
"Belum selesai, Ra?" tanya Mitha melihat Ara sudah menyalakan komputer bahkan sebelum jam kantor dimulai.
"Kalau udah aku nggak rajin kayak begini. Junot hari ini masuk nggak, ya?" Ara balas bertanya dengan wajah cemberut.
"Junot, mah, biar pun udah sembuh, masuknya ntar kalau izinnya udah abis."
Hidung Ara kembang kempis mendengarnya, sedangkan sang informan kini sedang sibuk men-touch up make up-nya.
"Oh, ya, undangannya Pak Boss udah sampai manajer, lho. Berarti kemungkinan besar kita dapat hari ini atau paling lambat besok," ujar Mitha dengan wajah sumringah.
"Yakin banget diundang?"
"Ya, lah! Dengar-dengar lagi, ya, Ra, mereka nggak menerima sumbangan."
Segaris senyum diiringi embusan napas panjang dengan matanya yang menatap ke atas Ara persembahkan untuk Mitha. Ya, mungkin mereka tidak perlu menyiapkan amplop, tapi datang ke acara mewah seperti pernikahan orang kaya juga penampilannya harus ekstra. Yang kemungkinan besar, jika tidak ingin terlihat burik, mereka mesti pergi ke salon terlebih dahulu.
"Nanti kita berangkat kondangannya bareng, ya, Ra," ucap Mitha lagi.
Ara menepuk jidat. "Kerja dulu aja yang bener biar pas kondangan tampilannya cakepan dikit."
"Dih! Aku, mah, selalu cak—"
"Sst!" Ara menaruh telunjuknya di bibir, sedangkan ekor matanya melirik ke arah lain.
Kedua karyawati itu langsung menyibukkan diri dengan layar datar di depannya karena kepala divisi yang barusan Ara maksud berjalan menghampiri.
"Ra, tadi Bu Sekar telepon saya dan bilang supaya laporan penjualannya langsung dikasihkan ke dia. Tapi, sekarang saya harus rapat dan nggak tahu sampai jam berapa. Jadi, nanti kamu yang kasih ke mejanya, ya," pesan Ruli.
"Siap, Pak."
Menjelang jam makan siang, akhirnya laporan yang Ara kerjakan selesai. Dia tinggal menuju lantai teratas dan memberikan setumpuk kertas di genggamannya, maka setelahnya ia bisa sedikit bernapas lega.
Namun, kenyataan tampaknya memang sulit untuk seindah angan. Bu Sekar tidak ada di mejanya sesampainya Ara di sana. Kepalanya celingukan mencari wanita beranak dua yang merupakan sekretaris dari Aldo. Laki-laki yang dari kemarin selalu menjadi pembahasan hangat rekan-rekan kerjanya entah di kantor atau melalui grup WhatsApp.
__ADS_1
Usai menunggu beberapa saat dan tak ada tanda-tanda Bu Sekar muncul, Ara memutuskan untuk menaruh laporannya di meja.
"Hei, kamu!"
Ara yang sudah berbalik badan dan jalan beberapa langkah sontak terhenti. Kembali memutar tubuhnya, senyuman terpaksa ia sunggingkan kala melihat jika yang memanggil adalah Aldo.
"S-saya, Pak?" tanya Ara gugup. Ini kali pertama dia berbicara langsung dengan salah seorang petinggi perusahaan setelah enam bulan bekerja di tempat itu.
"Iya, buatkan kopi dan antar ke ruangan saya, ya. Dua, punya saya nggak pakai gula."
"Baik, Pak." Ara mengangguk. Ia lantas menuju pantry setelah Aldo kembali masuk ke ruangan lelaki itu.
Dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul, Ara mengetuk ruangan milik direktur pemasaran. Ia mengayunkan pintu di depannya begitu mendapat izin masuk dari dalam.
Melangkah masuk, mata Ara membeliak dan tangannya langsung berkeringat dingin saat matanya menangkap seorang laki-laki berjas yang tengah duduk di dekat jendela. Dapat ia lihat pula, jika sepasang mata lelaki itu juga menampilkan sorot tidak percaya sama seperti yang dirasakannya.
"I-ini yang nggak pakai gula, Pak," cicit Ara sambil menaruh cangkir ke hadapan Aldo.
"Lo mau makan apa, Bro? Biar dipesenin sekarang aja sama dia." Aldo menunjuk Ara dengan dagunya. "Soalnya Sekar tadi mendadak izin karena anaknya dibawa ke rumah sakit gara-gara keracunan makanan."
"Nanti aja."
Cukup dengan dua kata itu, mata Ara memanas dan tubuhnya seakan kaku untuk segera beranjak dari ruangan itu.
"Oke. Berarti makannya nunggu Imelda aja, ya. Dia bilang mau ke sini."
Ara kontan menoleh pada Aldo karena nama perempuan yang laki-laki itu sebut. Yang mana hal itu justru membuatnya mendapat kernyitan tak mengerti dari atasannya.
"Kamu ada perlu sama saya?" Aldo menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, Pak."
"Kalau begitu kamu boleh keluar."
__ADS_1
"Iya. Saya permisi, Pak." Ara mengangguk sejenak, lalu keluar dari ruangan yang membuat pikirannya berantakan hanya dalam hitungan detik.
Dicengkeramnya nampan dalam genggamannya saat kembali menuju pantry. Kenapa Ara sangat bodoh? Kenapa selama ini dia tidak sadar jika Aldo atasannya adalah sahabat dari mantan kekasihnya? Begitu sampai, Ara langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di pantry dengan tubuh gemetar.
Kembali ke ruangan Aldo, Darma akhirnya menyesap kopi yang sedari tadi ia pandangi setelah tadi cukup puas menatap siapa yang membuatnya.
"Jam kantormu selesai jam berapa?" tanyanya.
"Empat."
"Lama amat." Darma memejamkan mata untuk meredakan kekesalan yang seketika mencuat. Bukan karena dirinya harus menunggu lama jika ingin berbicara dengan Ara, tapi karena jam tiga nanti dia harus bertemu klien.
"Kalau mau cepet ke taman kanak-kanak aja, Bro," jawab Aldo disusul kekehan. "Kenapa nanyain jam kantor?" tanyanya penasaran.
"Nggak apa-apa," jawab Darma sembari mengedikkan bahu.
Aldo geleng-geleng kepala melihatnya. "Pantes Tante Selly sering nyuruh aku main ke rumah. Lo serem gini, sih, sejak balik dari London. Sebulan cuma ngurung diri di rumah. Sekarang balik kerja juga kayak orang males hidup." Ia terus berbicara ngalor-ngidul yang sama sekali tak didengar oleh Darma.
Darma sibuk dengan pikirannya yang tertuju pada Ara, dan ia langsung bangkit berdiri begitu Imelda datang.
"Gue cabut."
"Lhah, nggak makan dulu?"
"Kalian aja berdua."
Darma melenggang pergi. Menaiki lift untuk turun, matanya mengedar begitu sampai di lantai di mana banyak karyawan sahabatnya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Darma mencari Ara, di mana kubikel gadis itu? Bagaimana raut wajah Ara ketika sedang bekerja? Apakah masih sama dengan wajah yang selalu ia tatap kala menemani gadis itu belajar untuk masuk perguruan tinggi dulu?
.
.
__ADS_1