Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Ketakutan


__ADS_3

Bibir merah menyala itu menyunggingkan senyum. Tanpa disuruh, Ajeng mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Ashila. Yang mana membuat gadis kecil itu diapit oleh dua wanita dewasa.


"Ajeng, kebetulan sekali kita ketemu di sini." Ara berujar setenang mungkin. Kendati demikian, jantungnya berdebar tak karuan. Tangannya juga berkeringat dingin.


"Ini bukan kebetulan."


Ara kontan memasang wajah serius. Apa maksud wanita di sebelahnya ini? Firasatnya mengatakan jika Ajeng-lah yang selama ini diam-diam mengikutinya.


"Kamu bener. Aku yang sering buntutin kamu," ucap Ajeng seakan menjawab tanya yang tersirat di mata Ara.


"K-kenapa?"


Nada bicara Ara yang gugup ditanggapi kekehan oleh Ajeng. "Santai aja. Aku nemuin kamu karena mau minta maaf," katanya. Guratan kesedihan seketika terlukis di paras cantiknya. "Aku minta maaf atas sikapku yang sudah sangat keterlaluan waktu itu."


"Aku udah maafin. Biar bagaimanapun, aku juga salah. Dan kalau ada di posisi kamu, mungkin aku juga akan ngelakuin hal yang sama." Ara memaksakan segaris senyum. Dia yang baru saja bisa bernapas lega kembali memasang wajah siaga tatkla Ajeng memegang pipi Ashila. Jujur saja, Ara tidak suka ada yang menyentuh anaknya tanpa seizinnya.


Tangan Ajeng yang kini mengelus lembut pipi anaknya ditambah air muka wanita itu yang sulit dibaca kembali membuat jantung Ara berdebar tak menentu. Ara menggenggam tangan Ashila dan bersamaan dengan itu Ajeng juga melakukan hal yang sama.


"Kamu cantik banget, Sayang. Siapa nama kamu?" tanya Ajeng sedikit membungkukkan badan agar bisa melihat Ashila lebih jelas.


"Ashila, Tante."


"Tante juga punya anak perempuan. Umur kamu berapa tahun?"

__ADS_1


Demi Tuhan, sebelah tangan Ara sudah mengepal dan juga gemetar. Takut. Dia sangat takut apalagi Ajeng secara tiba-tiba meraih garpu yang tadi dipakai Ashila. Ia ingin pergi dari situ saat ini juga, tapi untuk sekadar memanggil pelayan saja mulutnya tak mampu.


"Bental lagi empat, Tante." Ashila mengacungkan keempat jarinya.


"Kalau anak Tante masih ada, seharusnya dia sudah berumur dua tahun." Tatapan Ajeng beralih pada Ara. "Kamu beruntung banget, Ra. Kamu punya keluarga yang bahagia. Aku lihat kamu juga habis pulang dari liburan."


"I-iya. Kamu lihat di socmed-ku?"


"Aku lihat sampai berkali-kali."


Ara hanya mengangguk pelan.


"Oh, ya, sebenarnya ... aku ada maksud lain ketemu kamu."


Ajeng tersenyum masam. Ada rasa malu dalam hatinya, tapi demi keluarganya, ia buang jauh-jauh perasaan itu. "Dari dulu, aku memang nggak punya harga diri," Ajeng membuang muka, "aku yang ngemis cinta ke Mas Elang sampai bisa jadi istrinya. Dan sekarang ... di depan kamu. Setelah apa yang aku lakukan, aku mau minta kamu bantu aku. Tolong, kasih aku pinjaman."


Mata Ara sedikit membeliak. Dia tidak salah dengar, 'kan? Kenapa Ajeng dan Elang kompak sekali? Bahkan, dalam urusan meminjam uang.


