
"Pak Darma ...." Elang menggumam, tapi masih bisa didengar. Pikirannya berkecamuk mendapati laki-laki yang tampaknya akan menjadi rivalnya ternyata berada di rumah Ara.
Darma melangkah dan berdiri di samping Ara. "Panggil nama aja kalo diluar jam kantor."
Elang mengangguk pelan sebagai jawaban.
Ara lantas mempersilakan laki-laki itu masuk. Dan kini, kecanggungan terjadi di ruang tamu rumah Pak Narto karena anak gadisnya diapelin dua laki-laki di saat bersamaan.
"Mau minum apa, Mas?"
"Apa aja, Ra."
Tanpa menunggu lagi, Ara langsung pergi meninggalkan dua orang tamunya dan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Helaan napas panjang terdengar. Ara bingung harus melakukan apa nanti. Karena itu, ia berlama-lama di dalam sana.
Kembali ke ruang tamu, Elang tampak kikuk karena ini kali pertama ia berada di ruangan yang sama dengan atasannya diluar urusan pekerjaan.
"Udah lama di sini?" Akhirnya sebuah kalimat tercetus dari bibir Elang, tanpa embel-embel apa pun.
"Yeah, lima jam ada kayaknya." Entah sengaja memanas-manasi atau memang tidak bisa menghitung, Darma menjawab seenak jidat. Tapi, masa, sih, orang yang cita-citanya jadi engineer hitung-hitungannya jelek. "Ara minta diajarin soal-soal buat ujian mandiri ntar," katanya lagi. Yang mana berhasil menimbulkan gemuruh di dada Elang.
Elang tak lagi bersuara sampai Ara muncul membawa water jug berisi es jeruk lengkap dengan gelasnya. "Sorry, lama," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Nggak minum?" Gadis itu melirik bergantian dua orang lelaki di depannya melihat minuman yang ia bawa dianggurkan begitu saja. Padahal dengan penuh perjuangan ia memeras jeruk tadi.
"Minum, kok." Elang menyambar salah satu gelas.
"Tuangin, dong. Kan tamu." Darma ngelunjak.
Elang sontak terbatuk, sedangkan Ara tetap anteng di kursinya.
__ADS_1
"Makan aja abis banyak, masa minum minta dituangin," seloroh gadis itu tanpa sadar mengobarkan api cemburu di hati mantan kekasihnya.
"Makan?" Elang bertanya meski dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya.
"Iya, barusan Mas Darma makan di sini," cicit Ara menyadari kebodohannya. Sekarang dia terlihat seperti sedang memamerkan kedekatannya dengan Darma di hadapan Elang. "Btw, Mas Elang ada perlu apa ke sini?" Dengan cepat, Ara mengalihkan topik pembicaraan.
Sejenak ekor mata Elang mengarah pada Darma sebelum akhirnya menjawab, "Tadinya aku mau ngajak kamu pergi, tapi kayaknya kamu udah sibuk sama yang lain."
Ara menelan ludah dengan sedikit rasa geram. Apa maksudnya sibuk dengan yang lain? Ara memang sibuk, tapi dia sibuk dengan soal-soal. Perkara Darma di sini, laki-laki itu 'kan hanya membantu. Lihat saja sekarang, Darma juga asyik dengan ponselnya. Ara jadi benar-benar malas walau untuk sekadar berbasa-basi dengan Elang.
Beruntungnya Ara, di tengah rasa kesal yang menyelimuti hatinya terdengar suara motor sang adik berhenti di depan rumah. "Tumben udah pulang?" tanyanya begitu Gusti memasuki rumah, tanpa mengacuhkan dua laki-laki di depannya.
"Nggak liat gerimis gede-gede kayak gitu?" Gusti menunjuk ke luar.
Ara mengikuti arah telunjuk Gusti dan bersamaan dengan itu hujan turun dengan derasnya.
Gusti yang sudah mau masuk ke dalam kontan menghentikan langkahnya menyadari tidak hanya satu, melainkan ada dua laki-laki duduk bersama kakaknya. "Eh, ternyata rumah rame, ya. Tau gitu tadi nggak main." Ia masa bodoh melihat Ara sudah melotot padanya.
"Serius? Mabar, yuk."
"Boleh, boleh. Bentar aku ganti baju dulu."
"Udah sore, emang nggak pulang?" tanya Ara begitu Gusti masuk ke dalam, entah tertuju pada siapa. Namun yang jelas, Elang tidak mau menjawab duluan. Dia menunggu jawaban Darma terlebih dahulu.
"Ujan, lhoh, Ra. Nggak inget aku bawa motor? Kamu mau tanggung jawab kalo aku sakit?"
Elang menahan napas. Nyatanya, meski baru kenal beberapa minggu interaksi antara Ara dan Darma sudah tak ada rasa canggung sama sekali. Dan lagi, ia seperti melihat sisi lain dari Darma yang sangat jauh berbeda ketika sedang di kantor.
"Mas Elang, mau ikut mabar juga?"
__ADS_1
"Ng-nggak, Ra. Aku pulang aja, deh." Dengan berat hati Elang beranjak karena seandainya tinggal pun dia tidak tahu mau apa.
Ara diikuti Darma di belakangnya mengantar Elang ke teras depan. Pak Narto dan Bu Ata muncul dari samping rumah membawa buah belimbing di tangan masing-masing.
"Lhoh, Elang ke sini juga?" Pak Narto tetap menyambut ramah, meski sudah tahu jika hubungan pemuda di hadapannya dengan putrinya telah kandas.
"Iya, Pak, tapi ini mau pulang."
"Duh, kok, cepet banget." Bu Ata menimpali.
"Iya, lupa mesti ada yang diurus. Pamit dulu, ya, Pak, Bu." Elang menyalami mantan calon mertuanya, lalu mengangguk kecil seraya tersenyum pada Ara dan Darma.
"Hati-hati, ya. Salam buat bapak sama ibu," pesan Pak Narto.
"Saya pulangnya nanti, ya, Pak, Bu. Lupa nggak bawa jas hujan tadi," ujar Darma meminta izin untuk tinggal lebih lama.
"Iya, santai aja. Doyan belimbing nggak, Mas?" ujar Pak Narto sambil mereka memasuki rumah.
"Apa aja doyan, Pak. Saya makannya gampang, kok. Masakannya Ibu juga enak banget." Darma memuji sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ara yang berjalan di sebelahnya. Sementara Pak Narto dan Bu Ata yang berjalan berjejeran di depannya, tentu saja tidak melihatnya.
"Makan lagi nanti, Mas, kalau laper. Ara itu makannya sedikit, jadi kalau masak suka sisa-sisa."
"Wah, sayang banget, Bu. Nanti aku bantu abisin, deh." Darma menawarkan diri, dan obrolan antara orang tua Ara dengan Darma pun terus berlanjut sampai akhirnya Gusti datang setelah tadi harus ke kamar mandi terlebih dahulu. Setelahnya, Pak Narto dan Bu Ata pamit ke belakang, Gusti dan Darma telah disibukkan dengan ponsel masing-masing. Ara? Gadis itu sudah mendekam di kamarnya dengan hati berkecamuk.
.
.
.
__ADS_1
Aku sebenernya insecure nulis cerita ini karena kayak kapas alias enteng banget nggak kayak cerita orang-orang. Semoga kalian mau baca sampai tamat, ya. Xoxoxo.
Aku juga mau bilang kalau aku bakalan slow update (ini jg slow, thor. Iya ,maap) karena aku mau nulis cerita baru. Hehe ....