Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Apartemen


__ADS_3

Setelah cerita ini mau tamat, aku baru sadar kalau banyak yang "miss". Jadi, kayak nggak sesuai judul. Tapi, yawdahlahya ada yang baca aja sukur


.


Semenjak hari di mana neneknya datang dan memberitahu tentang pendaftaran studi S2-nya, Darma jadi uring-uringan. Lelaki yang sebentar lagi genap berusia 29 tahun itu juga jarang pulang, dan lebih memilih tidur di apartemen yang sudah lama tidak ia tinggali.


Darma menyipitkan mata saat gorden kamar apartemennya ia buka menggunakan remote. Sudah jam sepuluh, pantas saja perutnya keroncongan. Ia raih ponselnya yang ada di nakas. Puluhan notifikasi berupa pesan singkat dan panggilan yang didominasi kontak "Rentenir Kecil" terlihat memenuhi layar.


Darma mengklik ikon gambar telepon di pojok kanan atas. Panggilan itu terhubung dan tidak berapa lama suara gadis di seberang sana terdengar khawatir.


"Halo. Mas Darma, nggak apa-apa, kan? Dari kemarin sore nggak ngabarin."


"Maaf, ya, kemarin pulang kerja langsung tidur. Terus baru bangun sekarang."


"Kebo banget, sih!" Ara meledek.


"Kamu sibuk nggak?" tanya Darma tak terpengaruh ejekan pacarnya. Kepalanya terasa pening mengingat dirinya terakhir kali makan kemarin siang.


"Mas Darma sakit, ya?"


"Kok, tahu?" Darma meringis saat berpindah posisi dan kepalanya berdenyut nyeri.


"Suaramu beda. Aku pengen ke sana, tapi ... kamu masih di apartemen, ya?" Ada secuil ketakutan dalam diri Ara.


Bayangkan, saat di rumah Darma kala itu saja mereka bisa berduaan di kamar. Apalagi jika di apartemen, di mana benar-benar hanya ada dia dan Darma. Harus ada benteng yang kuat supaya tidak keblabasan. Karena senakal-nakalnya Ara, sebagai penganut *** after marriage dia tidak akan memberikan dirinya pada lelaki yang bukan suaminya.


"Kamu khawatir aku ngapa-ngapain kamu?" tebak Darma tepat. "Aku janji nggak akan ngelakuin itu sebelum kita nikah, tapi kalau cium tetep boleh, kan, ya? Pusing, Ra, lemes, tapi nggak ada makanan. Ke sini, please." Ia memohon.


Ara menipiskan bibirnya, berpikir bagaimana baiknya. Dia tidak tega, dan lagi mungkin ini kesempatan untuknya bertanya mengapa Darma tiba-tiba tinggal di apartemen. "Kirimin alamatnya."


"Oke." Darma tersenyum tipis.


Tak sampai satu menit, sebuah pesan berisikan alamat apartemen Darma masuk ke ponsel Ara. Gadis itu meringis karena letaknya cukup jauh dan cuaca hari ini sangat panas.

__ADS_1


Rasa dingin menjalar di punggung Ara yang tertutup jaket begitu ia memasuki lobi gedung bertingkat di mana Darma menunggunya. Lelaki itu hanya memakai kaus oblong dan celana pendek yang mempertontonkan kakinya yang berbulu. Ara jadi meneguk ludah.


"Cape, ya? Sini biar aku yang bawa." Darma mengambil paksa kantong belanjaan di tangan Ara, lalu mereka bergandengan tangan menaiki lift.


Gadis itu memang berencana memasak karena bingung mau membelikan makanan yang sesuai selera pacarnya. Yeah, meski masakannya belum tentu enak, tapi kata orang kalau memasak dengan dibumbui cinta pasti rasanya jadi lebih spesial.


"Tangan kamu anget, Mas," ujar Ara, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Darma dengan sedikit berjinjit. "Duh, kamu demam. Kok, nggak bilang?"


"Nggak apa-apa. Nanti makan masakan kamu juga sembuh."


Ara mencebikkan bibir.


Lift yang membawa mereka telah sampai di lantai delapan, lantai apartemen Darma. Lelaki itu menekan beberapa angka sambil memberitahu Ara berapa pass code-nya.


