Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Keluarga Elang


__ADS_3

Memiliki Ara sebagai kekasih adalah salah satu hal yang pernah Elang syukuri sepanjang ia hidup. Gadis itu cantik, menyenangkan, dan penuh semangat. Rasanya Elang tidak pernah takut akan hal apa saja yang menimpanya selagi dirinya bersama Ara. Ditambah keluarga gadis itu yang begitu hangat menjadikan semuanya terasa sempurna. Namun, semua kebahagiaan dan kenyamanan yang diterimanya tak membuat Elang lantas balas memberikan hal yang sama lantaran ibunya tidak menyukai Ara dengan alasan gadis itu hanya lulusan SMA. Seberapa keras Elang mengatakan bahwa nanti jika waktunya tiba Ara juga pasti mengenyam bangku kuliah nyatanya sama sekali tak dihiraukan.


Hubungannya kandas dan bersamaan dengan itu seorang laki-laki yang ia tahu jauh di atas dirinya masuk ke kehidupan Ara dan membuat gadis itu jatuh hati. Elang tidak bisa apa-apa. Dia sadar diri dan tahu di mana tempatnya. Belum lagi binar kebahagiaan yang jarang sekali tampak di mata Ara saat bersamanya bisa hadir begitu saja kala wanita pujaannya itu bersama Darma, pria yang masih menjadi atasannya hingga saat ini.


Elang tersenyum menatap potret demi potret keluarga kecil mantan kekasihnya di feed Instagram Ara. Senyum yang sangat sulit diartikan. Beberapa tahun yang lalu, dia juga seperti itu. Tertawa bahagia dengan anak dan istrinya. Ajeng, mantan kekasihnya sewaktu SMA yang mengajaknya untuk kembali menjalin kasih tidak lama setelah kisah asmaranya selesai dengan Ara perlahan membuatnya kembali mencintai gadis itu hingga akhirnya mereka menikah.


Biduk rumah tangganya berjalan dengan baik. Kehadiran bayi laki-laki di tengah mereka membuat kebahagiaan Elang dan Ajeng makin sempurna. Bu Rini hadir sebagai orang yang paling mengelu-elukan menantu serta cucunya. Dan setiap kali ibunya seperti itu, Elang selalu bersyukur dalam hati. Sebahagia ini rasanya hidup dalam keluarga yang penuh cinta. Orang tua Ajeng juga menerimanya dengan tangan terbuka.


Sayangnya, di saat Elang dan Ajeng menambahkan cinta baru dalam rupa bayi perempuan yang mereka beri nama "Nararya", tak berselang lama kebahagiaan itu lenyap bersamaan dengan hilangnya nyawa sosok menggemaskan itu karena kelalaian seseorang yang mereka percayai untuk menjaganya.

__ADS_1


Ajeng merasa berdosa, merasa tidak becus, merasa seperti seorang pembunuh, dan merasa menjadi istri yang durhaka. Ya, jauh sebelum Ajeng mengandung anak keduanya, Elang sudah mengatakan bahwa lebih baik ia berhenti bekerja dan fokus mengurus anak. Lagipula, sebentar lagi dia akan merintis usaha bersama Reno. Usaha yang lagi-lagi mengantarnya pada jurang terdalam sebab modal yang sudah ia keluarkan dibawa kabur entah ke mana oleh kawannya. Dan dunia Elang benar-benar runtuh saat psikiater yang ia datangi menyatakan bahwa Ajeng menderita depresi persisten. Pedihnya lagi, di saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya, ibunya justru mencaci istrinya.


"Menyusahkan! Kamu harus cari orang untuk merawat Ajeng. Ibu nggak mau ngurusin dia, ngurusin Naren saja capek!"


"Kurang ibadah, makanya stress! Perempuan itu mesti kuat! Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Kalau begini siapa yang repot!"


Dan Elang memilih tak menanggapinya. Ajeng memang sedang tidak baik-baik saja dan wanita itu butuh dukungan besar dari keluarganya, bukan kata-kata hina yang membuatnya makin tak ingin bertahan hidup. Beruntungnya, masih ada Narendra, putranya, yang membuat Ajeng kadang merasa waras jika diingatkan bocah berusia 7 tahun itu.


"Iya, Naren hati-hati, ya. Bunda sayang banget sama Naren," pesan Ajeng seraya membelai kepala putranya.

__ADS_1


"Naren juga sayang Bunda." Anak itu mencium pipi ibunya seperti yang diajarkan oleh ayahnya.


Elang tersenyum memandanginya. "Aku berangkat dulu. Kamu baik-baik di rumah. Telepon aku kalau ada apa-apa."


Ajeng hanya mengangguk. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas saat suaminya mencium keningnya. Ya, setelah bergonta-ganti psikiater dan kini menemukan yang cocok, sejak beberapa bulan lalu keadaan Ajeng sedikit demi sedikit membaik, meski biayanya memang sedikit lebih mahal dari yang sebelum-sebelumnya.


Elang tidak masalah dengan semuanya, walaupun setiap harinya ia hanya tidur dua atau tiga jam karena otaknya terus berpikir bagaimana agar keluarganya bisa makan, istrinya sembuh, dan anaknya bisa sekolah sampai-sampai ia nekat menghubungi Ara. Ya, setelah dibuat putus asa karena tak ada lagi yang bisa membantunya, Elang dengan tidak tahu diri mengajak istri bosnya bertemu untuk meminjam uang.


Embusan napas lega terdengar setelah akhirnya Ara menyetujui ajakannya. Elang memilih untuk izin dari kantor hari ini. Usai tadi mengantar Naren sekolah dan pulang membawa lauk untuk makan keluarganya, ia pergi lagi menuju sebuah kafe yang dipilih oleh Ara.

__ADS_1


Jantung Elang berdetak kencang mendapati orang yang ditunggu-tunggu turun dari mobil. Bukan! Bukan karena ia jatuh cinta lagi melihat Ara yang makin cantik, tapi karena resah dan bagaimana dirinya harus menebalkan muka untuk menceritakan rumah tangganya pada wanita yang baru saja mendudukkan diri di kursi yang ada di depannya.


__ADS_2