Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Unhappy Birthday


__ADS_3

⚠️⚠️⚠️ SUPER SLOW UPDATE ⚠️⚠️⚠️


Getar ponsel yang Ara taruh di bawah bantal membuatnya terbangun. Mulanya gadis itu seperti orang linglung. Namun, begitu melihat kamarnya yang masih terang benderang Ara lantas menyadari kalau dirinya ketiduran saat menunggu telepon dari pacarnya.


[Udah tidur ya?]


Sembari menguap Ara membacanya. Ia mengucek mata berkali-kali supaya kantuknya menghilang. "Belum tidur, kok," katanya begitu panggilan yang baru saja ia lakukan telah terhubung.


"Suara kamu nggak bisa bohong." Darma tak mudah dikelabui.


"Nggak apa-apalah. Kan nggak setiap hari juga begadangnya." Ara melakukan pembelaan.


Di kamarnya yang hanya diterangi lampu tidur, Darma duduk bersandar di ranjang. "Maaf, ya, lama. Tadi mama ngajak ngobrol terus gara-gara aku baru sekarang pulang ke rumah."


"Kan apa aku bilang!" Ara memulai ceramahnya. "Kasihan mamamu, lho, Mas, sering nggak ada temen di rumah."


"Ngapain kasihan. Udah gede juga."


Ara memajukan bibirnya yang tentu saja tak diketahui oleh Darma. Detik berikutnya, ketika ia menguap, terdengar suara kekehan dari seberang telepon.


"Kalau ngantuk tidur aja. Nggak usah dipaksa." Darma juga sebenarnya lelah, sudah mengantuk, dan ingin secepatnya tidur. Namun, melihat bagaimana Ara memaksakan diri demi menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada dirinya, mau tidak mau dia harus berpura-pura baik-baik saja. Belum lagi perutnya yang terasa melilit entah kenapa, Darma benar-benar merasa sangat tidak karuan sekarang.


"Nggak ngantuk. Dibilangin nggak ngantuk juga." Ara mendengkus.


Darma terdiam cukup lama. Mengetes apakah Ara sungguh tidak mengantuk seperti yang gadis itu ucapkan. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, lima belas menit ... dan ya! Suara Ara kembali terdengar.


"Mas! Kok, diem?" Percayalah, Ara berkata seperti itu setelah hampir saja ketiduran karena Darma tak kunjung bersuara.


"Satu menit lagi." Darma menatap jam weker yang ada di nakas.


Giliran Ara yang membisu. Fokus gadis itu kini sepenuhnya tertuju pada jarum merah yang terus bergerak melewati angka demi angka pada jam dinding. Sampai akhirnya jarum tersebut sampai di angka dua belas, yang artinya hari telah berganti. Gadis dengan tanktop itu lantas berucap, "Selamat ulang tahun, Mas Darma-ku Sayang. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Semoga semakin mencintai dan dicintai oleh Arasellia. I Iove you banyak-banyak." Ara memberikan kecupan virtual sebanyak tiga kali.


Darma menutupi wajahnya yang sudah merah menggunakan bantal. Ini kali pertama dirinya merayakan ulang tahun dengan sangat sederhana. Namun, anehnya sangat berkesan dan terasa sekali ucapan yang tulus—dan cukup narsis—dari sang pujaan hati.


"Thank you, Ara, the love of my life," ucap Darma tak kalah tulus. "Udah kesampaian, 'kan? Sekarang tidur, ya, besok bakalan capek banget soalnya aku mau ajak kamu ke banyak tempat."


"Tapi, aku beneran udah nggak ngantuk sekarang." Kali ini Ara berkata jujur.


"Tidur, please. Aku juga mau tidur, balikin tenaga yang udah terkuras." Darma memelas.


Ya, kekasihnya itu benar. Ara menurut dan beberapa detik setelah mereka saling mengucapkan selamat tidur, panggilan pun terputus. Dalam hitungan menit, Ara sudah benar-benar terlelap.


