Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Restu


__ADS_3

Dengan tampilan kasual, yakni kaus putih yang dilengkapi blazer hitam dan celana dengan warna senada, Darma menuruni anak tangga rumahnya.


Tepat begitu ia menginjakkan kaki di lantai satu, ibunya yang sepertinya juga akan pergi datang menghampiri dengan sebuah paper bag berukuran cukup besar di tangan, lalu diberikan kepadanya. "Ini kuenya. Kamu mau berangkat sekarang?"


"Iya. Gimana, ya, Ma? Aku bingung." Darma menggaruk kepalanya. Ya, di saat sudah mepet begini lelaki itu menyatakan kegelisahannya.


Selly mengelus bahu putranya. Senyuman menenangkan ia berikan. "Bilangnya pelan-pelan aja. Santai. Toh, niatnya kamu 'kan baik."


Darma mengangguk, kemudian dari arah tangga muncullah Wira yang juga sudah siap. Sepertinya orang tuanya benar-benar akan pergi.


"Papa, Mama, mau ke mana?" tanya Darma.


"Mau sauna. Hehe .... Kamu hati-hati, ya. Jangan lupa berdoa biar dapat restu orang tuanya Ara. Yuk, Pa, kita cus." Selly menggamit lengan suaminya. Melambaikan tangan sebelum keluar dari pintu utama rumahnya dengan wajah berseri-seri.


Tak lama setelah suara mobil orang tuanya menghilang, Darma bergegas menuju rumah Ara. Pintu rumah kekasihnya sudah terbuka begitu ia keluar dari mobil.


Dengan jantung berdegup kencang, Darma akhirnya mengetuk pintu rumah Pak Narto usai berdeham tiga kali. Dalam hatinya, lelaki itu berharap jika yang muncul pertama kali adalah Ara.


Ara, please, Ara ....


Gayung bersambut. Ara datang dari samping rumah. Gadis itu tampak segar dengan dress floral selutut serta rambutnya yang masih lembab. "Mas udah sampai? Yuk, masuk dulu," katanya dengan senyuman yang kali ini terlihat canggung karena rasa gugup yang juga mendera.


Darma mengangguk. Begitu masuk ke dalam, ia baru sadar kalau rumah yang dulu sering didatangi kini sudah banyak mengalami perubahan. Apalagi saat ia menengok ke luar. Ada taman minimalis yang cukup menyegarkan mata jika dilihat sembari duduk di teras.


"Bapak sama Ibu udah di rumah?" tanya Darma sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang lagi-lagi sudah berganti dari terakhir kali ia ke situ.


"Mereka nggak ke mana-mana karena tahu bakal kedatangan tamu agung. Mau aku panggilin?" Ara mengedipkan sebelah matanya, menggoda.


"Ra!" Tampak wajah Darma menegang. "Kasih minum dulu, kek."


"Iyaaa .... Tunggu sebentar." Ara masuk ke dalam.

__ADS_1


Sembari menunggu kekasihnya kembali, Darma mengetuk-ngetukkan telunjuknya di paha. Degup jantungnya sudah tidak beraturan. Pandangannya terus mengedar meneliti apa saja, meski hasilnya tetap sama. Tidak fokus!


Kegugupan pun semakin tak lagi bisa disembunyikan bahkan lidah Darma sontak kelu melihat Ara muncul membawa nampan berisi beberapa cangkir teh dan jajanan pasar bersama dengan orang tuanya yang berjalan di belakang gadis itu.


Glek!


Darma bangkit berdiri. Dengan senyum canggung ia menyalami Pak Narto dan Bu Ata.


Mereka lantas duduk. Darma yang duduk berhadapan dengan Pak Narto membuatnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sambil sesekali melirik Ara.


"Minum dulu, Mas." Pak Narto mempersilakan.


"I-iya, Pak." Darma meraih cangkir teh dan menyesapnya sedikit. Saat menaruh kembali cangkirnya, ia teringat dengan kue bolu jadul kenari dan cheesecake yang dibawanya. "Oh, ya, ini buat Bapak sama Ibu," katanya menyodorkan paper bag berisi kue kepada Bu Ata.


"Makasih, Mas. Repot-repot segala." Basa-basi Bu Ata.


"Nggak repot, kok." Lagi, Darma melirik Ara. Gadis itu terlihat anteng di kursinya.


"Kamu kedinginan?" tanya Darma melihat Ara mengusap-usap tangan.


"Enggak. Gatel dikit. Digigit nyamuk kayaknya."


"Nyamuk emang banyak akhir-akhir ini, Mas," celetuk Pak Narto.


"I-iya, Pak." Darma menarik napas panjang. Rasanya sudah cukup untuknya basa-basi. Sekarang dia harus menyampaikan tujuannya datang ke rumah itu. Ya, harus! Darma tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi. "Sebelumnya mungkin Ara sudah bilang ke Bapak sama Ibu, kalau saya datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu yang penting."


