Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Is it okay?


__ADS_3

"Tawaranku yang tadi bakal terus berlaku, Ra," ujar Darma saat Ara sudah menggendong mini ranselnya, siap pulang.


"Kalo seandainya keterima kuliah juga masih lama kali. Emang magang biasanya semester berapa, Mas?"


"Bukan yang itu."


"Terus yang mana? Bukannya dari tadi ngomongin magang, ya?"


"Tawaran buat jadi pacarku."


Jantung Ara sontak berdegup lebih kencang. Ia pikir laki-laki itu hanya bergurau, tapi ternyata Darma benar-benar serius dengan ucapannya.


"Ehm! Mas, aku pulang dulu, ya." Tak tahu harus bagaimana, Ara pun langsung mengalihkan pembicaraan.


Darma mengangguk. Tampaknya ia pun sadar kalau ucapannya sedikit sensitif. Dia dan Ara baru kenal beberapa minggu ditambah gadis itu juga baru putus dari pacarnya. Jadi, wajar saja jika Ara memilih untuk menghindar.

__ADS_1


"Apa aku kecepetan, yah?" Darma bermonolog.


Ini sudah dua hari sejak Ara bermain ke kantornya, setelahnya baik dia dan Ara sama-sama tidak mengirimkan pesan apa pun. Meraih ponselnya, Darma lantas membuka aplikasi WhatsApp lalu ia klik foto profil gadis itu. Ini bukan kali pertama ia melakukannya. Dia pandangi serta ia usap wajah Ara yang kini memenuhi layar. Bibir tipis lelaki itu menyunggingkan senyum.


Ara memang berbeda dari semua gadis yang pernah Darma kenal. Dari segi apa pun, dan Darma menyukainya. Apalagi berada di tengah keluarga gadis itu membuat hatinya menghangat. Darma jadi ingin menjadi bagian di dalamnya secara resmi.


Mungkin akan ada yang menganggap pikirannya ini terlalu jauh, tapi di umurnya yang sudah menginjak 28 tahun, Darma memang tidak ingin lagi bermain-main. Ia ketikkan sebuah pesan pada Ara, memastikan bahwa hari ini gadis itu kembali datang ke kantornya.


[Aku ada hadiah kalo nanti kamu bisa jawab sepuluh soal dengan benar. So, dateng ke kantor ya.]


Ting!


Ara kontan menepuk-nepuk kepalanya agar pikiran itu enyah dari otaknya. "Ujian, Ra, ujian. Itu yang paling penting sekarang." Ia lantas bergegas, bersiap-siap menuju kantor Darma. Selain diajari secara gratis, di sana Ara juga jadi tidak bosan karena suasananya yang berbeda. Benar-benar sebuah keberuntungan bisa mengenal Darma. Kapan-kapan Ara mau memberikan hadiah untuk lelaki itu sebagai ucapan terima kasih.


Ara tiba di kantor Darma sedikit lebih siang karena tadi mengantre di pom bensin. Dan jika kemarin ia harus berhadapan dengan resepsionis yang menyebalkan, kini Ara mesti bertemu dengan perempuan yang tidak lain adalah mantan dari mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Ara, kamu ngapain ke sini?" tanya Ajeng dengan pandangan menelisik.


"Ada perlu."


"Ketemu Elang?"


Kening Ara mengernyit.


Kenapa jadi Mas Elang?


Namun, detik berikutnya Ara paham juga mengapa Ajeng bertanya demikian. Darma dan Elang adalah seorang atasan dan bawahan. Yang artinya mereka bekerja di tempat yang sama. Ck! Perkara itu saja Ara lupa. Terbuktikan kalau sudah tidak ada lagi Elang dalam pikirannya?


"Bukan," jawab Ara apa adanya.


"Aku sama Elang udah balikan. Jadi, tolong kamu ngerti posisi kamu sekarang."

__ADS_1


Ara cukup tertegun mendengarnya. Namun, karena tujuannya datang memang bukan untuk bertemu Elang jadi tidak seharusnya ia tersinggung.


"Aku yang mutusin Mas Elang. Jadi, kayaknya lucu banget kalo aku bela-belain ke sini buat ketemu dia. Kamu juga nggak usah repot-repot ngingetin aku tentang posisi karena dalam kamusku juga nggak ada kata balikan. Dan asal kamu tahu, aku ke sini buat ketemu dia." Ara menunjuk Darma yang baru muncul dari balik lift. Setelahnya, ia meninggalkan Ajeng begitu saja dan entah sadar atau tidak Ara menggandeng tangan laki-laki itu kembali masuk lift.


__ADS_2