
Ara turut prihatin usai mendengar kisah rumah tangga Elang. Biar bagaimanapun dia juga seorang ibu. Jangankan kehilangan seorang anak. Melihat Ashila jatuh dan membuat tangan serta kakinya lecet saja Ara sangat khawatir. "Lalu, bantuan seperti apa yang bisa aku kasih?" tanya Ara, meski kini ia tahu mengapa mantan kekasihnya mengajak bertemu.
Elang menipiskan bibir, meraih kopinya yang sudah mulai dingin, dan meminumnya seteguk untuk sejenak menghilangkan rasa gugup sekaligus malu. "Aku mau pinjam uang, Ra," ucapnya disusul embusan napas panjang.
"Berapa?"
Ibarat baju sudah kepalang basah. Ya, sudah, Elang to the point saja. "Dua puluh juta," katanya singkat, padat, dan jelas. Toh, saat ia memutuskan untuk menghubungi Ara, artinya dia sudah siap jika ada orang lain yang tahu bagaimana kondisi keuangannya.
Elang yakin Ara akan membantunya, tanpa harus mengeluarkan kata-kata yang tak mengenakkan hati. Buktinya saja, sedari tadi wanita itu hanya mengangguk-angguk. Padahal, bisa saja Ara mengatai-ngatainya, menyumpahinya, atau dengan jemawa bilang karma itu ada mengingat bagaimana perlakuan dan perkataan ibunya kepada perempuan itu dulu.
"Dua puluh juta?" Ara menegaskan.
"Iya, Ra."
Raut wajah perempuan itu menunjukkan sedikit kegelisahan. Kendati hidupnya kini sudah berkecukupan atau bahkan bisa dibilang mewah, tapi bagi Ara uang senilai dua puluh juta tetaplah bukan jumlah yang sedikit. Seandainya meminjamkan pun sudah pasti dia akan meminta izin suaminya terlebih dahulu. Ah, laki-laki itu! Ara tidak yakin Darma mau menolong Elang apalagi jika tahu kalau istrinya bertemu secara diam-diam dengan pria yang saat ini terlihat ketar-ketir menunggu jawaban darinya.
"Maaf, aku nggak bisa, Mas."
Penolakan Ara membuat Elang yang sedang melamun terhenyak. Laki-laki itu mengangguk pelan. Seakan paham mengapa Ara tidak bisa membantunya.
"Aku harus bilang dulu ke suamiku," ujar Ara tak mau Elang salah paham. "Kenapa kamu nggak minta tolong langsung ke Mas Darma aja?"
__ADS_1
"Seandainya aku seberani itu, Ra." Elang tersenyum masam. "Dulu Ibu pernah cerita kalau dia sempat adu mulut dengan suami kamu di rumah sakit. Aku nggak tahu kamu tahu atau enggak. Sudah lumayan lama juga."
Memori Ara jadi mengingat tentang Bu Rini. Sudah lama sekali dia tidak bertemu wanita itu. Mungkin terakhir kali memang saat di rumah sakit saat ia hamil besar. Ah, ya, itu!
"Aku tahu, Mas," kata Ara beberapa saat kemudian, "emm ... kalau Mas Elang benar-benar butuh uang itu. Mungkin aku bisa bantu untuk bilang ke Mas Darma setelah dia pulang dari Surabaya."
Mata Elang sedikit melebar. Darma di Surabaya? Apakah laki-laki itu tahu istrinya bertemu dengannya? Apa Ara sudah izin kepada suaminya? Namun, mengingat bagaimana rekam jejak ibunya, kalau Ara izin rasanya tidak mungkin wanita itu bisa duduk santai di hadapannya sekarang.
"Nggak perlu, Ra. Kalau udah bener-bener buntu biar aku aja yang bilang ke suamimu."
Ara mengangguk. "Ya, sudah. Aku pergi dulu, Mas. Semoga kamu segera menemukan jalan keluar untuk masalahmu."
"Iya, makasih, Ra. Hati-hati di jalan."
Tadi begitu turun dari mobil, ia langsung diminta oleh satpam untuk menemui Miss Indah. Firasat Ara langsung tidak enak. Dan benar saja, sesampainya di ruang wali kelas putrinya, ia mendapati putrinya menangis.
"Mamiiii ...." Anak itu berlari ke arah ibunya dan meminta digendong. Wajahnya sangat merah dan sembab.
"Shila, kenapa, Sayang?" tanya Ara cemas.
"Mamiiii ... Jesslyn bilang Shila itu jolok kalena makan pakai tangan kili. Katanya Shila bodoh kalena gak bisa bilang huluf 'el' (baca: R)," katanya sesenggukan.
__ADS_1
Sungguh Ara terkejut mendengarnya, tapi sebisa mungkin ia mencoba tenang di depan anaknya. Dihapusnya air mata Ashila yang sampai membasahi seragam. "Ashila nggak bodoh. Asal mau belajar terus nanti lama-lama juga bisa. Sekarang jangan nangis lagi, ya, 'kan udah ada Mami di sini."
Ashila mengangguk, meski air mata masih terus mengalir. Ara lantas duduk berhadapan dengan Miss Indah untuk mendengar kejelasan yang lebih lanjut.
"Sebelumnya saya minta maaf, Ma. Tadi saya sempat ke toilet sebentar jadi kurang paham apa yang terjadi, tapi sepertinya Ashila dan Jesslyn rebutan makanan dan berujung mereka berkelahi serta saling mengejek. Saya sudah meminta Jesslyn untuk minta maaf dan juga menghubungi orang tua anak itu. Tapi, Ashila masih saja menangis. Jadilah, saya minta tolong guru lain untuk meng-handle kelas, sementara saya membawa Ashila ke sini," terang Miss Indah.
"Terima kasih, Miss." Hanya itu yang bisa Ara ucapkan. Di dalam sana, pikirannya berkecamuk. Apa yang selama ini dikhawatirkan oleh ibu mertuanya sungguh terjadi. Ya, Ashila memang benar-benar fotokopian Darma sampai-sampai kidalnya juga ditiru.
"Mumpung masih kecil, coba biasain pakai tangan kanan, Ra." Begitu nasihat Selly.
Tampaknya setelah ini Ara harus berbicara serius dengan Darma mengingat suaminya menentang keras saran dari Selly.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Miss." Ara bangkit berdiri dengan Ashila yang masih berada di gendongannya.
"Sama-sama, Ma. Semoga besok Ashila sudah bisa kembali ceria seperti biasanya."
"Saya harap juga begitu." Ara menyunggingkan senyum sebelum akhirnya keluar ruangan.
.
.
__ADS_1
Selamat menyambut Hari Raya Paskah bagi teman-teman yang merayakan 🐣🐣🐣