
Sesekali Darma mengangguk ataupun menggeleng ketika dokter yang memeriksanya melontarkan beberapa pertanyaan mengenai keadaannya. Darma masih ingat betul kecelakaan yang dialaminya semalam dan itu sukses membuatnya makin meradang. Kenapa harus kecelakaan di saat seperti ini? Dia ingin bertemu istrinya. Bagaimana keadaan Ara? Firasatnya sangat tidak enak. Apa Ara tahu kalau dia sedang dirawat di rumah sakit?
"Tidak ada masalah. Perbanyak istirahat supaya bisa cepat diizinkan pulang," pesan sang dokter membuyarkan lamunan Darma.
Untuk kesekian kalinya lelaki itu mengangguk.
Begitu dokter berkepala plontos itu keluar, tak berselang lama pintu kembali dibuka dari luar. Sosok laki-laki yang semalam menolongnya sekaligus orang yang tidak ingin Darma lihat kembali menunjukkan wajahnya.
Elang melangkah ragu mendekati ranjang tempat atasannya berbaring. "Tadi ... saya belum sempat bilang kalau saya sudah menghubungi keluarga Bapak, tapi entah kenapa sampai sekarang mereka belum datang."
"Keluarga saya yang mana yang kamu maksud? Istri saya?" Darma membuang muka. Segaris senyum sinis terukir di bibir tipisnya.
"Saya menghubungi Pak Wira," balas Elang tak ingin terjadi kesalahpahaman.
Mengetahui Elang masih bergeming di sisi ranjangnya, Darma yang merasa risih kembali menoleh dengan tatapan mengusir. Rasanya tidak sudi berlama-lama dengan lelaki yang diam-diam menemui istrinya dan membuat kobaran api cemburu membakar hatinya.
"Kamu boleh keluar!" seru Darma saat Elang tak juga enyah dari hadapannya.
"Saya akan keluar dari ruangan ini, tapi setelah saya meluruskan semuanya."
"Meluruskan? Mencari pembenaran maksudmu?" Lagi, senyum tak ramah itu tersungging jelas di bibir Darma.
Elang mengembuskan napas pelan. Kendati ceritanya mungkin akan panjang, tapi tak ada niat baginya untuk menarik kursi dan mendudukkan bokongnya di sana. "Saya memang salah sudah mengajak Ara bertemu, tapi setelah kejadian itu saya benar-benar tidak menghubunginya lagi karena saya menghargai Bapak sebagai suami Ara sekaligus atasan saya. Dan meluruskan yang tadi saya bilang adalah tentang uang sepuluh juta yang masuk ke rekening saya."
__ADS_1
Seketika rahang Darma mengeras hingga urat-urat lehernya tampak menonjol. Kedua tangannya juga telah mengepal seakan siap untuk membombardir Elang dengan tinjunya. "Kenapa kamu masih saja mengganggu keluarga saya, hah?"
"Tolong, Bapak dengarkan saya dulu. Rekening itu memang atas nama saya, tapi sejak menikah Ajeng, istri saya, yang memegangnya. Saya berani bersumpah, saya sungguh-sungguh tidak tahu kalau dia menemui Ara untuk meminjam uang dengan cara yang tidak baik," jelas Elang perlahan lirih. Kepalanya kini tertunduk, tak berani menatap Darma.
"Apa maksudmu dengan cara yang tidak baik? KATAKAN DENGAN JELAS!" Emosi Darma memuncak. Napasnya tersengal sampai-sampai harus memegangi dadanya.
"Kesehatan mental istri saya terganggu. Dulu waktu saya meminjam pada Ara saja, Ara bilang kalau dia harus izin dulu sama Bapak, tapi giliran Ajeng yang melakukannya, Ara dengan mudah memberikannya. Saya tahu hubungan mereka tidak baik. Dan ketika saya bertanya pada Ajeng, ternyata dia memaksa dan menakut-nakuti Ara perihal tentang kehilangan orang yang disayangi sama seperti Ajeng yang kehilangan anaknya. Saya benar-benar minta maaf, Pak. Kesalahan istri saya fatal, dan saya siap jika karena hal ini Bapak memecat saya."
