
Berhiaskan lengkungan indah di bibir tipisnya, Darma memasuki rumahnya usai mengantar Ara pulang. Langkah panjang lelaki itu terhenti lantaran seruan dari arah dapur terdengar memanggil namanya.
Darma menoleh. Senyum di wajahnya seketika lenyap melihat neneknya berada di rumahnya entah sejak jam berapa. "Oma, kapan ke sininya?"
"Oma udah dari siang di sini. Dari mana aja kamu?"
"Biasalah anak muda."
"Pergi kencan sama gadis itu?"
"Namanya Ara, Oma." Darma mencoba untuk santai, meski hatinya kesal bukan main setelah apa yang diperbuat neneknya kepada Ara.
"Masa bodoh dengan nama gadis itu. Oma ke sini cuma mau bilang kalau beberapa bulan yang lalu Oma sudah mendaftarkan kamu ke beberapa universitas di luar negeri untuk melanjutkan kuliah S2-mu."
"Apa?!" Darma berjalan mendekati sang nenek. "Kenapa Oma nggak bilang aku dulu?" tanyanya, lalu menoleh ke arah tangga. Dilihatnya ayah dan ibunya yang berjalan ke arahnya.
Ratna menyunggingkan senyum meremehkan. "Setelah bertahun-tahun kamu hanya 'iya-iya' saja. Oma pikir nggak ada gunanya buat izin ke kamu dulu. Oh, ya, pengumumannya bulan depan."
Darma berdecak sebal. Ia menatap orang tuanya. Berharap mereka bisa membantunya, tapi nihil. Wira dan Selly hanya bungkam.
"Oke. Aku serius bakalan lanjut S2, tapi nggak sekarang," cetus Darma setelah terdiam beberapa saat.
"Terus kapan?"
__ADS_1
"Nanti, habis aku nikah," jawab Darma enteng.
"Dar ...." Selly cukup terkejut mendengarnya, sedangkan Ratna tersenyum sinis.
Wira? Jangan tanya. Pria itu tidak bisa apa-apa jika sudah berhadapan dengan ibunya.
"Kamu pikir cukup menyiapkan pernikahan dalam waktu satu bulan?" tanya Ratna menantang.
"Cukup-cukupin. Yang penting nikah," tegas Darma yang lagi-lagi hanya disambut gelak tawa oleh neneknya.
"Itu, kan, maumu. Memangnya keluarga gadis itu mau cuma sekadar nikah? Mereka pasti menginginkan pesta yang meriah agar orang-orang tahu, terus mereka bisa pamer karena sudah berhasil menggandeng anak orang kaya. Belum lagi kalau ada syarat-syarat lain. Kamu disuruh beliin mereka mobil, rum—"
"Cukup, Oma! Ara dan keluarganya nggak kayak gitu. Mereka beda dari orang-orang yang pernah deket sama aku." Darma melakukan pembelaan. Dia mengenal betul bagaimana keluarga kekasihnya. Jadi, jika ada yang berkata buruk tentang keluarga Pak Narto, dia tidak segan-segan membantahnya, meski yang melakukan adalah keluarganya sendiri.
Darma menatap punggung yang tak lagi tegap itu dengan dada naik turun, dan setelah mobil neneknya perlahan menjauh, ia menoleh pada orang tuanya. Tatapan kecewa tergambar jelas di wajah rupawan Darma. Selalu saja ayah dan ibunya tidak pernah membelanya barang hanya sepatah kata. Setidaknya agar apa yang terjadi di dalam hidupnya sesuai dengan apa yang ia rencanakan.
Selly segera menyusul ketika putra sulungnya menaiki tangga tanpa berucap apa pun baik kepada dirinya maupun sang suami. "Darma, Mama mau ngomong sama kamu," ucapnya ketika sudah berada si anak tangga paling atas.
Darma terus melangkah. Namun, pintu kamarnya yang dibiarkan terbuka membuat sang ibu tahu kalau dia bersedia diajak berbicara.
"Mama, kok, tahan, sih, punya mertua kayak begitu," ujar Darma sambil duduk di tepi ranjang.
"Nggak boleh bilang gitu, ah. Nggak baik." Selly mengingatkan. "Dulu kamu juga seneng banget, kan, kalau ketemu Oma. Sampai-sampai kamu milih tidur sama dia daripada Mama."
__ADS_1
Darma tak bisa membantah karena itu benar adanya. Bisa dibilang masa kecilnya malah lebih banyak dihabiskan bersama neneknya dibandingkan ibunya.
"Kamu bener mau nikahin Ara secepat mungkin?"
"Kalau orang tuanya Ara setuju aku yang biayain kuliahnya Ara jawabannya iya, tapi sayangnya kemungkinan besar mereka nggak setuju. Jadi, aku nunggu seenggaknya sampai Ara kelar skripsi."
"Kalau udah kelar skripsi pasti dijamin boleh?"
Raut wajah anak dan ibu itu sama-sama serius.
"Iya. Nanti sebagai gantinya aku yang biayain adeknya Ara kuliah. Jadi, mereka nggak rugi-rugi banget abis anaknya kuliah malah langsung nikah. Mama beneran setuju, kan, aku sama Ara?"
Selly mengangguk beberapa kali. Jujur saja, setelah berkata demikian, dia jadi yakin kalau putranya sungguh-sungguh telah dewasa. "Iya, Mama sama papa setuju, kok."
"Aku berharap nggak keterima di univ mana pun," celetuk Darma, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa bilang gitu? Oma ngelakuin itu juga demi kebaikan kamu."
"Kebaikan apa? Emangnya pengalaman aku bertahun-tahun di perusahaan nggak cukup? Mau jadi apa lagi, sih? Udah cukup, kok, aku dengan jabatan yang sekarang. Nggak mimpi juga jadi direktur utama."
"Kamu bersih-bersih aja, terus tidur biar tenangan dikit. Mama mau nemuin papa kamu." Selly mengakhiri pembicaraan, tak mau menanggapi ucapan putranya lagi.
Darma membanting pintu kamarnya begitu sang ibu keluar. Memangnya apa yang dia dapat kalau sudah menyelesaikan studi S2-nya? Paling-paling juga diperas otak dan tenaganya agar profit perusahaan terus meningkat setiap bulannya. Cih!
__ADS_1