
Ada yang kasihan sama Darma nggak, sih? Heheh
.
"Aku kecelakaan waktu berangkat wisuda."
Pupil mata Ara melebar. "Kecelakaan? Parah?"
"Cedera kepala, patah tulang rusuk dan tulang kaki. Selama seminggu lebih aku juga mengalami koma." Darma menolehkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat raut shock Ara.
"T-terus?"
Sebelah alis Darma terangkat. Apakah Ara-nya yang gampang penasaran itu telah kembali? Entahlah. Yang jelas dia hanya akan melakukan tugasnya. Menceritakan masa-masa terberat dalam hidupnya. "Aku shock bangun-bangun badan nggak bisa digerakin. Mama jelasin semuanya dan aku malah marah-marah. Aku maksa keluargaku buat bawa aku pulang. Selama beberapa hari aku terus menyampaikan keinginan yang sama sampai-sampai mama takut karena dia pikir pulang yang aku maksud adalah pulang dalam tanda kutip."
Ara melihat ke luar jendela saat tiba-tiba saja mobil yang ditumpanginya berhenti di depan minimarket yang buka 24 jam.
"Udah mau sampai rumahmu. Mampir sebentar, ya, haus. Kamu mau minum apa?"
"Kopi."
Darma hanya mengangguk, lalu keluar mobil. Lelaki itu kembali dengan membawa sekantong belanjaan berisi minuman soda, kopi, dan beberapa camilan. Bukannya masuk, Darma justru mengetuk kaca jendela samping Ara duduk. "Keluar, duduk di kap mobil aja."
__ADS_1
Udara malam yang dingin langsung menyambut Ara, tapi beruntung jas Darma masih tersampir indah menutupi bahu mulusnya. Yang mana hal itu membuat hangat menjalar ke pipinya.
"Minum dulu." Darma menyodorkan sebotol kopi yang sudah dibuka.
Ara menerimanya dengan bibir mengu*lum senyum. Mereka duduk di kap mobil Darma ditemani rembulan yang malam ini menjadi satu-satunya benda yang menghiasi langit.
Disela-sela meminum soda, Darma melanjutkan ceritanya. "Baru setelah aku bisa berpikir jernih, keputusan mereka supaya aku tetap dirawat di London ternyata adalah hal yang benar. Percuma, kan, aku di sini, tapi aku nggak bisa ketemu kamu. Pelan-pelan aku nurut sama dokter. Tapi ... hal buruk lagi-lagi terjadi."
Kopi di mulut Ara mendadak sulit ditelan. Ia sampai menepuk-nepuk dadanya agar tidak terbatuk. Saat ia menoleh, terlihat Darma sudah merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan lelaki itu yang dijadikan bantalan.
"Kamu tahu, kan, pandemi dua tahun lalu?" tanya lelaki itu dengan suara serak.
"Oma meninggal kena COVID. Dia ketularan pembantunya. Lagi-lagi aku di London mengalami stress berat. Aku benci oma, tapi nggak bisa dipungkiri juga kalau nggak ada dia aku mungkin nggak bisa sampai di titik ini." Darma menyeka sudut matanya yang berair. Ya, katakan dia cengeng! Tapi, luapan amarah bercampur kesedihan selalu berhasil menguasai setiap ia mengingat neneknya.
"Oma meninggal, aku belum bisa ketemu kamu, dan keadaan aku yang sangat bergantung pada orang lain bikin aku jadi pemberontak. Waktu itu aku nggak mau ikut terapi lagi dan malah menghabiskan waktu buat main game online yang berujung collapse. Untungnya mama langsung bawa ke rumah sakit. Nggak tahu gimana nasibku kalau dia sampai telat." Darma menegakkan tubuhnya, lalu menenggak sodanya yang masih setengah kemudian melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah yang jaraknya cukup jauh, dan masuk!
"Kamu nggak makan jajannya?"
Mulut Ara menganga dan matanya seakan berkata 'are you serious?'. Bisa-bisanya mendengar kisah sedih semacam tadi sambil ngemil Chitato. Ara masih waras!
Darma jadi terkekeh. Ia mengambil kaleng kedua dan meminumnya seteguk. "Saat aku masuk rumah sakit lagi, aku udah bodo amat, tapi ... semua berubah waktu aku tahu mama diem-diem suka nangis di kamar mandi. Di situ baru aku mikir, mama pasti cape, tapi dia sama sekali nggak ngeluh tentang capeknya dia dan bebalnya aku. Aku jadi nurut lagi, dan dengan melihat mama baik-baik aja terus inget ada kamu yang harus aku temui, aku mulai berusaha lakuin apa aja biar cepet sembuh. Dan ya ... di sinilah aku sekarang."
__ADS_1
Ara tersentak saat tiba-tiba saja Darma meraih dan menggenggam tangannya. Tidak hanya itu, lelaki dengan kemeja putihnya yang sudah kusut itu kini juga sudah berdiri di depannya dengan sedikit menunduk agar wajah mereka sejajar.
"Aku minta maaf udah bikin kamu sakit hati. Udah bikin kamu sendirian, tapi, tolong, jangan anggap hubungan kita selesai." Sejenak Darma menatap tangannya yang semakin erat dalam memegang tangan Ara, lantas kembali beralih menatap wajah gadis itu. "Mungkin aku jahat karena bilang kalau orang yang menghalangi hubungan kita udah nggak ada, tapi aku beneran sayang kamu dan aku mau kita naik ke level yang lebih serius."
Rasa hangat seketika menjalar ke seluruh wajah Ara hingga matanya kabur untuk memandang lelaki yang tangannya kini menangkup kedua belah pipinya. Debaran itu masih sama, pun dengan sorot mata penuh kehangatan yang membuatnya merasa bahwa dirinya memang bersama orang yang tepat. Namun, perkataan orang tuanya beberapa tahun silam sukses membuatnya sadar bahwa lagi dan lagi kenyataan untuknya dan Darma bersatu tampaknya cukup sulit.
"Lebih enak kalau carinya yang sepadan. Biar nanti sama-sama berjuang ...."
"Repot banget kalau beneran serius ...."
"Kamu salah, Mas, kalau bilang nggak ada lagi orang yang nggak merestui hubungan kita," kata Ara diiringi lelehan air mata yang jatuh tanpa permisi.
"Siapa?"
"Orang tuaku ...."
Kening Darma berkerut mendengarnya. Ia mencoba mencari kebohongan melalui mata indah Ara, tapi tak dapat ia temukan celah itu.
"Orang tuaku ... mereka diam-diam nggak setuju dengan hubungan kita." Tubuh Ara kembali bergetar karena isak tangis yang lagi-lagi tak mampu ditahan.
Dengan segera Darma pun membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Menenangkannya, memberikan rasa nyaman, dan tentu saja sebuah kepastian. "Biar itu jadi urusanku. Kamu nggak perlu khawatirin apa pun."
__ADS_1