
Setelah menuai perdebatan panjang dengan Darma perihal kado apa yang sebaiknya Ara berikan pada Selly, pada akhirnya gadis itu tidak membawa apa-apa. Ya, Darma menang. Laki-laki itu berkata jika acara ulang tahun ibunya malam nanti lebih mirip bakti sosial.
Ara sudah tampil menawan dengan gaun serta sepatu yang dibelikan Darma minggu lalu. Polesan make up tipis dengan lipstik merah bata serta rambutnya yang digerai begitu saja cukup membuatnya memesona.
Beberapa kali Ara menaikkan kedua ujung bibirnya di depan cermin, mencari-cari senyum seperti apa yang nantinya akan ia suguhkan. Sejenak ia tertawa menyadari tingkah konyolnya sebelum kemudian melangkah keluar kamar.
"Yang mau ketemu camer semangat bener," ujar Gusti sinis.
Ara memilih tak peduli. Ia justru menghampiri orang tuanya yang baru pulang dari toko, dan bersamaan dengan itu mobil milik Darma berhenti di depan rumah.
Ara mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu pada sang ibu. Tatapannya mengarah pada lelaki berkemeja putih yang baru saja turun dari mobil dan tengah berjalan ke arahnya.
"Sore, Bapak dan Ibu." Darma menyapa serta menyalami Pak Narto dan Bu Ata. Ia berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya meminta izin untuk membawa anak gadis pria dan wanita paruh baya itu ke rumahnya, dan mungkin pulangnya akan sedikit melanggar jam malam Ara.
Sembari berjalan di samping Darma memasuki mobil Range Rover milik lelaki itu, Ara mesam-mesem karena baju mereka yang senada. Sudah seperti pengantin baru yang apa-apa harus seirama.
"Happy banget mukanya. Mau ketemu siapa, sih?" Darma menggoda seraya membukakan pintu untuk Ara.
"Kok, ketemu siapa, sih? Kan ketemu kamu." Mendadak wajah Ara sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Darma tersenyum simpul, lalu mengitari mobil, membuka pintu bagian kemudi, dan mulai melajukan mobilnya.
"Mas, aku dandannya berlebihan nggak kayak gini? Kalau iya, mumpung masih di jalan aku hapus terus ganti aja look-nya." Ara meminta pendapat.
"Udah bagus, kok. Cantik." Darma memuji, tapi memang kapan, sih, Ara tidak terlihat cantik di mata laki-laki itu. Mau cuma pakai kaus oblong, no make up, dan bau asem juga Darma betah nempel-nempel.
Halaman rumah Darma yang sudah dipasangi tenda telah dipenuhi banyak orang setibanya Ara di sana. Dengan rasa gugup yang mendera, gadis itu menyalami dan mencium punggung tangan sang tuan rumah.
"Sore, Om."
Wira mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya yang menghitam karena banyaknya rokok yang pria itu hisap.
__ADS_1
Sementara Selly langsung bercipika-cipiki dengan calon menantunya—Ara—begitu gadis itu berdiri di hadapannya. "Makasih, ya, Ara, udah mau dateng."
"Harusnya aku yang berterima kasih karena sudah diundang. Tante, selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur, diberi kesehatan, dan kebahagiaan yang berlimpah."
"Amin." Mereka yang ada di situ menjawab serempak.
Dari dalam rumah, muncullah Silvia yang tampil elegan dengan gaun warna putih tulang, mirip dengan yang ibunya kenakan.
Ara kontan menoleh pada Darma melihat perempuan itu berjalan mendekat.
"Kenalin, ini Silvia, adikku. Sil, ini Ara." Darma memperkenalkan dua gadis di depannya.
Ara mengulurkan tangan dan Silvia menyambutnya dengan senyuman hangat yang melengkapi. Walaupun demikian, tak dapat dipungkiri ekor mata Silvia yang melirik kakak laki-lakinya cukup membuat Ara overthinking.
"Mas ...." Ara berujar saat Darma mengajaknya memasuki rumah, menemui nenek lelaki itu.
"Santai aja. Oke?" jawab Darma seakan tahu apa yang dirasakan kekasihnya.
Seorang wanita tua menyambut keduanya dengan senyuman yang sulit diartikan bagi Ara.
"Oma." Darma memanggil dengan wajah sumringah, lalu memperkenalkan Ara.
Di saat Ratna memandang Ara mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari arah dapur datanglah Imelda membawa nampan berisi segelas air mineral.
"Dar, dari mana aja dari tadi nggak keliatan?" tanya Imelda setelah memberikan air minum tadi kepada Ratna.
"Abis jemput Ara. Ra, kenalin ini Imelda."
"Halo, Imelda." Imelda sekilas tersenyum, begitu pula dengan Ara.
Imelda? Dia yang waktu itu ketemu di mall, 'kan?
__ADS_1
"Ra, kamu duduk sini dulu, ya. Aku ke toilet sebentar," ujar Darma.
Ara terhenyak dari lamunannya. Ingin rasanya dia mengekori pacarnya terus, tapi dua pasang mata yang mengarah padanya membuatnya hanya bisa mengangguk. "Iya."
Ratna masih belum melepaskan tatapannya, sedangkan Imelda yang saat ini duduk di sebelah wanita tua itu sudah sibuk dengan ponselnya.
"Sudah kerja atau masih kuliah?" Akhirnya sebuah tanya terlontar dari bibir Ratna.
"Saya tahun ini baru mendaftar kuliah," jawab Ara hati-hati.
"Daftar di mana aja?"
Ara kontan meneguk ludah. Tatapan mengintimidasi itu benar-benar membuatnya tak nyaman. "Masih di kota ini aja."
"Darma dulu kuliahnya di Singapura. Satu kampus sama kamu, ya, Mel?" Ratna menengok ke arah Imelda.
Pandangan Imelda beralih dari layar ponsel ke arah Ratna. "Iya, Oma, tapi beda angkatan. Darma satu tahun di atasku." Ia menjelaskan pada Ara.
Gadis itu terlihat sangat dekat sekali dengan Ratna. Yang mana membuat Ara cukup minder.
"Orang tua kerja apa?" tanya Ratna lagi.
"Orang tua saya berjualan, mereka punya toko kelontong." Ara menjawab dengan napas tertahan. Tampak di seberang meja Imelda mengulas senyum tipis.
Sementara Ratna kembali meneguk air mineralnya, kemudian berbincang dengan Imelda yang topik pembahasannya sama sekali tidak dimengerti oleh Ara. Menit demi menit terlewati dengan begitu lama, hingga akhirnya Darma kembali dan mengajaknya untuk ke depan karena acara akan segera dimulai.
.
.
.
__ADS_1
Habis Rini, terbitlah Ratna 🥰🥰🥰