Pak Narto dan Bu Ata saling tatap. Darma memandang Ara dengan senyum yang menyiratkan bahwa dia tidak berbohong akan ucapannya. Sementara Ara hanya menanggapi dengan wajah malu-malu.


"Sesuatu yang penting apa, Mas?" Walaupun sedikit banyak sudah mendengar dari Ara, tapi rasanya tidak afdol bagi Pak Narto kalau tidak mendengar langsung secara jelas dari laki-laki yang katanya akan melamar anaknya.


"Saya menyukai Ara, dan kedatangan saya ke sini ingin meminta restu dari Bapak dan Ibu. Saya ingin hubungan kami bisa naik ke jenjang yang lebih serius," kata Darma dengan jantung berdebar-debar.

__ADS_1


Bu Ata melirik suaminya yang kini menundukkan pandangan. Helaan napas panjang juga beberapa kali terdengar.


"Maaf, sebelumnya saya mau tanya," akhirnya Pak Narto membuka suara, "apa orang tua Mas Darma sudah tahu tentang tujuan Mas Darma datang ke sini?"


"Ya, mereka tahu." Darma terlihat antusias. Tentu saja, ini adalah kesempatan baginya untuk meyakinkan keluarga Ara bahwa keluarganya menerima gadis itu dengan tangan terbuka. "Saya sudah cerita ke Papa dan Mama, dan mereka mendukung saya. Jadi, kalau Bapak dan Ibu setuju, nanti saya akan ajak orang tua saya untuk datang kemari."


Pak Narto mengulas senyum dengan sedikit tawa keluar dari mulutnya. Walau demikian, tak dapat dipungkiri jika ada kebingungan di wajah tuanya sebab begitulah cara pria itu mengungkapkan kebimbangannya saat di depan orang lain.


"Saya juga ingin minta maaf," kata Darma kembali menarik perhatian mereka yang duduk bersamanya. "Empat tahun yang lalu saya pergi ke London untuk melanjutkan pendidikan. Sebelumnya saya memang pernah janji ke oma saya tentang yang satu itu, tapi karena sudah keasyikan bekerja, saya mengulur waktu. Hal itu sepertinya membuat oma saya tidak sabar. Diam-diam dia mendaftarkan saya dan ternyata diterima. Keberangkatan saya yang begitu mendadak membuat saya tidak bisa pamitan ke Bapak, Ibu, dan juga Ara. Saya benar-benar nggak enak kalau ingat itu. Karena itu pula, hubungan saya dan Ara jadi renggang. Saya minta maaf, Pak, Bu."


Pak Narto hanya manggut-manggut. Merasa itu bukanlah persoalan berarti sebab jauh di dalam hati dan pikirannya kini sepenuhnya hanya tertuju pada anak gadisnya. Embusan napas berat terdengar. Pak Narto menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di kursi, lalu berkata, "Sebenarnya yang saya pikirkan hanya satu, Ara. Dia anak perempuan saya satu-satunya jadi saya sangat mengkhawatirkannya. Kita tahu kalau Mas Darma orang berada, sedangkan kami ini 'kan istilahnya walang lemah. Orang yang berada di bawah. Apa Mas Darma yakin dengan pilihannya? Sudah mantap?"


"Iya, saya yakin," kata Darma lugas. "Dan untuk yang satu itu ...." Sejenak napasnya tertahan. "Saya rasa Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir karena keluarga saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Semua orang sama, hanya baik dan tidak yang membedakannya. Masalah berbeda itu ... semua orang di dunia juga nggak ada yang sama. Saya dan Ara ... kami pernah dekat dengan lawan jenis, tapi nggak pernah secocok ini. Terlepas dengan latar belakang keluarga mereka seperti apa. Jadi, saya berharap sekali Bapak dan Ibu memberikan restu. Sejak saya cerita ke mama, dia juga malah mendesak saya buat ngajak Ara main ke rumah. Mama saya pengen banget ketemu Ara setelah lama nggak ketemu."


Oke, kalimat terakhir Darma memang bohong, tapi tidak apa-apa 'kan, ya? Sekali-kali demi keberlangsungan kisah asmaranya. Namanya juga promosi.


"Kamu gimana, Ra?" tanya Pak Narto ujung-ujungnya menyerahkan semuanya kembali kepada putrinya.


Ara mengu*lum senyum malu-malunya.


"Mau nggak? Jadi istriku?" celetuk Darma menambah semburat merah muda di pipi kekasihnya.


"Hmm ...." Ara mengangguk, lalu tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


Hanya itu, tapi cukup bagi Darma. Karena setelahnya, Pak Narto pun tak bisa apa-apa selain mendukung dan mendoakan apa yang sudah menjadi keputusan putrinya.


walang lemah \= belalang tanah


.


.

__ADS_1


Mau bilang makasih buat kalian yang mau baca cerita ini. Hawa-hawa mau tamat merasa banyak banget kurangnya, mau revisi, tapi, kok, ya ... malazzzzzz


__ADS_2