Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Kondangan


__ADS_3

Dalam balutan midi dress warna putih yang mempertontonkan bahu mulusnya Ara siap menghadiri pernikahan bosnya. Mobil Junot berhenti di halaman rumahnya tidak lama setelah ia mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu.


Malam ini, Junot tampil necis dengan setelan kemeja putih tanpa dasi dan jas hitam. Rambutnya yang diberi pomade membuat penampilan lelaki itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya.


"Prepare banget, Mas," ledek Ara sesaat setelah membukakan pintu.


"Yeah, siapa tahu ada yang nyantol. Orang tua ada?"


Ara mengangguk, lalu masuk untuk memanggil orang tuanya.


Karena ini bukan kali pertama Junot datang, jadi tidak terlalu susah baginya untuk sekadar meminta izin kepada orang tua Ara.


Ballroom hotel berbintang yang menjadi tempat diadakannya resepsi Aldo dan Imelda sudah didekor sedemikian mewah mulai dari pintu masuk hingga pelaminan yang berhiaskan ribuan bunga.


Alunan musik orkestra mengalun merdu. Menemani para tamu undangan yang sudah mulai ramai. Ara bersama Junot mengedarkan pandangan mencari meja yang sudah ditentukan untuk mereka.


"Hei ...."


Lambaian tangan Mitha membuat keduanya bernapas lega. Mereka berjalan menghampiri meja di mana rekannya itu duduk. Di sana juga sudah ada Yudha dan Risty, bagian dari divisi marketing yang lebih sering wira-wiri di lapangan daripada duduk manis di kantor.


Acara belum dimulai, tapi entah sudah berapa kali Mitha mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar atau video, lalu diunggah di media sosialnya. Gadis itu semakin heboh saat presenter kondang Indra Herlambang dan Yuanita Christiani yang menjadi MC pernikahan membuka acara.


Tak lama kemudian, pintu ganda ruangan besar itu terbuka, ribuan pasang mata kontan mengarah ke tempat itu. Tempat di mana pengantin akan muncul, kemudian berjalan melewati lorong menuju pelaminan.


Ara mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan momen sekaligus sebagai bukti bahwa ia hadir di acara pernikahan bosnya. Namun, suatu hal kembali mengejutkannya. Tubuh Ara sontak membeku melihat groomsmen yang berjalan paling belakang dan menggandeng seorang wanita yang malam ini juga bertugas sebagai bridesmaid.


Ara menghela napas panjang. Meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, seberapa kuat ia menyangkal, nyatanya ada yang berdenyut nyeri di dalam sana. Hatinya. Ada rasa tidak terima melihat Darma menggandeng wanita lain, meski jika dilihat dari tindakan lelaki itu yang kembali mencoba mendekatinya, dia yakin Darma tak ada hubungan apa pun dengan wanita itu.

__ADS_1


"Duduk, Ra."


Ara tersentak kala Junot menyenggol lengannya.


"Kamu ngapain ngalamun di tempat kayak gini?" Lagi Junot bertanya dengan raut heran.


"Lagi mengkhayal paling ntar kalau nikahan mau kayak gini," celetuk Mitha.


Ara mendengkus, lalu memilih untuk mencicipi minuman yang baru disuguhkan daripada melayani ocehan temannya.


Di pertengahan acara, ribuan ponsel kembali mengarah ke panggung saat penyanyi papan atas Indonesia—Judika—membawakan lagu pertama untuk sang pengantin. Semua tersenyum cerah, kecuali Ara yang pandangannya terus tertuju ke kursi yang diduduki oleh Darma.


"Duh, kok, kepalaku pusing, ya." Mitha memijit pelipisnya.


"Iya, sama aku juga." Risty menimpali.


"Lhah, emang ini minuman beralkohol?" Mitha mengangkat gelas berleher kecil berisi minuman berwarna kuning dengan potongan buah di bibir gelas tersebut.


"Iyaaa ...." Junot yang menjawab. "Emang dipikir itu apaan? Sirup Marjan?"


Ara geleng-geleng kepala mendengarnya, sedangkan Yudha sudah terbahak-bahak.


"Ketawa kamu, Yud! Aku baliknya gimana?" Risty mengeluh sekaligus mengutarakan kebingungannya. Waswas sekali jika pulang naik taksi dalam keadaan mabuk. Yeah, walaupun tidak sampai hangover, tapi ini pengalaman pertamanya merasakan sensasi minuman semacam itu.


"Aku anterin, deh. Sok-sokan bingung segala." Yudha sewot.


"Aku juga, Yud." Mitha mengajukan diri.

__ADS_1


"Yang bener ajaaaa .... Kosmu di barat, rumahku di timur. Enggak, enggak." Yudha menolak keras.


"Dianterin Junot aja, Mith. Kan kalian searah." Ara mengusulkan.


Junot tidak keberatan, tapi di sisi lain dia merasa tidak enak mengingat dirinya sudah berjanji pada orang tua Ara akan mengantar gadis itu sampai rumah dengan selamat. "Kamu sendiri gimana, Ra?"


"Taksi, kan, ada. Santai aja kali, Jun. Aku, kan, nggak mabuk nggak kayak, nih, bocah dua." Ara tersenyum melihat Mitha dan Risty keliyengan.


"Oke."


Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, begitu acara selesai, Risty pulang diantar Yudha dan Mitha diantar Junot.


"Kamu beneran nggak apa-apa, Ra?" tanya Junot saat mereka sudah di pelataran hotel. "Aku bisa anter kamu setelah anter Mitha."


"Nggak usah, Jun. Udah sana balik aku juga udah mau cari taksi, kok. Lihat, tuh, Mitha oleng gitu."


"Hmm ... kamu hati-hati, ya. Kabarin kalau udah sampai rumah."


Ara hanya mengangguk. Setelah Junot dan Mitha berlalu dari hadapannya, ia mengambil ponselnya yang ada di clutch untuk memesan taksi online. Ara melengos setelah berulang kali memesan, tapi tak ada satu pun driver yang menerima pesanannya.


Sampai akhirnya sebuah kehangatan menyelimutinya. Ara menatap ke bawah. Sebuah jas sudah tersampir dan menutupi bahunya yang terbuka. Ia menoleh, dan saat itu juga matanya bertemu dengan mata lelaki yang beberapa minggu lalu menghalanginya saat hendak pulang kerja.


"Aku anterin pulang."


"Aku bisa sendiri."


"Aku tahu, tapi aku pengin nganterin kamu. Ada hal yang mau aku omongin. Kamu tunggu sini, aku mau ambil mobil bentar." Tanpa menunggu persetujuan Ara, Darma sudah pergi, dan tak lama kemudian kembali dengan Mercedez Benz-nya.

__ADS_1


__ADS_2