
"If you happy and you know it clap your hands."
Clap clap!
"If you happy and you know it clap your hands."
Clap clap!
"If you happy and you know it and you really want to show it. If you happy and you know it clap your hand."
Clap clap!
"Yeeeee ...!" Anak dan ayah itu sama-sama bersorak kegirangan.
"Lagi, Papi, lagi," ujar Ashila meminta ayahnya kembali menyanyikan lagu untuknya.
"Bangun terus bersihin badannya dulu. Baru Papi nyanyiin."
Anak perempuan yang masih berada di kubangan busa itu sontak menggelengkan kepala. Mengabaikan ayahnya dan memilih bermain dengan lima puluh bebek karet yang menemaninya mandi.
Saat itu pula Darma menyesal tidak mengacuhkan omongan istrinya.
"Nggak usah beliin bebek karet gitu. Nanti nggak mau bangun dari air!" omel Ara dua minggu yang lalu.
Dan kini, hal itu menjadi kenyataan. Sudah dari tiga puluh menit yang lalu Ashila selesai mandi, tapi bocah itu enggan untuk bangun dan membilas badan.
"Ashila, ayo, bangun. Katanya mau ke The Park." Darma mengeluarkan rayuan.
"Lima menit."
Bola mata Darma melebar. Itu adalah jawaban setiap kali putrinya mengajaknya bermain, tapi dia sedang asyik dengan game-nya. "Memang Ashila tahu lima menit berapa lama?"
"Tidak tahu, tapi Papi suka bilang gitu kalau Shila ajak main."
Nah, 'kan! Darma hanya mengembuskan napas panjang, mencoba bersabar. Pria itu menengok ke arah pintu. Tak ada tanda-tanda Ara akan datang. Dia benar-benar menyesal sudah menawarkan diri untuk memandikan anaknya dan membiarkan istrinya melakukan me time. Andai saja pengasuh putrinya sedang tidak libur, sudah Darma serahkan Ashila, lalu ia bergabung dengan Ara yang pasti kini sedang berendam di bawah busa. Ah, membayangkan saja dia sudah senang.
"Ya, ampuuuun!"
Seruan itu terdengar seperti penolong bagi Darma. Ia menoleh ke sumber suara, Ara datang dengan wajah segar dan rambut yang masih lembab. "Nggak mau bangun, Babe," adunya.
"Kan aku udah bilang nggak usah beliin bebek karet. Kalaupun beli, ya, jangan sebanyak ini. Shila, bangun, Nak."
"Tidak mau," jawab anaknya dibarengi gelengan kepala. Tangannya sibuk membenarkan posisi bebek yang terbalik.
__ADS_1
Ara mendelik ke arah suaminya.
Darma menyengir tanpa rasa bersalah. "Aku mandi dulu, ya," katanya bangkit berdiri. Pria itu mengecup kening istrinya dua kali sebelum benar-benar pergi.
"Shila, bangun. Kan habis ini mau pergi makan pizza sama main di playground. Yuk, Sayang!"
"Nanti ... Papi balu mandi."
"Shila, ayo, dong. Mami laper mau makan. Makan mashed potato. Enaaakkk." Ara mengulum bibir agar anaknya tergoda.
"Mauuuu ...."
"Ya, sudah. Bangun." Ara tersenyum cerah. Anaknya memang lemah kalau sudah disangkut pautkan dengan makanan sama seperti dirinya.
Dua puluh menit kemudian, ibu dan anak itu telah selesai. Mereka menuruni tangga dan tidak lama setelahnya Darma menyusul.
Mata Ashila berbinar menatap makanan yang baru saja disajikan Bi Marni. Ada mashed potato seperti yang tadi dikatakan ibunya, scrambled eggs, dan juga sosis.
"Ashila mau disuapin Papi atau Mami?" tanya Darma seperti biasa. Ingin tahu lebih kepada siapa anaknya berpihak.
"Mamiii ... suapin Mami."
Ara tertawa, lalu menyunggingkan senyum sinis ke arah suaminya. "Mau yang mana dulu, Sayang?" tanyanya dengan raut bahagia yang ditujukan pada putrinya.
"Ashila kenapa nggak mau disuapin Papi? Papi sedih, lhoh." Darma menunjukkan wajah sedihnya.
Memang dasar orang tua ribet. Perihal begini saja drama!
"Suapin Papi, ya, Sayang," ujar sang ayah.
"Makan sendiri aja kalau gitu. Ashila 'kan udah pintar makan sendiri." Ara acuh tak acuh.
"Sekali-kali nggak apa-apa, dong, disuapin. Ya? Ashila 'kan princess-nya Papi."
Akhirnya setelah dibuat bingung, Ashila memilih ayahnya.
Darma tersenyum cerah. "Shila mau makan apa?"
"Sosis."
"Oke!"
Darma mengambilkan sosis untuk putrinya. Sementara dengan elegan, Ara menyantap sarapannya sendiri.
__ADS_1
Menit demi menit terlewati dengan tawa renyah dari Ashila. Usai menghabiskan dua sosis dan separuh mashed potato, anak perempuan dengan gaun rumahan itu menyeletuk, "Papi, poop."
"Hah?"
"Poop. Mau poop."
Darma menelan ludah, kemudian menengok ke arah istrinya. "Babe ...."
Ara masa bodoh. Ia justru menjatuhkan pandangannya kepada Ashila. "Shila mau poop sama siapa?"
"Papi."
Ara mengulum senyum. "Sana, Mas. Minta ditemenin kamu, tuh."
"Ra, jangan gitu, dong." Wajah Darma memelas.
"Gitu gimana?" Ara mulai kesal dengan penolakan halus suaminya.
"Papi, ayo. Shila nggak tahan." Ashila memegangi perutnya yang mulai sakit.
"Cepetan, Mas. Kamu, lho, disuruh temenin anak poop aja masa nggak mau. Tadi aja semangat mau nyuapin."
"Y-ya, ya ... aku mau kalau nemenin, tapi nggak mau kalau .... Ra, please, aku 'kan belum selesai sarapan."
Dada wanita itu naik turun seiring napasnya yang memburu. Matanya juga tampak berkaca-kaca. "Kamu gitu, ya, Mas. Aku, lho, hamil Shila tiga bulan mual muntah. Melahirkan sakitnya minta ampun sampai nangis-nangis. Tapi, kamu cuma diminta nemenin sama bersihin poop anakmu aja nggak mau. Shila, ayo sama Mami aja." Ara sudah mau berdiri, tapi Darma mencegahnya.
"Aku, biar aku aja. Kamu lanjut sarapan."
"Nggak usah."
"Tapi, Shila maunya sama aku. Shila mau poop sama Papi, 'kan?"
"Iyaaa ... cepetan, Papi!"
"Iya. Yuk, Sayang. Poop sama Papi, ya." Darma sudah berdiri, lalu menggendong Ashila menuju toilet.
Begitu suami dan anaknya tak lagi terlihat, Ara segera menghapus sudut matanya yang berair. Setelahnya, senyum kepuasan terukir di bibir merah mudanya. Ya, yang tadi itu hanya akting dan Ara berhasil. Memang dasar drama queen!
.
Bab-bab awal senang-senang dulu ya.
Kasih tahu kalau ada typo
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan
Jangan lupa untuk tinggalkan komentar 🌋🌋🌋