Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Berbeda


__ADS_3

"Biar aku aja." Darma mengambil alih botol minum di tangan istrinya dan memasukkannya ke tas.


Setelah tiga hari dirawat, hari ini akhirnya Ara diperbolehkan pulang sementara Darma sudah boleh pulang dari kemarin. Hanya saja, lelaki yang beberapa hari yang lalu memesan bed tambahan supaya bisa satu ruangan dengan istrinya memilih untuk tetap tinggal.


Selama itu pula, Darma dengan setia melayani dan menemani Ara. Karena, mungkin hanya dengan itu dia bisa membalas kebaikan istrinya yang tidak terkira. Ya, saat orang tuanya datang, Ara sama sekali tidak menyinggung Darma yang malam itu tidak pulang dan malah mabuk-mabukan.


Seakan tanpa beban, Ara justru berbohong kepada orang tuanya sendiri kalau Darma kecelakaan saat dalam perjalanan pulang karena ia terus-menerus meneleponnya lantaran mengalami perdarahan.


"GILA!" batin Darma menjerit sewaktu mendengar penjelasan istrinya itu. Sungguh, dia laki-laki paling tidak tahu diuntung karena telah mengabaikan wanita yang sudah Tuhan kirimkan untuknya.


"Mas!"


Sentuhan di lengannya membuat Darma kembali dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Kepalamu pusing?" tanya Ara.


"Enggak. Aku nggak apa-apa. Kamu jangan khawatir, ya," kata Darma. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Tangannya meraih tangan Ara, menggenggamnya dan memberikan usapan-usapan lembut di punggung tangan wanita itu.


Setelahnya, perhatian Darma jatuh kepada mertuanya. Selama di rumah sakit, setiap hari secara bergantian Pak Narto dan Bu Ata datang menemani dan membantu segala yang diperlukan, sementara Selly mengurus Ashila.


"Bapak, Ibu, makasih sudah membantu banyak. Saya jadi nggak enak sudah merepotkan," kata Darma.


Pak Narto menyunggingkan segaris senyum. "Sejak Mas Darma menikah dengan Ara, saya sudah menganggap Mas Darma sebagai anak sendiri. Orang tua nggak pernah merasa direpotkan. Kami senang kalau bisa membantu anak-anak kami. Kadang kalau nggak begini, memang susah ketemu. Tapi, ke depannya Bapak harap kejadian seperti nggak terulang lagi."


"Ibu juga selalu berdoa semoga ini menjadi hal buruk terakhir yang menimpa anak-anak Ibu." Bu Ata menambahkan.


Mata Darma kembali memanas mendengar penuturan mertuanya. Rasa-rasanya, saat ini juga ia ingin berlutut dan mengakui dosa-dosanya di depan orang tua istrinya. "Lusa ulang tahun Ashila, Bapak sama Ibu besok malam nginep di rumah, ya. Kali ini saya memaksa. Jadi, saya mohon Bapak dan Ibu mau," katanya dengan suara bergetar.


Pak Narto dan Bu Ata saling melempar pandang, kemudian mengangguk. "Iya, nanti kami menginap."


"Makasih, Pak, Bu." Darma mencium tangan mertuanya bergantian.


"Udah nggak ada yang ketinggalan, 'kan? Yuk, keluar sekarang. Mau hujan juga kayaknya," ucap Pak Narto melihat keadaan luar melalui jendela.


"Bapak diantar Pak Surip aja gimana? Nanti saya teleponin. Saya udah bisa, kok, kalau nyetir sendiri." Darma menawari.

__ADS_1


"Bapak bawa motor, Mas."


Darma mengangguk. "Kalau gitu biar besok sore aja, ya, dijemput Pak Surip-nya," ucapnya sambil menarik koper kecil berisi baju kotor dan segala macamnya keluar ruangan.


Mereka berpisah di lobi rumah sakit. Ara sempat memeluk sebentar ibunya sebelum orang tuanya menuju parkiran, sedangkan Darma sedang mengambil mobil.


"Yang sabar, ya, Nduk. Nanti kalau sudah waktunya pasti diberi lagi sama Yang Memberi Hidup."


Ara hanya mengangguk dengan raut wajah hendak menangis.


"Anak Ibu pasti kuat. Ada Darma juga. Senyum, to, biar cantik." Bu Ata mengusap pipi anaknya yang dialiri air mata, kemudian menangkup pipi Ara.


"Ibu, hati-hati, ya. Kabari kalau sudah sampai rumah."


"Kamu juga."


Anak dan ibu itu menoleh. Darma kembali dengan mobilnya. Kedua pasangan berbeda generasi itu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.


Darma merangkul Ara berjalan menuju mobil dan membukakan pintu. Namun, saat ia sudah duduk di balik kemudi dan hendak memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya, Ara mencegahnya.


