
Menjelang perayaan ulang tahun Wira yang akan digelar beberapa jam lagi, sikap Darma belum juga berubah. Jangankan untuk berbicara, menatap istrinya saja dia masih enggan. Ara sungguh stress dibuatnya. Wanita itu benar-benar seperti orang asing di rumahnya sendiri. "Enggak! Aku nggak bisa kayak gini terus," katanya bermonolog seraya memandang pantulan wajahnya di cermin.
Usai membubuhkan lipstik warna nude ke bibir, Ara beranjak untuk menuju walk in closet guna mengambil sepatu. Sebuah keberuntungan bagi Ara ketika memilih sepatu yang berjejer rapi di etalase, Darma juga masuk ke sana. Namun, seperti yang sudah-sudah laki-laki itu seakan tidak menganggapnya ada.
"Mas!" Ara menahan lengan suaminya. Ya, mereka harus berbicara saat ini juga.
Darma menatap tangan Ara yang mencekalnya, mengempaskannya, lalu berniat pergi. Tapi, sebelum ia keluar dari pintu seruan dari istrinya berhasil menghentikan langkahnya.
"Aku emang salah, tapi tolong jangan hukum kayak gini terus-terusan. Kamu diemin aku. Anggap aku seakan aku nggak ada di sini."
"Bukannya itu juga yang kamu lakuin?" Darma lantas membalikkan badan. Memandang Ara dengan mata memicing, lalu lanjut berkata, "Kalau kamu menganggap aku, kamu pasti bilang dulu. Minta pendapat gimana kalau kamu mau ketemu mantanmu. Boleh nggak? Tapi, sayangnya kamu nggak ngelakuin itu. Kamu merasa itu nggak perlu. Sampai sini jelas?"
Ara mematung di tempat. Kata-katanya seketika habis. Ucapan Darma tak bisa ia bantah. Memandang ke bawah, decakan pelan disusul langkah yang perlahan menjauh membuatnya makin takut. Sampai kapan suaminya marah kepadanya?
......................
Lantai satu restoran mewah yang dipilih Silvia sebagai tempat perayaan ulang tahun ayahnya tampak ramai setibanya Ara dan keluarga kecilnya tiba di sana. Berjalan menaiki tangga, Ara hanya bisa menarik napas dan mengembuskannya perlahan melihat Darma melangkah sambil menggendong Ashila, tanpa menghiraukannya.
Kondisi lantai dua yang akan menjadi tempat diselenggarakannya acara rupanya juga tidak kalah ramai. Maklum saja, Wira juga turut mengajak Lastri—istri keduanya, kedua anaknya—Kinan dan Lingga beserta pasangan masing-masing—dan cucu-cucunya.
"Lama nggak ketemu, Ara tambah cantik, deh," puji Lastri usai bercipika-cipiki dengan Ara.
"Makasih. Mama juga." Ara menyunggingkan senyum hangatnya.
"Ini juga tambah besar tambah cantik." Lastri mencium pipi Ashila. "Makin gede makin mirip papanya, ya," imbuhnya yang dibalas dengan senyuman oleh Darma dan Ara.
"Papa sama Mama mana, Ma?" tanya Darma.
Belum sempat Lastri menjawab, Selly mendatangi keluarga kecil putranya. Wanita itu langsung merebut Ashila dari gendongan Darma. "Cantik banget cucunya Oma. Nggak salah, ya, Oma pilihin gaunnya," kata Selly bangga.
"Tambah satu lagi, Dar. Mamamu kelihatan seneng banget, tuh," kata Lastri mengompori.
__ADS_1
"Lagi usaha." Selly yang menjawab.
Beruntungnya, Wira yang tadi ditanyakan muncul dari sisi kanan restoran sehingga pembicaraan tentang menambah anak tidak berbuntut panjang. Tampaknya pria itu baru saja dari toilet. Darma dan Ara langsung berjalan mendekat dan memeluk sejenak seraya mengucapkan selamat ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Pa," ucap Darma singkat. Tidak seperti Ara yang menambahi dengan berbagai macam doa.
Wira menepuk bahu putranya. "Makasih. Ashila mana?"
"Sama Mama. Tuh!" Darma menunjuk gerombolan wanita yang sudah duduk di meja panjang yang sudah ditata untuk keluarga itu makan malam bersama.
Wira diikuti Darma dan Ara lantas ikut bergabung.
