Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Diuntit?


__ADS_3

"Mas, Ibu pingsan dan sekarang di rumah sakit!" seru Ara begitu suaminya keluar dari kamar mandi.


Sama seperti sang istri yang terkejut saat mendengar kabar buruk itu dari adiknya, Darma pun demikian. Pagi yang semula tenang dan damai seketika dihiasi awan kelabu.


"Mas, kita harus ke sana sekarang," pinta Ara dengan air mata yang sudah membayang.


"Tenang, kamu tenang. Kita ke rumah sakit setelah mengantar Ashila. Oke?"


Ara menyetujuinya. Ia lantas bergegas ke kamar Ashila untuk mengecek segala keperluan sekolah putrinya sementara Darma juga bersiap-siap di kamar. Tak perlu ditanya, Ara sudah tahu kalau Darma tidak akan masuk kantor hari ini. Ah, laki-laki itu ... ia memang tak salah memilihnya.


Sarapan pagi itu berlangsung lebih cepat dari biasanya. Ara yang mengkhawatirkan keadaan ibunya membuatnya tidak fokus dengan Ashila yang suka bertanya hal-hal baru. Beruntung Darma dengan sangat peka langsung meng-handle putrinya di saat pikiran istrinya sedang berkecamuk.


"Aku antar Shila ke kelas, kamu tunggu sini aja," ucap Darma ketika mereka tiba di sekolah Ashila.


"Iya." Tatapan Ara beralih pada anaknya. "Belajar yang pinter, ya, Sayang," katanya disusul kecupan di kening Ashila.


"Mami mau ketemu Eyang, ya? Shila mau ikut."


"Iya, nanti pulang sekolah Mami jemput terus kita jengukin Eyang sama-sama."


Anak berkucir dua itu manggut-manggut, lalu meraih tangan ayahnya yang siap mengantarnya hingga ke kelas.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ara terus membombardir adiknya dengan pesan. Darma mengerti kalau istrinya khawatir. Namun, melihat bagaimana wanita di sebelahnya menggerutu lantaran pesannya tak dibalas membuatnya mau tidak mau angkat bicara.


"Gusti juga pasti sedang panik di sana. Kamu mending berdoa aja. Sebentar lagi kita juga sampai."


Wanita itu menoleh dengan raut bersalah. Suaminya benar. Apalagi ia tahu kalau ini kali pertama ibunya pingsan. Ara lantas memasukkan ponselnya ke tas. Tak sampai sepuluh menit, mobil Darma akhirnya tiba di rumah sakit. Laki-laki itu meminta istrinya turun di lobi, sementara dirinya mencari tempat parkir.


Rambut panjang Ara berkibar tertiup angin ketika ia duduk di salah kursi. Suasana sepi yang mengelilingi membuat firasatnya tidak enak. Ara menengok ke kiri tatkala dirinya merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Perasaan semacam ini sudah ia alami sejak pulang dari Pulau Dewata minggu lalu.


Ara terkesiap saat ia kembali menoleh ke depan dan ternyata ada Darma yang berdiri di sana. Kening laki-laki itu mengernyit heran mendapati istrinya seperti orang ketakutan.


"Kamu kenapa?"


Ara menggeleng pelan. Bingung bagaimana mesti menjelaskannya. "Aku nggak apa-apa. Ruangan Ibu di lantai empat," katanya usai membaca pesan yang baru saja dikirimkan Gusti.

__ADS_1


Mereka menaiki lift menuju ruangan Bu Ata dirawat. Gusti bersama Pak Narto berdiri di depan ruangan setibanya pasangan suami istri itu di sana.


"Bapak, gimana keadaan Ibu?" tanya Ara.


"Udah sadar. Sekarang lagi diperiksa dokter."


Embusan napas lega terdengar jelas. Ara menatap suaminya yang dibalas dengan genggaman tangan yang sangat erat.


"Tekanan darahnya tinggi dan pasien mengalami kelelahan. Untuk ke depannya, sebaiknya tenaganya jangan terlalu diforsir takutnya berakibat fatal." Begitu kata dokter yang menangani sebelum meninggalkan ruangan.