Darma sempat terdiam mendengarnya. Kendati demikian, tetap ia pasangkan sabuk pengaman itu dengan benar. Dengan hati mencelos, perlahan Darma melajukan mobilnya, sementara Ara sibuk dengan pikirannya.


"Mau makan sesuatu nggak?" Darma memecah kesunyian di dalam mobil.


Ara menggeleng. "Aku cuma mau ketemu Ashila."


"Ulang tahunnya Ashila jadinya di rumah. Nggak apa-apa, 'kan?"


"Aku nggak masalah."


"Besok orang EO datang buat dekor. Kamu nanti nggak usah bantu-bantu. Semuanya udah ada yang handle."


"Iya."


Sampai mobilnya berbelok memasuki halaman rumah, Darma memilih tak bersuara. Meski begitu, ia tetap membukakan pintu untuk Ara dengan segaris senyum yang hanya dibalas dengan raut wajah datar.

__ADS_1


"Mamiiii ...."


Senyuman di bibir Ara baru mengembang ketika putrinya menyambut dan menghambur ke pelukannya. Yang mana membuat hati Darma seperti teriris kala melihatnya. "Mami kangen banget sama Ashila," katanya. Hanya bertemu beberapa jam dalam sehari dengan putrinya membuat batin Ara sungguh tersiksa.


"Mami, Shila dibikinin puding banyak banget sama Oma."


Tatapan Ara beralih kepada ibu mertuanya yang sedari tadi berdiri di belakang putrinya. "Makasih sudah jagain Ashila, Ma."


Selly mengangguk. "Sekarang yang penting kamu sehat dulu. Masalah yang lain, nggak usah dipikirin. Ulang tahun Ashila juga udah beres. Kita tinggal duduk manis dan semuanya siap."


"Iya, tadi Mas Darma sudah bilang." Ara menoleh ke arah Darma dengan senyum yang seperti dipaksakan.


"Ashila sudah makan malam, Ma?" tanya lelaki itu.


"Ashila belum makan. Nungguin kalian katanya. Tadi Mama udah minta Bi Marni buat masakin makanan kesukaan kamu sama Ara. Mau makan sekarang?"


"Iya."


Mau tak mau, Ara yang sebenarnya butuh waktu sendiri pun mengekor menuju meja makan. Ada banyak hidangan di sana yang entah akan dihabiskan oleh siapa.


"Mas, jangan banyak-banyak nanti nggak habis," ucap Ara melihat suaminya mengambilkan porsi makan sepiring penuh untuknya.


"Nanti aku yang habisin," jawab Darma. Lelaki itu tidak berbohong. Setelah Ara merasa kenyang usai menghabiskan setengah makanannya, Darma memakan habis sisanya.


Ara sendiri tidak mengerti apa tujuan suaminya sebab setelah makan malam selesai, lelaki itu langsung mengajukan diri membacakan dongeng untuk Ashila dan menjanjikan gadis kecilnya donat. Padahal, Ara tahu kalau kondisi Darma juga belum terlalu fit.


Wanita itu langsung menuju ke kamar setelah tadi berbincang sebentar dengan mertuanya yang akan menginap sampai besok malam. Saat jam hampir menunjuk angka sembilan, Ara yang mendengar pintu kamar dibuka sontak memejamkan mata dan berpura-pura tidur.


Bunyi gemericik air terdengar dari kamar mandi. Tak berselang lama, Ara dapat merasakan pergerakan di ranjang dan sesaat setelahnya sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya.


"Aku sayang banget sama kamu," lirih Darma, lalu sebuah kecupan ia daratkan di kepala istrinya. "Maaf udah bikin kamu kayak gini. Aku harus gimana, Ra, biar kita bisa kayak dulu? Aku nggak bisa lihat kamu sedih apalagi itu gara-gara aku. Seandainya aku mau dengerin kamu dulu, semua ini pasti nggak akan terjadi dan kita nggak bakal kehilangan calon anak kita. Bilang aku harus apa? Aku pasti turutin kemauan kamu, tapi jangan diam. Jangan lihat aku kayak lihat orang yang nggak kamu kenal."


Darma menarik napas panjang agar isak tangisnya tidak terdengar dan menggangu tidur Ara. Namun kenyataannya, hal itu sulit. Dadanya justru makin sesak ketika suaranya tak bisa keluar, tapi di saat bersamaan air matanya terus mengalir.


Darma yang merasa tak mampu pun memilih untuk turun dari ranjang. Lelaki itu pergi ke balkon. Dan saat suara pemantik api terdengar, perlahan Ara membuka matanya, lalu setetes air mata pun jatuh membasahi pipi melihat wajah frustrasi suaminya dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2