Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Syukuran


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, pikiran Ara terus terpusat pada ajakan yang dilontarkan oleh Elang. Balikan? Dalam kamus gadis itu tidak istilah jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tapi ini Elang! Orang ketiga tersabar yang pernah ia temui setelah ayahnya dan mantan pacarnya yang pertama. Bukankah Ara cukup beruntung selalu dipertemukan dengan lelaki seperti itu?


Ara mengembuskan napas kasar setelah menggeledah saku celana serta mengubek-ubek mini ranselnya dan tak menemukan kunci motornya. "Aduh! Di mana, sih?! Nggak tahu, ya, orang udah cape sampe rasanya mau pingsan!" Hidung Ara kembang kempis menahan kekesalannya.


Ia kembali turun dari motor. Sembari berkacak pinggang, matanya jelalatan mencari benda yang dicari. Siapa tahu 'kan tidak sengaja jatuh. Hingga akhirnya, setelah memeras otaknya yang ya ... lumayanlah. Dia ingat sudah meletakkan kunci motornya bersamaan dengan tangannya yang menaruh kue sus di nakas ruang rawat Elang. Yang artinya Ara harus kembali masuk rumah sakit dan menuju lantai tiga. Menghadeh bukan?


"Bawa apa pacar kamu ke sini?" Bu Rini memasuki ruang rawat putranya beberapa saat setelah ia melihat Ara keluar. Wanita itu berdecak sinis melihat isi kantong plastik pemberian Ara. "Cuma ini?" Ia mengeluarkan dua kotak transparan dan menunjukannya pada Elang.


Elang menghela napas kasar. Dia memang belum mengatakan pada ibunya jika jalinan asmaranya dengan Ara telah kandas. Dia masih berharap Ara akan kembali jatuh ke pelukannya.


"Lang!" sentak Bu Rini membuat Elang menjengit kaget. "Ibu ngomong dari tadi nggak kamu dengerin, ya!"


"Enggak kalo Ibu cuma jelek-jelekin Ara. Lagian kenapa memang kalau Ara cuma bawa itu? Yang penting 'kan niatnya." Elang sedikit berdecak. Kepalanya masih terasa pusing dan ibunya justru menambah-nambahi dengan hal yang jelas-jelas tidak ia sukai.


"Kamu, tuh, ya!" Bu Rini mengerucutkan bibir. Sebal sekali jika putranya lebih membela pacarnya dibanding dirinya. "Dipelet apa, sih, kamu sama dia sampe kayak begini ke Ibu kamu sendiri. Inget, Lang, zaman sekarang itu jarang ada yang benar-benar tulus. Apalagi kamu bilang 'kan kalo tahun depan dia daftar kuliah."


"Maksud Ibu apa?" Elang dengan raut penasaran menatap sang ibu.


Bu Rini menyunggingkan senyuman miring. "Yah, siapa tahu 'kan nanti di belakang, Ara atau orang tuanya dengan cara sehalus mungkin meminta kamu membiayai kuliah dia. Lagi pula Ibu yakin Ara tahu kalau Ibu nggak suka sama dia, tapi kamu liat sendiri dia tetep aja pura-pura baik. Apalagi tujuannya kalau bukan uang kamu. Mana ada, sih, orang yang mau-mau aja dikata-katain kalau nggak punya niat tertentu. Dia juga masih punya adik, 'kan? Jangan-jangan ...."


"Cukup, Bu!!!" Suara itu menggema memenuhi ruangan. Bukan suara Elang, melainkan suara seorang gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintu dan mendengar hal tidak mengenakkan tentang dia dan keluarganya.

__ADS_1


Tanpa melepaskan pandangannya dari Bu Rini, Ara berjalan hingga akhirnya berhenti di hadapan wanita itu. "Saya memang bukan orang punya, tapi nggak pernah sedikit pun saya punya niatan buat morotin uangnya Mas Elang. Saya masih punya kaki dan tangan yang bisa dipake buat kerja. Masih punya otak yang bisa dipake mikir, dan yang jelas masih punya hati buat nggak mandang rendah orang lain!"


