Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Rumah Darma


__ADS_3

Degup jantung Ara semakin bertambah kencang seiring dengan berhentinya mobil Darma di halaman rumah tiga lantai yang mengusung gaya modern. Ia meremas ujung blouse yang dikenakan saat Darma dengan tidak pekanya langsung turun begitu saja. Namun ternyata, Ara salah.


Begitu Darma turun, lelaki itu lantas membukakan pintu untuk Ara. "Ayo, turun." Ia mengulurkan tangannya.


"Mas ...." Ara meneguk ludah. Ingin rasanya dia meminta sang kekasih untuk mengantarnya pulang. Nyali Ara memang langsung kicep hanya dengan memandang bangunan megah di hadapannya.


"Nggak usah takut. Mamaku nggak gigit, kok." Darma melontarkan candaan.


Plak!


Ara menabok lengan kokoh yang masih terulur di depannya. "Gak lucu!" ketusnya sebelum kemudian turun dari mobil.


Suasana tampak sepi saat Ara mulai menjejakkan kaki di lantai marmer berwarna putih yang begitu mengkilat. Terdengar suara orang mengobrol yang sepertinya berasal dari arah dapur mengetahui hidungnya mencium aroma masakan.


"Maa ....!"


Hanya selang beberapa detik setelah Darma memanggil ibunya, derap langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dengan blouse berwarna maroon berjalan menghampiri.


"Hai ... kalian udah sampe ternyata. Mama nungguin dari tadi, lhoh, Dar." Selly tampak sumringah.


Darma menoleh pada Ara, lalu berkata, "Ini, lhoh, aku udah bawa seseorang yang Mama tunggu dari kapan hari." Ia tersenyum melihat wajah pacarnya yang tampak malu-malu.


"Ha-halo, Tante." Ara mengangkat kedua sudut bibirnya dengan sisa kepercayaan diri yang ada.


"Ternyata aslinya lebih cantik dari yang difoto, ya." Pantes aja anak Tante klepek-klepek. Tau nggak, Ara? Darma ini suka pamer foto kamu ke Tante, lho." Selly tersenyum menggoda. "Ara, sini duduk, yuk." Tanpa permisi, wanita itu langsung merangkul bahu Ara menuju sofa terdekat.


"Kamu sama mama dulu, ya. Aku mau ganti baju sebentar," ujar Darma.


Sontak saja mata Ara membeliak. Mana yang katanya akan terus berada di sebelahnya? Dasar laki-laki semuanya sama saja. Penipu!


"Udah, biarin aja Darma-nya ke kamar. Kamu sini aja sama Tante. Oh, ya, Ara mau minum apa?"


"Apa aja, Tante," jawab Ara hati-hati. Ah, tampaknya tidak hanya saat berucap, untuk bernapas saja gadis itu sangat berhati-hati di hadapan ibu dari kekasihnya.

__ADS_1


"Oke. Tunggu, ya." Selly beranjak menuju dapur untuk memberitahu asisten rumah tangganya dan kembali dengan membawa tiga toples berisi makanan ringan.


"Ara suka ngemil nggak?" Wanita itu menaruh makanan yang dibawanya di meja, lalu kembali duduk di samping Ara. "Tante suka banget sama ini. Cobain, deh." Ia membuka salah toples dan meminta Ara mencicipinya.


Bak putri keraton Ara mengunyah selembar keripik rumput laut yang diambilnya. "Enak, Tante," ungkapnya jujur. Kalau di rumah, sudah ia bawa kabur toples itu untuk menemani dirinya menonton drama Korea.


Selly tersenyum senang, lalu ikut mengambil keripik rumput laut kesukaannya.


Dari arah dapur, Marni datang membawa tiga minuman dingin untuk majikannya. Ara mengikuti perginya asisten rumah tangga itu setelah selesai melakukan tugasnya.


"Di sini, ya, memang begitu, Ra. Sepi. Tante lebih sering ditemenin sama Mbak daripada anak-anak." Selly tersenyum tipis. "Darma udah cerita tentang papanya?"


Kembali Ara menoleh pada wanita di sampingnya. "U-udah, Tante."


Raut wajah Selly berubah mendung, meski bibirnya mencoba tetap tersenyum. "Ya, begitulah keadaan keluarga kami. Ara beneran sayang 'kan sama Darma? Nggak cuma buat main-main?"


Lagi-lagi pertanyaan yang membuat Ara menahan napas. "Iya beneran, Tante."


"Beneran apa?" celetuk Darma yang baru tiba di lantai satu. Lelaki itu sudah terlihat lebih santai dengan kaus putih polos dan sandal jepit.


Darma dan Selly kompak tersenyum.


"Darma bilang, Ara mau kuliah tahun ini, ya?" tanya Selly mengalihkan topik pembicaraan.


"Rencananya, sih, gitu, Tan."


"Mau kuliah di mana?"


"Yang deket-deket aja. Biar nggak perlu ngekos."


Selly manggut-manggut. "Silvia juga kuliahnya cuma deket sini, kok. Darma, nih, yang sukanya milih kampus jauh-jauh biar nggak direcoki mamanya. Harusnya Darma tahun ini juga ...."


"Ehm! Papa pulang jam berapa, Ma?" potong Darma.

__ADS_1


Selly kontan melirik arlojinya. "Mungkin sebentar lagi. Nanti Ara pulangnya abis makan malam, ya, biar agak lama ketemu papanya Darma."


Ara langsung cemas. Ini baru jam tiga lebih sepuluh menit. Yang artinya masih sekitar tiga atau empat jam dia di rumah itu. Bisa kaku otot-otot pipinya karena harus tersenyum terus demi first impression yang bagus di depan keluarga pacarnya.


"Nggak usah khawatir. Nanti aku yang izin sama orang tua kamu," ucap Darma sok tahu apa yang ada di pikiran Ara.


"Ya, udah. Mama tinggal dulu, ya, Dar. Kepala Mama agak pusing makanya tadi pagi nggak jadi ikut Papa ke acara satu bulanan anaknya Lingga."


Mendengar nama Lingga disebut, Ara langsung menoleh ke arah Darma begitu Selly menghilang di ujung tangga.


"Kenapa? Kaget?"


Ara mengangguk pelan.


"Kita udah terbiasa dengan keadaan kayak gini, Ra. Aku juga manggil mama ke istri papa yang satunya." Darma tersenyum tanpa beban. Tidak seperti saat di mobil ketika mereka berangkat. "Mau nonton film?"


"Boleh."


"Nonton di kamarku, ya, biar lebih enak. Ini makanan sama minumannya bawa aja."


"Hah? Kamar?"


"Tenang aja. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, kok."


Katanya, sih, "nggak bakal ngapa-ngapain". Tapi, begitu sampai kamar dan smartTV baru saja dinyalakan. Sementara Ara juga sudah duduk di ranjang sambil memeluk toples, Darma langsung memeluk gadis itu sangat erat dengan wajahnya yang ia benamkan di perpotongan leher Ara. Mengendus aroma yang ia rindukan setelah seminggu berada di Kota Surabaya.


"Kangen banget sama kamu, Ra."


.


.


.

__ADS_1


Happy New Year 2022 ya teman-teman. Semoga tahun depan lebih baik dalam segala hal dibandingkan tahun ini.


Aku mau hibernasi dulu. See you next year 🥳🥳❤️


__ADS_2