Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Can't Move On


__ADS_3

"Kamu kenapa, Nduk?" Setelah seminggu lamanya, malam ini Pak Narto mencoba bertanya kepada putrinya yang akhir-akhir terlihat seperti orang malas hidup.


"Nggak apa-apa, kok. Kenapa Bapak tanya gitu?" Ara pura-pura tak tahu. Dia lupa dengan siapa kini ia berbicara. Orang tuanya. Dua orang yang begitu memahami dirinya jauh sebelum ia mengenal dirinya sendiri.


"Kelihatan jelas, Nduk." Ibunya menimpali. "Kamu ngapa-ngapain juga jadi nggak konsen. Darma, ya? Ibu udah nggak pernah denger lagi kamu teleponan sama dia sampai malem."


Gerakan tangan Ara yang sedang mengupas kulit jeruk sontak terhenti. Keinginannya untuk memakan buah berwarna oranye itu hilang sudah. Ia meneguk ludah. Menatap orang tuanya dengan bingung harus mengatakan apa.


"Dia orang kaya. Kaya banget malah. Sulit. Ya, kan, Bu?" Pak Narto meminta persetujuan istrinya dan langsung dijawab anggukan. "Lebih enak kalau carinya yang sepadan. Biar nanti sama-sama berjuang. Punya apa-apa itu, ya, hasil keringat bersama."


"Iya, bener." Lagi-lagi Bu Ata membenarkan perkataan suaminya. "Repot banget kalau beneran serius. Ibu nggak mau kamu dibilang suka nyadong, padahal nggak minta. Kayak pas Ibu sakit waktu itu. Sininya, lhoh, yang nggak enak dikasih barang banyak banget." Wanita berdaster itu menunjuk dadanya.


Kontan hati Ara mencelos. Mungkinkah diamnya orang tuanya selama ini bukan karena setuju ia menjalin hubungan dengan Darma, melainkan untuk sekadar menyenangkan hati putrinya? Dan sekarang, di saat ia terjerembab di lubang yang sama akibat ketidaksetujuan nenek Darma, Ara mendapat tamparan verbal dari orang tuanya.


Mungkin memang sudah seharusnya jalannya begini. Semestinya Ara juga sadar bahwa sejak awal tembok yang terbangun saat ia bersama Darma jauh lebih tinggi jika dibandingkan saat dirinya bersama Elang dulu.


"Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Jalanmu masih panjang. Masih ada kuliah juga yang harus kamu pikirin." Nasihat sang ayah.


Kedua mata Ara memanas, sedangkan orang tuanya kini sudah kembali fokus pada layar televisi yang sama sekali tak menarik baginya. "Aku ngantuk," alibinya tak kuat berada di tempat itu.


Ayah dan ibunya tak mengatakan apapun. Mungkin tahu jika Ara memang butuh waktu untuk sendiri.


Gadis itu langsung sesenggukan begitu tubuhnya terempas di ranjang. Sesak bukan main saat kenyataan dan orang-orang terdekatnya tidak memihak padanya.


........................

__ADS_1


" .... Jalanmu masih panjang ...."


Ya, perkataan ayahnya kala itu benar. Namun, bagaimana jika jalan yang ia tapaki terdapat bayang-bayang Darma yang selalu mengikutinya?


Setahun telah berlalu, tapi nyatanya ingatan akan Darma bukannya memudar, tapi malah semakin jelas.


"Happy birthday, Mas."


Bahkan, di tengah kesibukannya menjadi mahasiswi baru, Ara masih saja mengingat setiap hal kecil akan Darma. Gadis itu tersenyum miris. Segera ia hapus nama lelaki yang baru saja ditulis di kaca jendela yang berembun akibat hujan sore ini.


Lamunannya buyar tatkala adiknya datang dari arah dalam sembari mengomel.


"Mbak, itu ada tamu. Kok, nggak dibukain," kata Gusti sambil memutar knop pintu.


Kakak beradik itu sempat membatu melihat siapa yang datang di saat hujan masih turun dengan derasnya.


Elang dan Ajeng.


"Masuk dulu, Mas," ucap Ara mempersilakan.


Elang menyunggingkan senyum. Menoleh ke arah Ajeng, lalu menggandeng tangan perempuan itu untuk masuk.


Ara hanya bisa menipiskan bibir melihatnya.


Setelah kedua tamunya duduk dan mereka berbasa-basi sebentar, Ajeng membuka tasnya dan menyodorkan sebuah kertas berbentuk persegi panjang berwarna krem dengan corak batik di ke empat sudutnya ke depan Ara.

__ADS_1


"Undangan pernikahan?" tanya Ara menatap dua orang di depannya bergantian.


"Iya, aku sama Ajeng mau nikah. Aku harap kamu datang, ya, Ra," kata Elang.


Ragu Ara untuk mengiakan ucapan mantan kekasihnya. Apalagi mengingat Ajeng yang dulu sempat menganggapnya saingan.


"Kita udah sama-sama dewasa. Rasanya nggak pantes kalau masih debat tentang hal yang seharusnya nggak perlu buat didebatin. Aku minta maaf, Ra." Secara tiba-tiba Ajeng mengulurkan tangan.


Jujur, Ara terkejut bukan main. Apalagi Gusti yang jelas-jelas matanya sudah melotot. Mungkin kalau Ara tidak menyenggolnya, adiknya itu masih bertahan dengan ekspresinya yang terlampau jujur itu.


Ara membalas uluran tangan Ajeng. Mereka bersalaman dalam waktu sepersekian detik.


Karena masih banyak urusan, calon pengantin itu memilih berpamitan.


"Jangan lupa dateng, ya, Ra. Gusti juga," ucap Elang sebelum meninggalkan teras rumah Ara, kemudian masuk ke mobilnya.


"Aku usahain," jawab Ara seadanya.


Otaknya masih terpaku pada ucapan Ajeng yang menurutnya ... entahlah. Masih banyak yang lebih penting dibandingkan memikirkan orang-orang dari masa lalunya yang sekarang terlihat sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih begitu-begitu saja.


.


.


Halo tiga juta pembacaku. Mending up rajin tapi dikit-dikit apa jarang tapi langsung panjang kayak sebelumnya?

__ADS_1


__ADS_2