
Mengurus pernikahan tetap bukan perkara mudah, meski sudah menggunakan jasa wedding organizer. Apalagi jika pesta pernikahan itu mengundang ribuan orang dan sang calon mempelai pria sibuk dengan pekerjaannya. Rasa lelahnya menjadi berkali-kali, dan itulah yang dirasakan Ara. Selama tiga minggu terakhir ia harus rela pulang malam karena mesti menemui vendor untuk melihat lokasi, menentukan konsep, dan menyusun rangkaian acara. Hanya dua tiga kali Darma ikut bersamanya. Lelaki itu memang sedang mengejar target pekerjaan supaya cepat selesai agar nanti bisa mendapat cuti lebih banyak setelah menikah.
Seperti sore ini, Ara terpaksa berjalan seorang diri memasuki sebuah butik untuk menemui desainer yang akan membuatkan gaun pernikahan untuknya. Wajahnya yang lesu sekaligus kecewa karena Darma gagal ikut sebab ada masalah di kantor mendadak berubah—pura-pura—sumringah ketika seorang pegawai butik mengantarnya menemui si pemilik butik setelah tadi ia menjelaskan maksud kedatangannya.
"Selamat sore. Saya, Arasellia, yang kemarin menghubungi Ibu Juliana."
"Ah, ya, saya ingat. Calon menantunya Tante Selly, kan? Saya, Juliana, senang bertemu denganmu. Kapan hari Tante Selly juga sudah menghubungi saya."
"Bu Juliana tahu Tante Selly?" Ara sedikit terkejut. Namun, itu tak berlangsung lama. Ya, tentu saja wanita di depannya ini tahu, orang dia saja dapat kontak Juliana dari calon ibu mertuanya.
"Bukan cuma tahu, saya cukup dekat dengan dia. Tante Selly langganan di butik ini. Dia bilang anaknya mau nikah dan minta tolong saya buat bikinin gaun. Saya pikir yang mau nikah Silvia, ternyata Darma." Juliana mengatakan itu sambil berjalan bersisihan dengan Ara menuju ruangan yang letaknya agak ke dalam. "Kamu jangan bilang Tante Selly, ya. Sebenarnya saya disuruh diam kalau dia sudah menyodorkan beberapa model gaun yang sekiranya pantas dengan postur tubuh kamu, tapi saya rasa saya perlu ngasih tahu biar kamu tahu kalau dia sangat antusias dengan pernikahan kamu dan Darma."
"Jadi, Bu Juli sudah membuat rancangan gaunnya?" tanya Ara sambil mendudukkan diri di sofa setelah dipersilakan oleh Juliana.
"Ada beberapa sesuai arahan Tante Selly, tapi tenang aja kalau kamu udah tahu gaun seperti apa yang kamu mau, kamu tinggal bilang aja. Tante Selly bilang semuanya tetap terserah kamu. By the way, jangan panggil Bu, dong, panggil Kak Juli aja kayak Darma manggil saya. Belum tua-tua banget, kok, aku, ya ... walaupun udah punya buntut satu." Juliana tertawa sejenak.
"Iya, Bu, eh, Kak Juli." Ara terlihat kikuk.
"Santai aja. By the way, Darma nggak ikut? Biasanya calon manten 'kan ke mana-mana berdua," ujar Juliana yang kini sibuk mencari meteran jahit yang entah di mana.
"Tadinya mau bareng, cuma mendadak Mas Darma ada urusan kantor. Jadi, nanti dia nyusul."
Juliana mengangguk paham. Wanita usia pertengahan 30-an itu kembali menghampiri Ara setelah menemukan benda yang dicari. "Aduh, lupa. Kamu mau minum apa? Pasti haus, ya. Sorry, sorry."
"Nggak apa-apa, Kak. Santai aja."
__ADS_1
"Mau yang panas atau dingin?" Juliana menawari.
"Dingin aja."
"Kamu diet nggak? Soda mau?"
"Mau. Aku nggak diet, kok."
