Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Keluarga


__ADS_3

"Mbak, kamu bohong, 'kan? Sebenarnya kamu nggak jatuh dari motor, 'kan?" Masih dengan muka bantal dan iler di sudut bibirnya Gusti tak henti-hentinya mencecar sang kakak untuk mendapatkan jawaban yang bisa meyakinkan hatinya.


Malam nanti adalah malam pergantian tahun, tapi sejak hari masih pagi langit seperti tak ada bosan menumpahkan airnya ke bumi. Alhasil, banyak orang lebih memilih untuk diam di rumah. Bahkan, hingga sore menjelang jalanan terlihat sangat sepi. Entah nanti jika hujan reda, mungkin dengan cepat suasana akan berubah. Suara geber-geber motor akan mendominasi telinga dibandingkan letupan kembang api di langit malam.


Ara mendengkus kesal. Harus berapa kali dia bilang agar adiknya yang menyebalkan itu percaya. "Mata kamu minus delapan belas, ya, sampai nggak bisa liat tanganku diperban gini?"


"Yeah, aneh aja. Masa bisa pas gitu ketemu di tengah jalan? Jangan-jangan Mbak nggak pergi sama Mbak Keyla, tapi sama Mas Darma, ya? Ngaku, hayoo!" Gusti tersenyum menyeringai. Merasa selangkah lebih maju karena sudah mengetahui nama pemilik mobil Lexus yang sempat membuatnya penasaran.


Darma memang sudah berkenalan dengan keluarga Pak Narto semalam, meski dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Laki-laki itu merasa sangat bersalah karena apa yang ia anggap sepele ternyata bisa membuat orang lain celaka. Darma bahkan sudah siap jika seandainya Pak Narto memarahi atau memukulnya. Namun, di luar dugaan, pria paruh baya itu dengan mudah memaafkannya.


"Kamu mandi aja sana! Bau banget, belum mandi 'kan dari pagi?"


"Halah! Pengalihan isu!" Remaja itu tak acuh. Gusti lebih memilih untuk mendaratkan bokongnya di kursi sebelah kakaknya, lalu menyomot bakpia pemberian Darma. Ya, sebenarnya saat memanggil Ara, tujuan laki-laki itu hanya ingin memberikan oleh-oleh khas Jogja yang sempat ia beli.


"Buuuu, Gusti nggak mau mandi, nih! Bau kakek-kakek." Ara mengadu seperti bocah umur lima tahun.

__ADS_1


"Mandi, Gus, cepet! Abis itu makan malam bareng. Nih, makanannya udah siap," seru sang ibu dari ruang tengah.


Biar pun tidak mewah sebab hanya di rumah, tapi di saat-saat spesial seperti tahun baru, hari raya, atau ulang tahun putra-putrinya keluarga Pak Narto selalu menyisihkan waktu untuk menciptakan momen kebersamaan keluarga. Karena nanti, ketika anak-anaknya sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri bersama pasangan masing-masing mungkin akan sulit bisa seperti sekarang. Tertawa, mengejek, dan berebut lauk di meja makan adalah hal sederhana yang membuat kedua sudut bibir melengkung ke atas saat mengingatnya kelak.


"Lhoh, kok sayapnya nggak ada, sih?!" Ara menggerutu saat tak menemukan bagian sayap ayam yang memang menjadi favoritnya.


"Ada dua, Ibu inget. Coba cari yang bener," jawab Bu Ata sambil menuang kuah soto yang baru mendidih, kemudian membawanya ke meja makan.


Setelah beberapa saat bergulat dengan semangkuk penuh ayam goreng ungkep buatan sang ibu, Ara berdecak sebal karena yang dicari memang tidak ada. Sampai akhirnya, ia melihat sayap ayam itu terbang dari piring ayahnya yang sudah dipenuhi nasi, kemudian mendarat di piring miliknya.


"Bapakkk!!!" Ara kesal bukan main. "Satunya mana?"


"Dasar adik durjana!!!"


Selesai makan malam, Ara dan Gusti sudah menggelesot di lantai beralaskan karpet depan TV, sedangkan Pak Narto dan Bu Ata duduk di kursi penjalin buatan almarhum sang kakek. Mereka tengah menyaksikan konser pergantian tahun ditemani Bakpia Pathok dan balung kethek buatan Bu Ata. Untuk minumannya Pak Narto memilih kopi, Ara memilih es jeruk, Gusti memilih es Milo, sedangkan Bu Ata hanya air putih. Itu saja tidak tersedia di meja. Wanita itu akan beranjak ke dapur jika merasa haus.

__ADS_1


"Kamu nggak jadi pergi, Gus?" tanya Pak Narto saat hujan tinggal gerimis.


"Nggak tau nanti. Kalo Andre pergi, aku pergi. Kalo enggak, aku juga nggak."


"Dasar nggak punya prinsip!" Ara mencibir.


Gusti menolehkan kepala, lalu melempar keripik ubi kayu di tangannya ke wajah Ara sambil menjulurkan lidahnya sesaat.


"Baguslah, nggak usah pergi. Ibu juga khawatir kalo rame-rame gini anak-anak keluyuran," ungkap Bu Ata jujur.


Setelahnya, fokus mereka teralihkan pada layar TV berukuran 24inch yang sedang menampilkan Ariel Noah bernyanyi sambil sesekali berkomentar layaknya juri di sebuah ajang kompetisi.


Di saat Bu Ata mengomentari busana sang MC wanita yang baru saja muncul, deru mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Mereka saling melempar pandang, menerka-nerka siapa yang datang. Hingga akhirnya ketukan pintu terdengar, Pak Narto pun beranjak untuk membukakan pintu.


.

__ADS_1


.



__ADS_2