
Malam Minggu kali ini terasa berbeda bagi Ara. Ya, bagaimana tidak? Sudah hampir satu jam ia berada di kamar. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan ke orang tuanya perihal Darma yang akan datang besok sore.
"Orang tuamu di rumah hari apa?" tanya Darma saat mereka menikmati es krim yang disajikan sebagai hidangan penutup.
"Minggu."
"Oke, aku bakal ke rumahmu hari Minggu sore."
Ara ketar-ketir melihat jarum jam sudah menunjuk pukul delapan lewat. Orang tuanya bukan tipe yang suka melek sampai malam. Jadi, kemungkinan besar mereka akan menuju kamar untuk pergi tidur tidak lama lagi.
Mencoba melongokkan kepala, Ara justru dibuat kaget dengan adiknya yang juga keluar kamar.
"Kamu ngapain, Mbak?" tanya Gusti dengan tatapan aneh.
"Nggak ngapa-ngapain. Kamu nggak keluar?" Ara mengalihkan pembicaraan.
"Banyak tugas," kata pemuda itu sambil mengambil air mineral dari galon.
Begitu adiknya kembali masuk kamar, mulut Ara terlihat komat-kamit saat ia meyakinkan diri sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke depan TV, tempat di mana orang tuanya sedang duduk.
"Bajunya, ya, ampun. Ada-ada aja. Itu pakainya gimana, ya? Buat jalan aja susah," komentar Bu Ata melihat seorang penyanyi yang gaya hidupnya selalu glamour tengah mengenakan gaun yang menurutnya aneh.
Pak Narto tidak menanggapi. Pandangannya justru jatuh pada putrinya yang baru saja mendudukkan diri di kursi yang berada tidak jauh darinya. Keningnya sedikit mengerut mendengar Ara memanggilnya dan ingin berbicara serius.
"Pak, ada yang mau aku omongin."
Bu Ata langsung mengecilkan volume TV. Jiwa keponya seketika tersulut. Apalagi saat ekor matanya melihat putrinya tampak gugup.
__ADS_1
"Ngomong apa?"
"Besok ada yang mau main ke sini," kata Ara sengaja dibuat bertele-tele.
"Siapa? Temen kerjamu?" Bu Ata yang menyahut.
"Main, ya, main aja nggak apa-apa. Bapak nggak ngelarang." Pak Narto terkesan santai.
Ara menarik napas pelan. Apakah kata-katanya kurang menjurus sehingga orang tuanya tidak cukup tanggap? Atau memang keduanya sengaja?
"Bukan temen kerja."
"Terus siapa? Ngomong yang jelas, Nduk." Bu Ata tampaknya tidak sabar.
"Mas Darma yang mau datang," cicit Ara sambil harap-harap cemas memandang ayah dan ibunya.
Ara mengangguk. "Besok sore Mas Darma mau datang. Mau ketemu sama Bapak sama Ibu."
Percayalah, jantung Ara berdetak kencang setelah mengatakannya. Orang tuanya yang belum juga merespons membuatnya gigit jari.
"Mau ketemu, mau ngomong apa, Ra?" tanya Pak Narto, lalu melirik istrinya dengan tatapan penuh arti.
"Mau ngelamar kamu?" cetus Bu Ata tak pernah salah sasaran.
Bibir Ara tak bisa menahan lengkungan indahnya ditanyai begitu oleh ibunya, dan mungkin juga pipinya sudah mengeluarkan semburat merah.
"Iya, Ra?" Ayahnya menegaskan.
__ADS_1
"Y-ya, ya ... gitulah pokoknya. Bapak sama Ibu besok dengerin aja dia mau ngomong apa. Udah, ya, Ara mau ke kamar lagi. Mau istirahat." Gadis itu undur diri dari hadapan orang tuanya yang kini menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan.
Di waktu yang sama, Darma juga kini sedang duduk bersama orang tuanya untuk membicarakan tentang keinginannya yang ingin mempersunting Ara.
"Pa, besok aku mau ke rumahnya Ara. Mau ketemu orang tuanya buat ngomongin hal yang serius."
"Mau ngelamar anak orang, tuh, anakmu, Pa." Selly yang sudah diberitahu lebih dulu oleh putranya ikut bersuara.
"Mau dateng sama Papa Mama sekalian, Dar?" tanya Wira enteng. Sebelumnya, pria yang rambutnya sudah memutih itu juga sedikit-sedikit telah diberitahu istrinya.
"Nggak, lah!" Darma menyanggah cepat. "Aku dulu yang dateng, Pa. Nanti kalau orang tuanya udah setuju, atur aja Papa bisanya kapan."
"Kalau nggak setuju?" Wira menggoda putranya.
"Pasti setuju. Nggak mungkin enggak," ucap Darma percaya diri.
Wira dan Selly saling melempar pandang sambil tersenyum.
"Enaknya bawa apa, ya, Ma, ke sana?" Darma meminta pendapat.
"Apa, ya?" Sembari menggulir layar ponselnya, Selly ikut berpikir.
"Bolu jadul kenarinya Berta boleh, tuh, Ma." Ayahnya yang mengusulkan.
Selly menjentikkan jarinya. "Iya! Mau nggak, Dar? Sama nanti Mama tambahin cheesecake."
"Aku serahin semuanya sama Mama," jawab Darma. Dia bukan tidak peduli, hanya saja sedari tadi pikirannya sibuk merangkai kalimat yang pas untuk meluluhkan hati orang tua Ara.
__ADS_1
Bagaimana tanggapan suami istri itu terlebih jika nanti mereka membahas tentang dirinya yang tiba-tiba menghilang, dan sekarang saat kembali muncul ia langsung melamar anak gadis mereka. Darma benar-benar tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.