Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Keinginan


__ADS_3

Sekarang Darma tahu jika ada hal yang lebih lama dibandingkan menunggu istrinya mandi dan berdandan. Iya, benar! Menunggu anaknya tidur. Sudah hampir satu jam ia menunggu di kamar, tapi Ara belum juga menunjukkan batang hidungnya. Dua piring Indomie dengan telur ceplok setengah matang di atasnya pun sudah dingin.


Darma meraih remote TV, mengganti saluran yang sekiranya menarik. Namun sayangnya, tidak ada yang menarik selain serial drama Korea yang sejak beberapa minggu lalu ditonton Ara. Yang mau tidak mau juga ditonton olehnya. Lumayan bisa sambil ndusel-ndusel ke Ara.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya pintu kamar pun terbuka. Ara meringis, lalu berkata, "Lama, ya? Tadi Shila nggak tidur-tidur."


"Nggak apa-apa." Darma benar-benar tidak masalah. Toh, setelah ini dia akan bersenang-senang.


"Punyamu nggak dimakan mienya?" Ara yang baru saja mendaratkan bokongnya di sebelah Darma bertanya.


"Nunggu kamu, Babe."


Ara mengangguk, lalu mengambil piring berisi Indomie dan menyerahkannya pada suaminya. "Ulang, dong, belum nonton," katanya seraya mengambil piring bagiannya.


Darma menurut. Mengatur ulang drama Korea itu dari awal, kemudian menyantap makanannya.


Untuk beberapa saat Ara terpaku pada makanan dan layar besar di hadapannya. Tapi, begitu makanannya habis, ia menoleh pada suaminya dan berkata, "Mas ...."


"Iya, kenapa, Babe?"


"Habisin dulu makanannya, deh. Ini penting soalnya."


Darma menurut. Mungkin butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk Ara menunggu karena setelah menyelesaikan makannya Darma izin untuk merokok di balkon. Ara juga mendengar jika suaminya melakukan sambungan telepon entah dengan siapa. "Siapa yang telepon, Mas?" tanyanya begitu Darma kembali.


"Aldo. Yovan 'kan mau nikah. Jadi, Aldo rencananya mau bikin bachelorette party buat dia."


"Terus ngajak kamu?"


Darma meringis. "Iya, hehe. Boleh, ya, Sayang?"


Ara mengerutkan kening. "Eumm ... gimana, ya?"


"Babe ... ayo, dong. Aku udah jarang banget, lho, keluar sama temen sejak nikah. Sejak ada Shila. Ya, boleh, ya?" Darma menarik-narik lengan Ara.

__ADS_1


"Iyaaaa ... kapan emangnya?"


"Belum tahu. Nunggu semuanya bisa."


Ara manggut-manggut, lalu memiringkan tubuhnya ke arah Darma dan menaikkan kakinya, duduk bersila. "Mas ...."


"Iya?"


Ara bingung memulai dari mana apalagi kini Darma menatapnya serius.


"Kenapa? Kamu kalau ada apa-apa bilang aja. Aku 'kan suamimu."


"Tadi pagi ... Shila minta lagi."


Darma menaikkan sebelah alisnya. "Minta apa?"


"Bayi. Dia sampai nangis-nangis sebelum turun dari mobil."


"Terus?"


"Kamu mau punya anak lagi?" Antara kaget dan senang Darma mengatakannya.


"Aku iyain keinginannya Shila," kata Ara. Masih ada sedikit keraguan di raut wajahnya.


"Cuma iyain aja atau iya beneran?" Darma menelisik lebih jauh lagi.


Wajah Ara merona. Karena malu untuk mengatakan sambil menatap wajah Darma, ia memilih untuk memeluk suaminya. "Aku udah memutuskan buat punya anak lagi."


Gantian Darma yang merasa ragu. Ia mengurai pelukannya, menatap dalam mata istrinya. Kendati Ara sudah yakin, tapi jika hanya demi anaknya, ia tidak mau. Terlebih melahirkan itu taruhannya nyawa. "Kalau cuma demi Shila mending nggak usah."


"Kenapa kamu bilang cuma? Shila itu anak kita." Ada amarah serta kekecewaan di wajah cantik Ara.


"Punya anak lagi itu 'kan artinya tanggung jawabnya juga bertambah. Kalau keinginan kamu nggak berasal dari hati aku takutnya kamu stress kayak dulu." Darma ingat betul saat awal-awal memiliki anak Ara mengalami baby blues gara-gara jam tidurnya berantakan dan berujung produksi ASI-nya jadi sedikit.

__ADS_1


"Aku udah pikirin itu mateng-mateng, kok, Mas. Aku juga sempet tanya-tanya Imelda sama Keyla. Ya, memang awalnya riweh, tapi mereka bilang senangnya juga berkali-kali lipat. Nanti 'kan bisa tambah nanny buat bantu-bantu," ucap Ara sedikit lebih yakin.


Darma membelai lembut wajah Ara dan tersenyum. "Kalau itu udah jadi maumu, aku bisa apa? Makasih, ya, udah bersedia buat ngasih aku keturunan lagi."


"Aku cuma pengen Shila seneng dan rumah ini bisa lebih ramai lagi."


"Apapun itu. Aku selalu sayang sama kamu. Nanti kalau takut melahirkan, sesar aja. Teknologi kedokteran 'kan udah lebih canggih. Nanti pakai obatnya yang paling bagus biar pemulihannya cepet."


Ara manggut-manggut, lalu hening. Mereka saling tatap, kemudian tertawa. Prosesnya saja belum sudah memikirkan melahirkan.


"Tunggu apa lagi?" Akhirnya Darma bersuara.


"Aku mandi dulu." Ara bangkit berdiri.


Darma menahannya. Laki-laki itu ikut berdiri, kemudian memutar tubuh istrinya agar menghadapnya. "Nggak perlu. Masih wangi, kok," katanya disusul kecupan di leher Ara.


Ara menundukkan kepala. Matanya terpejam ketika satu per satu kancing piyamanya dilepas hingga akhirnya tubuhnya terekspos jelas.


"Kamu mau anak cewek apa cowok?"


Ara mengangkat wajahnya. Menatap Darma bingung. "Kenapa Mas Darma yang tanya gitu? Harusnya 'kan aku."


"Nggak ada aturannya. Ayo, jawab. Mau cewek apa cowok?"


"Kenapa, sih, Mas?"


Gemas dengan istrinya yang tak kunjung menjawab, Darma mencium bibir Ara. Sedikit lebih kasar dari biasanya dan baru melepaskannya saat napas Ara terengah-engah. "Posisi memengaruhi hasil, Babe."


"Cowok. Aku mau cowok." Ara yang dengan mudahnya terbuai lantas mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


Sedikit kesulitan Darma melepaskan pakaiannya lantaran Ara terus mendesaknya. Dan begitu berhasil, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan Ara yang ada di pangkuannya. "Kamu yang mau, kamu yang gerak," katanya disela-sela ciuman mereka.


"Siapa takut?" ucap Ara menantang yang disambut dengan senyum kebahagiaan Darma.

__ADS_1


.


Hai ... aku membuka grup chat. Buat kalian yang mau ngobrol santai yuk join. Nanti aku acc.


__ADS_2