma membatin, "Udah jatuh aja yang dipikirin malah motor. Dasar aneh!"


Wajah yang sudah kusut setelah seharian bermain bersama Keyla tampak semakin kusut menyadari badan motornya juga tergores cukup panjang. Ara melengos sedih sekaligus pasrah, sedangkan otaknya sudah mengira-ngira berapa biaya perbaikannya jika dibawa ke bengkel.


"Yo!"


Seruan itu menyadarkan Ara dari lamunannya. Seorang laki-laki berkulit sawo matang tergopoh-gopoh menghampiri dirinya dan Darma.


"Ya, Mas, ada apa?"


"Apa, apa! Kamu pikir aku nggak liat kamu dari tadi mesam-mesem nggak jelas."


Yang dimarahi hanya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala bagian belakang.


"Kamu bawa motor ini ke bengkel. Aku mau ke rumah sakit." Darma menunjuk motor matic di depannya.


Decak sinis terdengar dari mulut Darma. "Bilang nggak pa-pa, tapi mukanya kayak mau mewek," batin laki-laki itu tertawa.


"Nurut aja, sih. Kan tadi kamu bilang gara-gara aku kamu jadi jatuh." Darma terkekeh melihat wajah gadis di hadapannya sudah merah padam. Persis seperti saat dia mengingatkan hutangnya kepada si rentenir kecil. Ah, tampaknya panggilan itu sangat cocok disematkan pada Ara. Darma mengangkat salah satu sudut bibirnya. Merasa lucu dan lain daripada yang lain.


"Udah sana bawa motornya, Yo, abis itu kamu langsung pulang aja." Darma memberi perintah.


"Siap, Mas. Saya bawa ke bengkel langganan Mas Darma, ya." Cahyo berlalu setelah mendapat anggukan dari majikannya.


Sesaat setelahnya, Darma dan Ara pun menuju rumah sakit terdekat. Ya, apa yang bisa dilakukan Ara selain menurut. Tidak mungkin juga 'kan dia pulang dengan kondisi seperti itu. Apa kata orang tuanya nanti?


Karena ternyata pinggul Ara sakit untuk berjalan, Darma pun memapah gadis itu mulai dari memasuki mobil hingga tiba di ruang pemeriksaan. Selain itu, dia juga membantu melepaskan jaket Ara karena lengan gadis itu tidak bisa ditekuk akibat luka yang cukup lebar.

__ADS_1


Sembari menunggu Ara selesai ditangani, Darma menghubungi seseorang di seberang sana. Berkali-kali, tapi tak jua mendapatkan jawaban.


"Nggak diangkat," katanya begitu memasuki bilik kecil di mana Ara berada sesaat setelah perawat yang menangani gadis itu keluar.


Ara masih berbaring di ranjang pasien sambil meringis karena pengaruh obat yang dibubuhkan di lengannya, sedangkan pinggulnya sudah terasa lebih baik.


"Emang telepon siapa?"


"Pacar kamu."


"HAH?"


"Elang. Dia rekan kerja aku. Nggak usah lebay, deh." Darma mengembuskan napas kasar. "Aku telepon sekali lagi, ya?"


"Jangan!" Hanya dalam hitungan milidetik, ponsel Darma sudah berpindah ke tangan Ara.


Kening laki-laki itu mengernyit heran. "Biar nggak ada salah paham dan nggak ada drama telenovela kayak waktu itu." Darma mau tidak mau terkekeh karena ucapannya sendiri.


"Nggak bakalan ada apa-apa. Orang udah putus juga "


"Eh?" Darma agaknya sedikit terkejut.


"Nggak usah lebay, deh." Ara meng-copy paste omongan Darma. "Udah lumayan lama, kok."


Darma hanya manggut-manggut. Tak mau bertanya lebih lanjut. Bukan ranahnya!


Setelah Ara merasa lebih baik, mereka pun keluar dari rumah sakit usai Darma menyelesaikan administrasi dan menebus obat milik Ara. Dan benar saja, raut terkejut bercampur khawatir langsung tergambar di wajah Pak Narto dan Bu Ata begitu putrinya sampai di rumah dengan perban di lengannya.

__ADS_1


__ADS_2