Keluarga Pak Narto kini berdiri mengelilingi ranjang tempat di mana Bu Ata berbaring. Ada rasa bersalah yang bercokol di hati Ara mengetahui ia tak bisa membantu ibunya saat kesusahan. Dan malah bersenang-senang bersama keluarga kecilnya di Bali.


Beberapa hari yang lalu, Pak Narto juga sempat jatuh sakit. Jadilah, Bu Ata yang mengurusi semua, tanpa ada yang membantu dan berakhir di rumah sakit seperti sekarang.


"Ibu kalau repot bilang Ara aja. Nanti pasti Ara datang buat bantuin."


"Bantu apa, Nduk? Kamu 'kan juga repot ngurusin Shila. Shila mana? Ibu kangen."


"Sekolah. Nanti kalau udah pulang aku ajak ke sini, kok."


"Kapan-kapan nginep di rumah, ya, Ra. Udah lama 'kan nggak tidur di sana."


"Iya, nanti kita nginep di rumah Ibu. Mau berapa hari terserah Ara aja," jawab Darma diiringi senyuman.


Di tengah obrolan keluarga Pak Narto, pintu ruangan diketuk. Seorang suster melangkah masuk sambil membawakan sarapan untuk Bu Ata. Seperti biasa, wanita paruh baya itu enggan untuk makan sehingga harus dirayu oleh seluruh anggota keluarga.


"Mas Darma ...." Gusti memanggil kakak iparnya di saat kakaknya sibuk menyuapi ibunya.


"Ya, kenapa, Gus?"


"Hari ini saya izin nggak masuk, ya, Mas. Soalnya Bapak juga belum terlalu fit. Jadi, takutnya ...."


"Kamu kayak sama siapa," Darma terkekeh, "saya juga nggak masuk, kok. Tenang aja. Yang penting kesehatan Ibu dulu."


"Makasih, Mas."

__ADS_1


Darma mengangguk kecil.


Tiga jam berlalu, Darma dan Ara berpamitan untuk menjemput Ashila. Keduanya keluar ruangan tanpa menimbulkan suara karena takut mengganggu Bu Ata yang sedang tidur.


"Mas, aku ke toilet dulu," ujar Ara.


"Aku tunggu di situ." Darma menunjuk deretan kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Usai buang air kecil di salah satu bilik toilet, Ara yang kini sedang berdiri di depan wastafel lagi-lagi merasakan hal yang tidak mengenakkan. Menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali satu bilik yang tertutup sejak ia masuk dan kini orang di dalamnya belum juga keluar. Bulu kuduknya meremang. Buru-buru Ara mencuci tangan dan merapikan rambut, lalu dengan tergesa-gesa kembali menghampiri suaminya.


"Babe, kamu kenapa, sih?" tanya Darma kembali heran.


"Mas, kayak ada yang ngikutin aku dari kemarin-kemarin."


"Ngikutin gimana?"


"Ya, ngikutin! Ada yang buntutin gitu."


"Kamu kecapekan, ya?" tanya Darma. Tanpa disuruh tangannya sudah bertengger di kepala istrinya untuk memberikan pijatan lembut.


Memang, sih, sejak dari Bali Ara merasa sangat lelah. Ditambah Ashila yang ada latihan untuk menari membuatnya ingin melambaikan tangan saja ke kanera. Ara memejamkan mata untuk menikmati pijatan yang kini berpindah di pelipisnya. "Akhir-akhir ini aku juga sering pusing," akunya.


"Kok, nggak bilang?"


"Pusing dikit doang juga."


Decakan halus terdengar. Darma menurunkan tangannya. "Mau banyak atau sedikit yang namanya sakit tetep sakit."


"Iyaaa ...."


"Jemput Shila terus beli vitamin. Kamu mau makan apa?"


"Apa ya ...." Sembari melanjutkan langkah, Ara berpikir. "Yang berkuah aja."


"Sop buntut mau? Kayaknya enak, deh." Darma menelan ludah, lalu menjilat bibir bawahnya.

__ADS_1


Ara yang melihatnya kontan terkekeh. "Pengen banget, nih, Pak?"


Kekehan itu menular. "Iya, nih. Nggak tahu kenapa tiba-tiba gini."


__ADS_2