"Oke. Aku lihat badan kamu juga udah bagus. Cuma saran aja, nanti kamu mesti olahraga kecil-kecil biar berat badannya stabil. Yeah ... kalaupun naik atau turun, itu juga nggak terlalu banyak," kata Juliana seraya mengambil sekaleng soda dari kulkas yang ada di ruangan itu.
"Thanks, Kak." Ara mengucapkan terima kasih untuk saran dan juga minuman yang saat ini hendak ia teguk.
Butuh waktu sekitar satu setengah jam bagi Ara untuk melakukan pengukuran dan memilih model gaun seperti apa yang nanti dikenakan di hari pernikahannya. Tidak terlalu sulit, sebab Juliana juga memberi saran dan masukan serta menunjukkan jenis kain seperti apa yang nantinya dipakai.
"Eh?" Ara sedikit mengerjap. "Saya nunggu di depan aja nggak apa-apa."
"Jangan gitu, dong. Kamu itu klien penting tahu, dan mungkin nanti setelah kamu resmi jadi istrinya Darma, kamu bakal sering diajakin ke sini sama Tante Selly. Oh, ya, Darma udah jalan belum biar dibeliin makan sekalian."
"Aku tanyain dulu, Kak." Ara mengambil ponselnya yang ada di tas. "Bentar lagi sampai, Kak," katanya begitu mendapat balasan dari Darma.
"Oke. Aku bilang sama pegawaiku dulu, ya, suruh beliin. Deket sini ada ayam goreng kremes enak. Kamu pasti suka."
"Iya, Kak."
......................
__ADS_1
Hanya selang beberapa menit dari pegawai Juliana yang baru saja kembali, Darma tiba di butik milik kenalan ibunya itu. Lelaki itu berbasa-basi sejenak dengan Juliana sebelum kemudian mereka makan malam bersama diiringi obrolan yang tidak jauh-jauh dari pernikahan. Tentu saja, dengan ditambahi bau-bau menggoda dari Juliana yang sudah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga.
Darma dan Ara akhirnya berpamitan beberapa menit setelah keduanya selesai makan. Pun dengan Juliana yang harus pulang ke rumah karena anaknya terus-terusan menangis mencarinya.
"Capek banget, ya?" tanya Darma di dalam perjalanan mengantar Ara pulang.
"Iya."
"Resign aja kalau gitu."
Ara yang sudah menyandarkan kepalanya dan hendak memejamkan mata mengurungkan niatnya. "Mas Darma bilang apa?"
"Resign."
"Aku emang bakal resign, tapi nggak sekarang."
"Tapi, kamu bilang cape. Emang apa bedanya resign sekarang sama nanti?" tanya Darma dengan pandangan tetap lurus menatap jalanan.
Ara menegakkan tubuhnya, menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya. "Kayaknya setiap orang yang mau menikah emang capek, deh, buat nyiapin pernikahannya. Dan mungkin bagi Mas Darma mau berhenti kerja kapan aja nggak ada pengaruhnya. Tapi, nggak buat aku. Ada tanggung jawab yang harus aku selesein. Tahu, kok, aku mesti resign, tapi nggak sekarang, dan aku emang cape, tapi, ya, udah. Aku nggak masalah. Lagian, kalau aku resign sekarang, aku mau ngapain di rumah? Orang nikahnya aja masih tiga bulan lagi."
Darma menelan ludah. Tampaknya kekhawatiran yang ia ungkapkan justru menyinggung perasaan Ara. Sungguh dia tidak bermaksud. Ia hanya khawatir pacarnya sakit dan juga kasihan karena dia tidak bisa menemani saat Ara harus mondar-mandir untuk mengurus pernikahan mereka. "Ra—"
"Aku capek, Mas," kata Ara tak ingin lagi mendengar apa pun. Darma menurut karena tahu akan percuma jika dia menjelaskan, pikiran Ara sedang keruh.
Ara memejamkan matanya. Bukan karena mengantuk, tapi agar air matanya tidak jatuh. Beberapa hari terakhir suasana hatinya memang sedang tidak baik. Belum lagi kesibukannya yang bertambah, dan hari ini pacarnya sangat menyebalkan. Lengkap sudah, kan?
__ADS_1