Ada kepuasan tersendiri di hati Ara sesudah ia menumpahkan uneg-unegnya kepada Bu Rini. Sementara wanita itu kini tampak marah dilihat dari wajahnya yang memerah.


"Jadi, gini hasil didikan orang tua kamu! Nggak ada sopan-sopannya kalo ngomong sama orang tua."


Ara mendecih. "Nggak usah bawa-bawa orang tua saya. Saya sudah besar, saya tau orang tua seperti apa yang pantas dihormati."


Telak! Bu Rini tidak bisa menjawab. Hanya tatapan tajamnya saja yang masih mengarah pada Ara.


Gadis itu tak acuh. Ara berjalan menuju nakas untuk mengambil kunci motor, kemudian menyempatkan diri untuk sejenak berbicara dengan Elang.


Tidak ada air mata yang mengalir, Ara begitu lugas mengatakannya. Bahkan, Bu Rini yang kini duduk di sofa yang ada di pojok ruangan juga pasti bisa mendengarnya dengan jelas. Setelahnya, gadis itu keluar dari ruangan. Hubungannya telah benar-benar berakhir, dan Ara siap menyongsong hari-hari barunya. Masa depannya ... dan semua kebahagiaan serta kesuksesan yang menantinya di depan sana, tanpa Elang.


................


Setibanya di rumah, Ara langsung meletakkan kantong plastik yang ia bawa di meja depan TV rumahnya. "Makan, Gus," katanya pada adiknya yang sedang rebahan menonton film "Kungfu Panda" entah untuk yang keberapa kalinya.


Gusti langsung mendudukkan tubuhnya. "Wahhh, mimpi apa kamu, Mbak, beli mie ayam ini? Atau jangan-jangan lagi kesambet?" Ia menaruh telapak tangannya di kening kakaknya. "Nggak panas."


"Dasar adik tidak tahu diuntung. Ambil mangkuk sana!" perintah Ara. Saat pulang tadi, ia memang menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah tempat mie ayam yang terkenal enak.

__ADS_1


"Bapak sama Ibu belum pulang?" tanyanya begitu adiknya sudah kembali dengan membawa empat mangkuk dengan ukuran berbeda di tangan.


"Belum. Toko rame, lhoh, Mbak. Tadi aku aja sampe harus bantuin," jawab Gusti sambil menuangkan mie ke mangkuk yang ukurannya besar, sementara kuahnya ia tuang di mangkuk yang lebih kecil.


"Kamu dua, tuh. Aku sengaja beli lima porsi."


"Eh?" Gusti membelalak senang. Dengan cepat ia kembali menuangkan mienya satu lagi ke mangkuk. "Tau banget, sih, kalo satu nggak kenyang."


Setelah menuangkan sambal ke kuah mie masing-masing, kakak beradik itu duduk bersila di sofa depan TV sambil menonton acara yang sudah berganti menjadi tayangan infotainment.


"Sluurrppp! Huahhh ...." Gusti sampai melet-melet karena enak dan pedasnya yang nampol. Memang tidak ada yang mengalahkan nikmatnya makan mie sambil menonton TV ditambah di luar cuaca mendung dan rintik hujan mulai turun.


"Tapi ngomong-ngomong, Mbak, dalam rangka apa, sih, beli beginian? Gajian juga kayaknya masih lama." Remaja yang tiba-tiba diselimuti rasa penasaran itu mengeluarkan tanya tanpa mengalihkan pandangan dari TV sambil terus melahap makanannya.


"Syukuran."


"Syukuran apa?" Gusti masih enjoy.


"Syukuran putusnya aku sama Elang."


"Uhukkk! Uhukkkk!!!" Gusti langsung menepuk-nepuk dadanya yang mendadak sakit akibat tersedak. Namun, sakitnya itu tak sebanding dengan keterkejutannya. Apa kata kakaknya tadi? Syukuran karena sudah putus dari Elang? Dasar gila! Orang makan-makan itu biasanya kalau baru jadian. Nah, ini putus baru makan-makan.

__ADS_1


__ADS_2