
Pukul sebelas malam Ara masih terjaga di kamar Ashila sambil menunggu Darma pulang. Seharian ini, wanita itu juga tak membiarkan anaknya lepas dari pengawasannya. Ya, tingkat keposesifan Ara meningkat drastis. Dia takut Ajeng tiba-tiba ada di rumahnya mengetahui kesehatan mental perempuan itu yang terganggu.
Beberapa saat kemudian, derap langkah kaki terdengar di lantai dua. Itu mungkin suaminya, tapi entah mengapa Ara tak berani beranjak untuk melihat sebab pikirannya didominasi oleh hal-hal yang tidak baik. Bagaimana jika itu bukan Darma? Bagaimana kalau itu orang yang berniat jahat kepadanya?
"Babe!"
Ara terkesiap ketika pintu kamar Ashila dibuka. Benar itu Darma suaminya. Ara berjalan mendekat dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Darma.
"Nungguin kamu," jawabnya sembari berjalan menuju kamar sendiri. Raut lelah suaminya membuat Ara mengurungkan niatnya untuk bercerita. Mungkin besok pagi saja memberitahunya.
__ADS_1
"Mas Darma udah makan?"
"Udah. Bukain kancingnya, dong," pinta Darma disusul tangannya mengusap kepala Ara.
Satu per satu kancing kemeja Darma telah terbuka. Ara memandangi dada bidang itu dengan wajah malu-malu.
Yang dipandangi jadi terkekeh-kekeh. "Tidur, gih! Kamu pasti cape hari ini. Maaf, ya, soal tadi siang itu benar-benar kejadiannya mendadak."
Sebelum menceritakan semuanya, Darma menuntun Ara supaya duduk di sofa. Sekalian memberitahu bahwa mungkin beberapa hari ke depan dia tidak bisa diganggu. "Ada masalah besar," katanya. Darma meraih air minum yang ada di meja di depannya dan menghabiskan hanya dalam beberapa tegukan.
"Apa?"
__ADS_1
"Barang produksi banyak yang nggak layak diedarkan. Entah mesinnya yang bermasalah atau ada orang jahat yang mengganti bahan baku dengan kualitas yang lebih jelek." Decak kesal mengiringi cerita Darma. Lagi, lelaki itu membelai kepala istrinya. Matanya menatap sendu Ara. Ada perasaan tak tega karena masalah sialan ini. " Ra, kalau beberapa hari ini kamu nyetir sendiri gimana? Pak Surip aku pinjem buat jadi sopir aku. Boleh nggak? Aku nggak mau nginep, nggak bisa tinggalin kamu. Besok jam enam aku udah harus berangkat lagi dan pulangnya mungkin malem."
Ara tercenung. Ternyata masalah suaminya memang tidak main-main. Tidak mungkin dia tidak mengiakan setelah mendengar alasan Darma. Lagipula, Ara juga khawatir kalau Darma menyetir sendiri bolak-balik Solo-Salatiga dalam kondisi badan dan pikiran lelah.
"Nanti aku minta Mama suruh cari sopir lagi aja buat kita. Tapi, sementara gini dulu gimana? Cuma beberapa hari, Sayang. Maaf, ya?" Darma merapatkan tubuhnya. Raut wajahnya terlihat memelas, meski dalam hati sebenarnya juga tak tega. Terlebih dia sendiri yang memutuskan supaya Ara ke mana-mana bersama sopir usai pertengkaran mereka beberapa waktu lalu.
"Harus kamu banget, ya, yang ke sana, Mas?" Jujur, Ara agak keberatan. Bukan karena akan diduakan dengan pekerjaan, melainkan rasa cemas yang menyelimuti hati. Namun, untuk mengatakan barang sepatah kata tentang kejadian siang tadi saja lidahnya kaku.
"Iya, maaf, ya. Nggak tahu mau percaya sama siapa. Papa orangnya nggak tegas. Aku janji setelah semuanya selesai kita quality time. Oke?"
Pada akhirnya Ara hanya bisa mengangguk pasrah. Pagi-pagi sekali, ia sudah mengantar suaminya pergi bekerja. Darma bahkan tidak sempat bertemu dengan anaknya dan itu benar-benar terjadi sampai beberapa hari. Ya, mau bagaimana lagi? Darma pergi, Ashila belum bangun dan ketika pulang, anaknya sudah tidur.
__ADS_1
Ara menyimpan semua ketakutan serta kegelisahannya seorang diri. Hingga di suatu siang, sebuah pesan dari suaminya sukses membuat bibirnya melengkung indah, menciptakan senyuman terbaik yang ia miliki.