Namun, tidak dengan Darma. Rasa perih yang semakin menjadi membuatnya meringis hingga akhirnya ia harus berjalan cepat ke kamar mandi karena isi perutnya mendesak minta dikeluarkan. Selama hampir satu jam, Darma bolak-balik hingga tubuhnya lemas.


Tak mau mati konyol, Darma membuka laci tempat menyimpan obat. Namun, ternyata obat untuk menurunkan asam lambung habis. Dengan sisa tenaga yang ada, lelaki dengan wajahnya yang sudah memucat itu menggedor pintu kamar orang tuanya. "Ma! Mama!" Berulang kali ia memanggil ibunya sampai pintu di depannya dibuka dari dalam.


Selly yang mulanya hendak mengomel sebab sudah dibangunkan ketika sedang pulas-pulasnya tidur mendadak terjaga seratus persen melihat bibir pucat serta keringat yang mengalir di pelipis putranya. "Kamu sakit, Dar?"


"Ma—" Belum selesai Darma berucap, ia menerobos masuk kamar ibunya karena lagi-lagi isi perutnya yang kini tinggal cairan lambung minta dikeluarkan.


Selly mengekor dan langsung memijit tengkuk Darma melihat anak sulungnya muntah-muntah.


"Ma, obat lambung ada nggak?" tanya Darma lemah begitu selesai dengan urusannya. Dia dan ibunya berjalan keluar toilet.


"Asam lambung kamu kumat?"


"Cepet, Ma!"


"Iya, iya." Selly langsung bergegas. "Kamu rebahan di sebelah papa kamu aja, Dar."


"Nggak mau. Aku mau ke kamar ganti baju, kena muntahan, nih." Tertatih-tatih Darma berjalan menuju kamarnya.


Selly yang sudah menemukan obat yang dicari segera memapah putranya.


"Gara-gara ikan kuah nanasnya mama," gerutu Darma.


"Sakit, ya, sakit aja nggak usah pake nyalah-nyalahin. Apalagi nyalahin makanan," balas Selly sewot sambil membukakan pintu kamar anaknya. "Kamu waktu tinggal di apartemen juga pasti makannya udah nggak jelas. Nggak usah bilang 'nggak'. Mama ini yang udah ngelahirin kamu. Mau kamu gimana, juga Mama tahu," lanjutnya tak terbantahkan.


"Ambilin kaus, Ma." Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Darma.


Diiringi decak sebal dari mulutnya, Selly memberikan obat lambung baru kemudian melaksanakan perintah "majikan barunya".


Tanpa rasa bersalah Darma menerima uluran kaus dari ibunya. "Hape sama makanan, dong, Ma. Perih banget perutku," katanya usai berganti baju, dan menyerahkan baju kotornya.


"Duh, kamu, ya. Udah kayak cucunya Ratu Elisabeth aja. Nyuruh ini, nyuruh itu." Selly mengomel dengan rasa ingin melempar ponsel Darma ke wajah si pemilik. Namun, tidak jadi karena masih ingat kalau itu anak sendiri.


"Ma ... lagi sakit plus sedih, lho, aku. Kayaknya acara jalan-jalanku sama Ara ke Jogja batal, deh. Badanku lemes banget."


Selly tidak berkomentar. Mau nyukurin, tapi, kok, ya, kasihan. Wanita berpiyama maroon itu memilih keluar untuk membuatkan sesuatu yang bisa dimakan putranya.

__ADS_1


Sembari menunggu ibunya, Darma mengetik sebuah pesan kepada Ara.


[Ra, aku sakit. Belum tahu besok jadi apa enggak.]


Ayam jago milik ayahnya sudah berkokok entah berapa kali ketika Ara membaca pesan yang dikirimkan hampir pukul tiga pagi itu. Ia mengetikkan sebuah balasan, dan setelah menunggu beberapa lama tak kunjung mendapat jawaban, Ara memutuskan keluar kamar dengan wajah lesu.