Di tengah gelak tawa yang tentu saja didominasi oleh Selly, Silvia datang bersama Radhit—kekasihnya. "Bima katanya telat," kata Silvia begitu duduk di tengah keluarganya.
Mereka yang mendengarnya tak heran sebab Bima yang kini sedang menjalani koas memang sangat sibuk.
"Mulai dulu nggak apa-apa kali, ya? Kasihan anak-anak kalau kemalaman," usul Selly.
Akhirnya acara tiup lilin pun dimulai, dilanjut dengan potong kue. Tak lupa, mereka juga mengabadikan momen tersebut dengan banyaknya foto yang memenuhi memori kamera yang dibawa oleh Radhit.
"Makasih, ya, udah mau fotoin. Jadi, nggak usah repot-repot cari fotografer," kata Silvia di saat ia dan yang lainnya menikmati hidangan yang sudah tersaji.
"Kamu kayak sama siapa pakai bilang makasih segala," jawab Radhit dihiasi senyuman di wajahnya.
Wajah Silvia kontan merona. Gara-gara ucapan Radhit semua mata kini tertuju padanya. "Ehm! Ini Mas Darma. Belum pernah ketemu, 'kan? Terus sebelahnya Mbak Ara, istrinya, dan yang kecil itu Ashila, anaknya." Perempuan itu memperkenalkan sang kakak untuk mengalihkan perhatian semua orang.
Dua laki-laki yang mungkin akan menjadi saudara ipar itu lantas bersalaman. Sementara Ara hanya mengulas senyum sebagai tanda perkenalan karena posisi duduknya yang cukup jauh. Entahlah, meskipun sedari tadi tak henti-hentinya Ara tersenyum, tapi setiap kali menatap Darma yang selalu membuang muka saat tak sengaja mereka bersitatap, hatinya terasa sangat sakit. Dan setiap kali itu terjadi, Ara hanya bisa memandang ke bawah dengan segaris senyum getir, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ashila untuk mengurangi kepedihannya.
"Ashila, malam ini bobonya sama Tante, yuk," ujar Silvia begitu tahu kakaknya sedang merencanakan anak kedua.
Ara menoleh dengan raut terkejut. "Eh?"
__ADS_1
"Yuk, Shila! Nanti Tante beliin makanan sama mainan yang banyak."
"Sama nanti dibikinin pudding susu." Selly menambahkan.
"Mamiii ...." Ashila memandang bingung sang ibu. Sama seperti ibunya, anak itu juga lemah soal makanan.
"Nanti kalau Ashila nangis malam-malam kamu bingung, Sil." Ara menolak halus.
"Nggaklah. Kan ada Mama juga. Ashila pasti mau. Ya? Mau, ya, Shila bobo sama Tante?"
"Boleh nggak, Mami?"
"Eummm ...." Ara menggeleng pelan.
Raut wajah Ashila menjadi mendung. Isakan pelan mulai terdengar. Kalau begini Ara bisa apa selain mengiakan.
"Iya, boleh. Tapi, janji harus nurut sama Tante Silvia sama Oma, ya?"
"Iya, janji." Ibu dan anak itu menautkan kelingking mereka.
Karena hari sudah makin larut dan Bima yang berujung gagal datang, satu per satu keluarga Wira pun pulang.
"Ra, Mama pulang dulu, ya. Kamu nggak apa-apa?" tanya Selly ketika hanya tersisa ia, suami, dan juga Ara di tempat itu.
"Nggak apa-apa, Ma. Mas Darma juga sebentar lagi keluar." Ara tersenyum meyakinkan, meski dalam hati sangat gelisah mengingat tidak ada Ashila di tengah ia dan suaminya.
Benar saja, tidak sampai lima menit usai mertuanya turun, Darma muncul dari toilet. Lelaki itu hanya menatap Ara dalam hitungan sepersekian detik sebagai ganti untuk mengatakan kalimat ajakan pulang.
Ara mengekor di belakang. Langkah panjang laki-laki itu membuat Ara kesulitan untuk mengimbanginya, tapi untuk menyuarakan protes ia tak berani.
Suasana tempat parkir sudah sepi, hanya tinggal beberapa mobil saja sesampainya Ara di sana. Namun, siapa sangka di tengah kesunyian itu sebuah tarikan kuat di rambut disusul tamparan keras mendarat di pipi Ara yang hendak membuka pintu mobil. Wanita itu terkejut bukan main dan saat mengetahui siapa pelakunya jantungnya berdegup tak karuan.
__ADS_1