Kepala Darma mendadak pening. Fakta macam apa yang baru saja telinganya dengar. Ara diancam? Ditakut-takuti?
"Mas, dengerin aku dulu. Ini juga yang mau aku ceritain ke kamu."
"Mas, kamu salah paham. Waktu itu aku juga ketakutan."
"Orang yang membawa kabur uang saya sudah ditangkap dan ini," Elang mengambil sebuah amplop dari sakunya, "uang sepuluh juta yang dipinjamkan, saya kembalikan."
Darma melirik sekilas dengan raut muram. "Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, silakan keluar."
Elang mengangguk kecil. "Saya harap penjelasan tadi belum terlambat. Bukan bermaksud sok atau apa, tapi sebagai orang yang dulu pernah dekat dengan Ara, saya tahu betul kalau dia adalah orang yang baik dan tidak suka aneh-aneh. Saya juga melihat sejak dekat dengan Bapak dulu, Ara jauh terlihat lebih bahagia dibandingkan saat bersama saya. Ah, maaf, sepertinya saya terlalu banyak berbicara. Sebagai suami Ara, saya yakin Bapak pasti jauh lebih mengenal dan memahaminya. Saya permisi."
Embusan napas panjang terdengar ketika punggung Elang menghilang di balik pintu. Memahami Ara? Entah kenapa kalimat itu sangat menohok hati Darma. Ya, seharusnya dia menjadi orang yang paling tahu bagaimana istrinya, bukannya malah menuduh dan melontarkan ucapan yang menyakitkan. Kepala laki-laki itu tertunduk dalam meratapi kebodohannya.
Darma mengangkat wajah ketika pintu ruang rawat kembali dibuka. Kali ini ayah serta ibunya yang datang.
__ADS_1
Plak!
Rasa panas seketika menjalar ke pipi Darma. Dapat ia lihat genangan air mata membayang di pelupuk mata ibunya.
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN, DAR?" teriakan wanita itu menggema di seluruh penjuru ruangan.
Darma tidak menghiraukan rasa sakit di pipinya. Dia hanya ingin tahu tentang istrinya. "Ma, Ara di mana, Ma? Dia nggak ikut ke sini?"
Perlahan isak tangis terdengar. Bahu Selly tampak gemetar, dan kalau saja suaminya tidak memegangi, mungkin tubuhnya sudah jatuh ke lantai. "Kamu masih peduli sama dia? Ke mana kamu semalam sampai tidak pulang, hah?"
"Ma, aku—"
"ARA KEGUGURAN, DAR! DIA JUGA ADA DI RUMAH SAKIT INI SEKARANG."
Bagai tersambar kereta, jantung Darma langsung berdegup kencang mengetahui keadaan Ara. "Keg-keguguran? Ara hamil?" tanyanya seperti orang bodoh.
"Jadi, kamu nggak tahu kalau Ara hamil?" Selly mengusap wajahnya yang dibanjiri air mata. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu melihat tingkah anak sulungnya. "Mama kecewa sama kamu, Dar. Kamu masih sedikit beruntung karena Bi Marni pagi-pagi sekali telepon Mama. Mau jelasin apa kamu seandainya Bi Marni menelepon orang tua Ara? Mau bilang apa Mama sama mereka?"
Selly yang merasa tak kuat lagi untuk berdiri memberi kode pada suaminya supaya duduk di sofa yang disediakan.
"Di ruangan mana Ara dirawat?" tanya Darma. Matanya sudah memerah dan dengan rasa sakit yang mendera, ia mencoba untuk turun dari ranjang. Begitu pelan ia berjalan sambil membawa tiang infusnya.
Selly yang melihatnya kembali menangis tersedu-sedu. Ia seperti diingatkan kembali dengan kejadian sewaktu putranya kecelakaan di London. "Mama antar kamu," katanya tak tega. Ia bangkit berdiri untuk memapah putranya.
__ADS_1