"Kayaknya aku nggak jadi ke Jogja, deh," ucap Ara kepada ibunya.


"Kenapa, Nduk?"


"Mas Darma tiba-tiba sakit."


"Hahahaha ... kasihan, kasihan, kasihan," seloroh Gusti dengan nada menirukan salah satu tokoh kartun botak dari negara tetangga. Setelahnya, ia langsung menghilang ke kamar mandi sebelum mendengar khotbah dadakan dari sang ibu gara-gara ucapannya.


"Sakit apa?" tanya Bu Ata disusul embusan napas panjang.


"Nggak tahu, belum bales." Ara makin lesu menatap ponsel dalam genggamannya tak kunjung mendapat notifikasi.


"Mungkin lagi istirahat. Nanti juga ngabarin. Kamu bantuin Ibu kupas bawang aja dulu," kata Bu Ata acuh tak acuh, kemudian lanjut memotong-motong sayuran.


Setengah hati Ara meraih pisau untuk mengerjakan perintah ibunya.


.....................


Darma baru terbangun saat jam makan siang sudah usai. Tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik. Ia menggeliatkan badan sebelum meraih benda yang kebanyakan orang cari-cari ketika baru membuka mata.


[Sakit apa mas?]


Balasan dari Ara diiringi emoji sedih. Darma segera melakukan panggilan telepon mengingat pacarnya itu pasti mengkhawatirkannya.


"Mas! Gimana keadaan kamu sekarang?"


Nah, benar 'kan tebakan Darma. "Udah baikan, tapi kalau mau jenguk boleh, kok," katanya dengan nada menggoda. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, Darma benar-benar ingin bertemu Ara di hari spesialnya.


"Eeemm, nggak apa-apa emang? Kamu 'kan butuh banyak istirahat."


Darma terkekeh. Ara ini mulutnya saja kadang terkesan polos. Padahal, dalam hatinya Darma yakin kalau gadis itu juga sangat ingin bertemu dengannya. "Boleh, lah! Malah cepet sembuh kalau ditengokin kamu."


"Satu atau dua jam lagi, ya, Mas. Aku lagi di toko, nih, bantuin bapak."


"Oke. Kamu hati-hati, ya, kerjanya. I love you banyak-banyak."


"Masuk," ujar Darma.


Selly pun masuk dengan wajah waswas. "Dar ...."


"Hmm .... Kenapa, Ma?" Darma menjawab seadanya karena dia sedang mengecek email yang dikirimkan sekretarisnya.


"O-Oma di bawah nungguin kamu."


Kontan Darma mengangkat wajahnya. "Ngapain ke sini lagi?"


"Nggak tahu. Kamu turun aja. Jangan lupa cuci muka sama sikat gigi dulu," pesan wanita itu sebelum berlalu.


Darma memicingkan mata hingga kedua alisnya hampir menyatu tatkala menuruni tangga. Ada orang tua, kedua adik, dan tentu saja neneknya yang sudah menunggunya entah untuk urusan apa. Ia berdeham sehingga mereka yang duduk di ruang tamu sontak menengok ke arahnya.


"Ada apa Oma cari aku?"


"Duduk dulu, Dar," pinta Ratna seraya tersenyum tipis.


Darma memilih duduk di single sofa daripada duduk berdampingan dengan orang tua ataupun adik-adiknya.


Ratna mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, lalu menaruhnya di meja depan Darma.


Tanpa berucap, Darma segera membuka amplop itu. Menarik keluar secarik kertas di dalamnya, kemudian membacanya. Rahang lelaki itu mengetat. Dengan tatapan sengit, ia lantas berkata, "Aku nggak akan pergi!"


"Oma tidak mau mendengar penolakan. Kamu diterima di London Business School, dan besok pagi-pagi sekali kamu sudah harus terbang ke sana. Oma sudah memesankan tiket untukmu."


"Sebenarnya apa tujuan Oma melakukan ini sampai harus maksa-maksa aku?" Darma tidak suka dengan neneknya yang sudah bertindak terlalu jauh.


