
Bodohnya Ara karena terlalu keenakan dipeluk Darma, ia justru terlelap saat film belum genap tiga puluh menit diputar. Menggeliatkan badan, hidungnya kembang kempis mencium aroma maskulin yang menguar. Ara lantas membuka matanya perlahan dan alangkah kagetnya dia begitu menyadari kalau dirinya masih berada di kamar sang kekasih. Ia sibak selimut yang menutupi tubuhnya dan helaan napas lega pun terdengar melihat pakaiannya masih utuh. Tentu saja! Ara bukanlah tokoh utama novel-novel nganu di mana biasanya sang wanita akan terbangun di ranjang seorang pria dalam keadaan polos.
Detik berikutnya, kala Ara mengedarkan pandangan mencari si pemilik kamar, pintu terbuka dan seseorang yang ia cari muncul. Laki-laki itu sudah berganti kaus abu-abu. Rambutnya yang masih cukup basah membuat Ara tahu kalau Darma sudah mandi.
"Eh, udah bangun ternyata." Darma mendekat dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir tipisnya.
"Kok, aku nggak dibangunin, sih, Mas? Ini udah jam berapa coba!" Ara merengut kesal.
"Jam lima lebih."
"APA?!"
"Tadi kamu tidurnya pules banget, nggak tega banguninnya."
Wajah Ara semakin menunjukkan kekhawatiran. "Terus sekarang gimana, dong?" tanyanya bingung harus berbuat apa.
"Ya, nggak gimana-gimana. Kamu cuma harus nemuin papaku. Udah ditungguin dari tadi."
"Mas .... Ya, ampun aku malu banget kalo gini." Ara menunduk dan menutupi wajah lesunya. Hancur sudah image yang dia bangun kalau hari pertama datang ke rumah pacar malah menumpang tidur. Mana keripik rumput laut kesukaan calon ibu mertuanya tinggal tiga lembar.
Berbanding terbalik dengan Ara, Darma justru terbahak-bahak. "Udah, nggak apa-apa. Sana cuci muka dulu abis itu turun."
Ara turun dari ranjang dan mengikuti perintah pacarnya. Orang tua Darma sedang duduk santai menonton acara kuis ketika dia dan Darma tiba di lantai satu.
__ADS_1
"Pa, Ma."
Pasangan suami istri itu menoleh. Ara mengangkat kedua sudut bibirnya dengan takut-takut.
"Ara sudah bangun? Sini, Nak."
Ara pun mendekat dengan jantung berdegup kencang. "Tante, maaf aku ...."
Sama seperti Darma, Selly pun tertawa. Memang, ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Nggak apa-apa. Emang cuacanya enak banget buat tidur siang. Tante juga tadi tidur sebentar."
Ara mengangguk sekilas sambil memaksakan senyum saat matanya bertemu pandang dengan Wira. "H-halo, Om." Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
Wira melirik putranya dengan senyum penuh arti usai bersalaman dengan Ara.
"Ayo, duduk sini, Ra," ajak Darma.
"Mau kuliah, Pa."
"Darma ternyata sukanya anak kecil, Pa." Selly menimbrung dengan senyum meledek. Suaminya itu tertawa tertahan.
Sementara Ara kontan menunduk. Dia memang terlihat mungil jika bersebelahan Darma yang notabenenya berbadan cukup kekar.
"Ara, maaf, ya, kalau tersinggung. Tante hanya meledek Darma aja. Asalkan kalian sama-sama mau, ya, nggak apa-apa. Ya 'kan, Pa?" Selly meminta persetujuan suaminya yang dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Kalau mau masuk kuliah berarti beda 10 tahun sama kamu, Dar." Wira berujar sambil tampak berpikir. Entah apa yang dipikirkannya, tapi yang jelas cukup membuat Ara ketar-ketir.
"Delapan tahun. Ara kerja dulu dan baru bisa daftar kuliah tahun ini."
Wira manggut-manggut. "Yuk, makan dulu. Ara suka makan apa?" ajaknya seraya bangkit berdiri, lalu diikuti yang lainnya.
Gadis itu tergagap. "Eee ... apa aja suka, Om."
"Sukanya yang pedes-pedes, Pa," celetuk Darma yang sontak mendapat cubitan di pinggang.
"Papanya Darma dulu juga suka makan yang pedes-pedes. Tapi, berhubung udah kakek-kakek, udah nggak begitu." Selly menimpali sambil tertawa meledek suaminya. "Bima!" panggil wanita itu melihat putra bungsunya baru pulang.
"Kenalan sini sama pacarnya Mas Darma."
Remaja yang bau keringat itu pun mendekat dan bersalaman dengan Ara.
"Ini Bima, Ra. Adiknya Darma yang nomor dua, masih kelas tiga SMP. Yang pertama cewek, namanya Silvia. Sekarang lagi sibuk nyusun skripsi. Kalau pulang malem banget karena nongkrong di kafe. Katanya kalau di rumah otaknya nggak bisa dipake buat mikir," jelas Selly.
"Kalau Ara berapa bersaudara?" tanya Wira begitu mereka sudah duduk di kursi meja makan, sedangkan Bima sudah naik ke kamar untuk membersihkan badan.
"Dua, Om. Adik saya juga laki-laki, sudah kelas satu SMA "
Darma tersenyum karena nada bicara Ara yang terdengar kaku. "Santai aja," bisiknya sambil mengusap punggung tangan Ara yang berada di bawah meja.
__ADS_1
Setelahnya makan malam pun dimulai. "Makan yang banyak, ya, Ra. Abisin juga nggak apa-apa," ucap Selly yang kini tengah melayani suaminya.
"Iya, Tante." Ara menyunggingkan senyum. Kesan pertama bertemu orang tua kekasihnya, ia cukup nyaman karena keduanya welcome kepadanya. Selly dan Wira juga tidak mempermasalahkan dirinya yang ketiduran. Dan itu membuat Ara merasa lega, meski rasa malu itu tetap ada.