"Maaf, aku nggak bisa," tolak Ara cepat, tanpa bertanya berapa nominalnya. Sudah cukup kemarin rumah tangganya kacau balau. Dan sekarang, dia tidak mau mengulanginya. Ara kasihan melihat wajah Ajeng yang kian mendung, tapi dia tak mau mengorbankan keharmonisan keluarganya demi menolong orang lain. Terkadang egois dan sikap bodoh amat memang diperlukan.


"Ra!" lirih Ajeng penuh penekanan. Matanya memerah dan tatapannya menajam. "Kemarin Mas Elang dihajar orang karena nggak bisa bayar hutang. Aku hancur, Ra. Aku hancur lihat dia kayak gitu sampai dua kali. Dan dia juga menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Kamu nggak tahu! Kamu nggak tahu gimana rasanya lihat orang yang kamu sayang berdarah-darah, 'kan? Sakittt!" Cengkeraman tangan Ajeng di lengan Ashila menguat. Begitu pula, dengan genggamannya pada garpu yang sekarang sudah menghadap ke atas dan seolah siap menusuk apa saja yang ia mau.


"Tante, kenapa pegang tangan Shila kenceng banget? Sakit, Tante," ujar Ashila tak nyaman.

__ADS_1


"Ajeng, lepas!" ucap Ara lebih ke arah memerintah.


Ajeng sama sekali tak menghiraukan. Matanya menatap Ashila dengan raut menyedihkan sekaligus menakutkan. "Aku juga kehilangan anak perempuanku dan itu bikin aku kayak mau mati. Kamu tahu? Aku sudah menjual semua perhiasanku, termasuk cincin pernikahanku, tapi itu belum cukup. Dan kamu masih nggak mau bantuin aku. Kamu jahat, Ra!"


"Apa? Kamu mau apa? Aku kasih semuanya, tapi lepasin anakku!" Ara tak bisa berpikir lagi melihat garpu yang dipegang Ajeng diangkat lumayan tinggi. Keselamatan Ashila yang paling utama. Tentang apa yang terjadi hari ini, dia akan menceritakan semuanya kepada Darma ketika bertemu nanti.


"Aku mau pinjam uang. Udah itu aja!"


"Be-berapa?"


"Sepuluh juta." Ajeng melepaskan tangan Ashila serta garpu yang digenggam, lalu mengambil ponselnya yang ada di tas. Dalam posisi menyala, ia menyerahkan benda pipih itu ke Ara.


"Atas nama Elang?" Ara membaca nama pemilik rekening yang hendak dikirimi uang.


"Rekeningku udah mati. Kamu nggak usah khawatir karena rekening itu aku yang pegang."


Ara paham. Ia lantas melakukan transaksi sesuai dengan nominal yang disebutkan Ajeng. Hanya dalam sekali klik, kini sejumlah uang telah berpindah rekening. Ajeng langsung meraih tasnya dan pergi begitu semuanya selesai. Ara menatap tak percaya dengan tingkah perempuan yang baru saja keluar dari restoran. Pandangannya kemudian jatuh ke arah putrinya. "Ashila nggak apa-apa, Sayang?" tanyanya cemas. Saking cemasnya, Ara tidak bertanya kapan Ajeng akan mengembalikan uangnya. Ah, rasa-rasanya sekalipun uang itu tidak kembali, Ara tak masalah. Yang penting keluarganya bisa hidup dengan tenang.


"Nggak apa-apa. Itu siapa, sih, Mami? Shila takut." Anak itu merapatkan tubuhnya ke sang ibu.


"Teman Mami dulu. Nggak usah takut, 'kan ada Mami. Kita pulang sekarang, ya?"


Ashila mengiakan. Ara memanggil pelayan untuk membayar tagihan dan setelahnya langsung pulang ke rumah. Ia bahkan menolak saat dalam perjalanan pulang putrinya menginginkan sebuah es krim. Tak dapat dipungkiri, meski Ajeng sudah tidak ada, tapi perasaan takut terus menggelayuti pikiran Ara. Bagaimana jika sewaktu-waktu perempuan itu datang lagi kepadanya?

__ADS_1


__ADS_2