"Oma cuma mau kamu belajar lagi dan cari pengalaman sebanyak-banyaknya!" tegas Ratna dengan raut wajah paling serius.


"Nggak cukup, ya, pengalaman aku bertahun-tahun di perusahaan?" Darma sedikit melunak. Berharap dengan ini neneknya bisa sedikit diajak negosiasi.


Ratna terkekeh. "Kamu pikir bisa duduk di kursi direktur pemasaran itu murni karena kemampuan kamu, Dar? Oma bisa menggaji orang yang jauh lebih hebat untuk duduk di kursi itu dibandingkan kamu!" tegasnya dengan senyum meremehkan yang begitu kentara.


"Ya, sudah. Kalau Oma bisa melakukan itu kenapa dulu Oma maksa aku buat kuliah bisnis? Kenapa Oma nggak biarin aku buat wujudin apa yang aku mau?"


Di tempatnya duduk, Wira dan Selly hanya bisa melempar pandang. Sementara Silvia dan Bima terus memasang telinga agar tidak ada satu pun kata yang mereka lewatkan.

__ADS_1


"Apa susahnya menurut? Atau kamu keberatan meninggalkan gadis yang jelas-jelas tidak menguntungkan itu? Gadis yang nantinya hanya akan merepotkan kamu! Dibandingkan Imelda, dia tidak ada apa-apanya."


Urat-urat di leher Darma seketika menonjol. Jari-jarinya mengepal. Dadanya bergemuruh dengan tatapan benci yang baru pertama kali ia tujukan kepada wanita yang paling dihormati di keluarga besarnya. "Oma boleh mengatur semua tentangku, kecuali dengan siapa aku berpacaran dan menikah kelak. Pernikahan itu bukan tentang untung dan rugi. Ara dan Imelda, aku mengenal seperti apa mereka, dan karena itu, aku tahu siapa yang seharusnya aku pilih."


"Oma nggak peduli! Tinggalkan gadis itu dan pergi ke London atau papamu tidak akan mendapatkan apa pun selain sepuluh persen saham yang sudah dia terima." Ratna mengeluarkan amunisinya.


Wira sekeluarga terbelalak. Itu bukan pilihan, melainkan ancaman.


"Inget, ya, Dar. Istrinya papamu itu dua, dan hitung berapa tabungan dia setelah tanah-tanahnya juga dipakai untuk membuatkan anak dan istrinya yang lain bengkel dan laundry." Senyum kepuasan tersungging di bibir yang dipoles lipstik merah itu. Ratna merasa menang dan dia yakin cucu kesayangannya itu akan menurut padanya. "Kamu ...." Wanita berusia 78 tahun itu melanjutkan ucapannya. "Beli apartemen saja harus nabung dulu bertahun-tahun. Kamu mau melihat masa tua mamamu menderita setelah dia dibuat sakit hati karena perbuatan papamu dulu?"


Dipandanginya orang tua serta kedua adiknya yang kini juga balas memandangnya dengan tatapan sendu. Ini pilihan yang berat dan sulit bagi Darma. "Kenapa Oma—"


"Oma nggak setuju kamu pacaran apalagi sampai menikah dengan perempuan itu. Apa kurang jelas kata-kata tadi sampai kamu ingin bertanya lagi?" Dikeluarkannya sebuah tiket pesawat yang sudah Ratna beli beberapa jam yang lalu.


Darma menatap gamang secarik kertas di hadapannya. Keluarganya dan Ara adalah dua hal penting dalam hidupnya. Bagaimana bisa ia harus melepaskan salah satunya?


"Tinggalkan gadis itu dan pergi ke London atau papamu tidak akan mendapat apa pun?" Ratna mengulangi pertanyaannya beberapa saat lalu. Bibirnya mengukir senyuman miring dengan ekor matanya mengarah ke ambang pintu. Tempat di mana seorang gadis yang sangat tidak ia inginkan berdiri tepat sebelum dirinya menyatakan ketidaksetujuannya.