"Kenapa aku dikasih tahu?"


"Biar nggak repot-repot bukain pintu kalau kamu ke sini."


"Nggak takut nanti aku maling barangmu?"


"Nggak, lah!"


Darma mengacak-acak rambut Ara gemas. Mereka melangkah masuk dan langsung menuju ke dapur. "Bisa pakai kompor listrik?"


Ara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menggeleng. "Ajarin."


"Aku juga nggak terlalu paham. Aku coba dulu, ya. Kamu deket pemadam api aja sana, biar kalau kebakaran nggak sampai kebakar satu gedung." Darma tidak menakut-nakuti. Dia serius akan ucapannya.


Dan Ara benar-benar berdiri di samping tabung kecil berwarna merah yang ditaruh menempel di tembok.


Mereka sama-sama tertawa bodoh saat sudah mahir mengoperasikan kompor listrik, dan kini Ara sudah meracik bumbu. Tinggal menunggu air mendidih maka bahan-bahan tinggal cemplang-cemplung.


Tidak ada adegan Darma memeluk Ara dari belakang karena untuk berdiri lama saja kepala Darma rasanya berputar-putar. Lelaki itu memilih untuk berbaring di ranjang selama pacarnya memasak.

__ADS_1


Cukup dengan dua puluh menit, sup ayam yang masih mengepul dengan taburan bawang goreng di atasnya telah tersaji di depan Darma.


"Awas aja bilang nggak enak." Ara mengancam terlebih dahulu, sebelum melakukan suapan pertamanya.


"Pasti enak, 'kan micinnya banyak," celetuk Darma kontan membuat mood Ara jelek.


"Jahat banget mulutnya. Makan sendiri, gih!" Ara menaruh mangkuk di nakas, lalu beranjak.


Namun, sebelum ia pergi, Darma menahannya. "Bercanda, Sayang. Duduk sini." Ia menyingkap selimut, meminta Ara agar duduk berhadapan dengannya di ranjang.


Ara tak mau menurut begitu saja. Ia balik menahan, membuat tubuhnya mematung di tempat. Matanya menelisik jauh, menatap iris gelap Darma.


"Nggak percaya aku?" Laki-laki itu melepaskan tangannya dari pergelangan tangan sang gadis, lalu meraih mangkuk berisi sup ayam dan memakannya dengan tenang.


Bikin anak orang jadi merasa bersalah saja.


Melangkah ragu, Ara mendudukkan tubuhnya di tempat yang sebelumnya. "Maaf ...."


"Aku juga tahu batasan kali," ujar Darma acuh tak acuh. "Kamu pikir aku cowok gampangan yang kalau berduaan sama cewek di kamar langsung pengen? Tahu nggak berapa cewek yang pernah aku cium duluan?"


Hati Ara memanas. Dia tidak tahu sudah berapa kali pacarnya pernah berpacaran dan sudah sejauh apa hubungan Darma dengan mantan-mantannya.


"Kamu nggak tanya berapa jumlahnya?" tanya Darma lagi.


"Buat apa?" balas Ara seraya memalingkan wajah.


Darma tersenyum tipis, kemudian menangkup sebelah pipi Ara agar kembali menghadapnya. Tidak hanya itu, dengan tangannya yang bebas, Darma juga meraih pinggang Ara, mendorongnya hingga gadis itu kini tengkurap di atas tubuhnya.


Bola mata Ara membeliak dengan debaran jantung yang menggila. Sejak kapan juga mangkuk di tangan pacarnya sudah teronggok cantik di nakas.


"Jawabannya cuma satu. Kamu." Dan Darma tidak membiarkan Ara berucap lagi karena dia dengan cepat sudah menye*sap bibir semerah ceri milik kekasihnya.


Saat dirasa paru-parunya membutuhkan oksigen, barulah Darma melepaskan pagutan bibirnya. Napas keduanya terengah-engah dengan dada naik turun. Hangat napas mereka menjalar di wajah satu sama lain.

__ADS_1


Darma menangkup kedua pipi Ara, lalu berkata, "Inget kata-kataku ini, Ra. Sampai kapan pun aku nggak bakal ninggalin kamu, kecuali kamu sendiri yang memilih untuk pergi."


__ADS_2