Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
First Date


__ADS_3

Menjelang Tahun Baru Imlek, Kota Solo dengan segala keragamannya seperti biasa memasang seribu lampion. Lampion tersebut dipasang mulai dari kawasan Pasar Gede hingga depan balaikota. Pada malam harinya, jalanan di sekitaran tempat itu juga ditutup karena adanya acara car free night.


Setiap malamnya selama hampir sebulan penuh, daerah itu dipenuhi lautan manusia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia, tak terkecuali Darma dan Ara.


Malam ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi menjadi sepasang kekasih seminggu yang lalu, dan Ara memilih tempat ini sebagai destinasinya.


Jemari kokoh Darma tak sedikit pun memberikan kesempatan agar sebelah tangan Ara bebas sejak mereka mulai memasuki tempat tersebut. "Takut hilang. Kamu 'kan kecil," katanya yang kontan mendapat cubitan di pinggang.


"Sakitttt ...."


"Siapa suruh ngatain!"


"Fakta yeee ...."


Mereka berjalan beriringan sambil terus berdebat. Sampai-sampai tak sadar kalau keduanya kini sudah sampai di bagian barat yang terbilang sepi.


"Lhah, udah sampe sini aja. Mau makan apa, Ra?'


"Balik lagi ke tempat tadi, deh. Haus, mau beli es teh."


"Masa es teh?"

__ADS_1


"Ya, udah air mineral."


"Ra!" Darma lantas tertawa terbahak-bahak. Sesaat setelahnya ia pun mengacak-acak rambut Ara saking gemasnya.


"Berantakan, nih!" Ara merapikan rambutnya dengan jari.


"Tetep cantik, kok. Yuk, foto di sini yang ga terlalu rame." Darma mengeluarkan ponselnya.


Puluhan gambar seketika tersimpan dalam memori ponsel lelaki itu. Setelahnya, mereka berjalan menghampiri stand yang menjual es teh.


"Nanti fotonya kirim ke hapeku, ya, Mas," pinta Ara sebelum menyedot minumannya.


"Bayar!"


"Biarin, wleeee ...." Darma menjulurkan lidah. Masih tak acuh pada Ara yang merajuk. Sebab, dengan ekspresinya seperti itulah pacarnya tampak lucu di matanya.


"Udah, udah jangan ngambek. Aku beliin balon mau? Tuh!" Ia menunjuk tukang balon yang bejibun.


"Kamu pikir aku anak TK! Dah, ah, aku mau beli jajan!" Ara melangkah mendahului Darma, tapi lelaki itu dengan sigap meraih pergelangan tangannya dan kembali menggandengnya.


"Mau jajan apa?"

__ADS_1


Kening Ara mengernyit bingung. Tiga kali dia makan dengan Darma, lelaki itu selalu memilih makanan dari resto terkenal. Jadi, apa mungkin lelaki itu mau jajan di tempat seperti ini?


"Emang Mas Darma mau jajan di tempat seperti ini? Kan—"


"Mau, kok. Yang penting tempatnya bersih." Darma memotong sebelum Ara selesai berucap.


Ara manggut-manggut. Pandangannya lantas mengedar dan stand sosis bakar adalah pilihannya. "Makan sosis bakar aja, yah. Yang sebelah situ."


"Boleh."


Mereka melangkahkan kaki menuju tempat yang Ara tunjuk. Selang lima belas menit, mereka duduk di area yang cukup sepi untuk menikmati sosis serta pentol kuah keinginan Darma.


"Emang kamu doyan pentol, Mas?" tanya Ara yang tadi sempat dibuat melongo saat Darma ingin membeli makanan berbentuk bulat itu.


"Deket sekolahnya adikku ada yang jualan kayak gini enak banget, Ra. Kapan-kapan aku ajak kamu ke sana, kamu pasti suka."


"Umm ... boleh, boleh," jawab Ara sembari mendesis lirih karena rasa pedas dari saus sambal yang terdapat dalam sosis.


"Minum dulu." Darma menyodorkan es teh milik gadis itu yang masih separuh lebih. "Oh, ya, besok aku ke Surabaya kira-kira semingguan. Habis dari sana, kamu aku ajak ke rumahku."


"Uhukk ... uhukkk!" Ara kontan terbatuk-batuk hingga es teh di mulutnya berubah menjadi hujan lokal. Detik berikutnya, mata gadis itu sudah menatap cemas Darma. "Mas ... kalo abis UMPTN aja gimana ke rumah kamunya?" Ia mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


"Kelamaan. Mamaku pengen banget ketemu kamu, Ra." Darma tersenyum, lalu meraih tangan Ara dan menggenggamnya. "Jangan khawatir. Nanti aku pasti di samping kamu terus, kok," imbuhnya disusul bibirnya yang mengecup punggung tangan gadis itu.


__ADS_2