Air mata yang sedari tadi menggenang pun akhirnya luruh tatkala matanya melihat tangan kokoh itu meraih kertas di depannya. Sepelan mungkin Ara menaruh kotak berisi kue ulang tahun untuk kekasihnya di meja kecil yang berada tak jauh darinya. Diiringi senyuman getir, ia meninggalkan kediaman Wirasena.


...................


"Paspor kamu, Dar?" Ratna menadahkan tangan meminta dokumen penting yang digunakan untuk melakukan perjalanan antarnegara.


Darma yang sedang memasukkan baju-bajunya ke koper, balas bertanya, "Buat apa? Aku yang bakal siapin semuanya sendiri."


"Oma akan mengantar kamu sampai ke sana dan Oma juga yang akan memegang paspormu supaya kamu tidak pulang ke Indonesia sebelum studimu selesai."


Tanpa mengucapkan apa pun, Darma menyerahkan paspornya. Terserah neneknya mau berbuat apa karena yang harus ia lakukan sekarang adalah membuat hubungannya dengan Ara tetap baik-baik saja. Dua tahun bukan waktu yang lama. Namun, juga tidak bisa dikatakan singkat. Mengingat gadisnya, Darma jadi sadar kalau sejak tadi dia tidak mengecek ponselnya.


Tangannya mendadak gemetar membaca kalimat demi kalimat yang kini terpampang di layar.


[Mas aku udh selese]


[Mas aku mau berangkat]


[Mas nanti turun ke bawah ya kalau aku udah sampai. Malu kalau nanti ketemu keluargamu]


[Aku di depan mas]


[Mas?]


[Mas?]


[Mas?]


Darma segera menyambar jaket dan kunci motornya. Ini sudah jam sembilan malam dan beruntung neneknya juga sudah pulang.


"Kamu mau ke mana, Dar?" seru ibunya sama sekali tak digubris.


Darma mengendarai motor sport-nya dengan kecepatan tinggi setelah dirinya mendapati sebuah kotak kecil berisi kue ulang tahun bertuliskan namanya.


Ara datang ke rumahnya, tapi gadis itu tidak menemuinya.


Beberapa kali Darma kena omel pengendara lain karena mengendarai motor dengan cara ugal-ugalan. Namun, ia sama sekali tak peduli. Dia harus cepat-cepat sampai di rumah pacarnya.


Rumah Pak Narto sudah gelap setibanya ia di sana. Darma merogoh saku jaket guna mengambil ponsel untuk menghubungi Ara. Tersambung, tapi tak mendapat jawaban.


[Ra aku di depan rumahmu]


Pesan itu juga terkirim, tapi tak dibaca. Darma semakin ketar-ketir. Apa saja yang sudah Ara dengar sampai ia melakukan panggilan telepon puluhan kali, tapi tak ada satupun yang dijawab?


Kilatan cahaya di langit disusul gemuruh petir menambah keputusasaan Darma.


[Ra keluar please]


[Aku nggak mungkin ketok pintu rumahmu malam-malam gini]


Tubuh Darma merosot ke aspal. Tak berapa lama, langit malam menumpahkan airnya. Darma tersenyum kecut. Baru semalam dia mengatakan bahwa ini adalah salah satu ulang tahun terbaiknya. Namun, Tuhan memang maha membolak-balikkan keadaan. Darma lantas tertawa kencang. Menertawakan hidupnya yang begitu mengenaskan.


Gelegar petir yang tak kunjung usai pada akhirnya membuat Darma memutuskan untuk pulang. Ia menyalakan motornya.


Saat itu pula, sebuah gorden tersingkap. Ara yang sedari tadi berdiri di ruang tamu rumahnya kini tak mampu menahan isak tangis tatkala motor yang sedari tadi ia tatap tanpa berkedip perlahan menjauh, lalu menghilang dari pandangannya.


.


PANTUN‼️‼️‼️


2345 kata

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya


__ADS_2