Will Never Let You Go

Will Never Let You Go
Permohonan Maaf


__ADS_3

Darma memegang ragu knop pintu sebuah yang hanya berjarak 30 meter dari ruang rawatnya. Dia memang pria pengecut. Padahal, di dalam sana Ara pasti sedang menunggunya. Menunggu untuk memarahi, memaki, meludahi, atau apa pun itu, Darma akan menerimanya. Ia pasrah.


"Dar, ayo!"


Perintah dari sang ibu mengembalikan kesadarannya. Pelan ia memutar gagang pintu seiring dengan wajahnya yang terangkat untuk bisa melihat ke arah seseorang yang baru saja menoleh ke sumber suara.


Darma menengok ke belakang dan berkata, "Biar aku sendiri, Ma."


Selly yang mengerti bahwa keduanya butuh waktu untuk berbicara empat mata pun hanya mengangguk.


Tak ubahnya Darma yang terkejut mendengar kabar tentang istrinya, begitu pula Ara melihat suaminya berjalan tertatih-tatih ke arahnya.


Kedua pasang mata itu saling bertemu dengan air mata yang sama-sama membayang. Darma menarik napas panjang, dan dengan tangan gemetar ia meraih tangan Ara. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Hanya isak tangis yang memilukan yang kian lama bertambah keras. Darma memeluk Ara dengan rasa penyesalan yang luar biasa.


"Maaf ... maaf, udah jadi suami yang nggak becus. Suami apa aku ini sampai nggak bisa jagain istri sama anakku," katanya parau.


Seharusnya, ini adalah kesempatan yang bagus untuk Ara mengungkapkan segala kekecewaan, kepahitan, dan sakit hatinya kepada pria yang makin erat merengkuhnya. Namun anehnya, kalimat semacam itu tak bisa keluar dari mulutnya. Ara hanya bisa diam dengan air mata yang terus saja mengalir.


"Aku takut banget tadi malam, Mas." Akhirnya ucapan itu yang berhasil terlontar, dan sukses membuat tangisan Darma makin menjadi.


Darma tidak peduli seandainya ibunya yang mungkin menunggu di luar mendengarnya. Masa bodoh orang bilang dia cengeng. Bagi Darma, bisa menebus kesalahannya adalah hal paling utama saat ini.

__ADS_1


Napas lelaki itu memburu, Darma yang merasa kekurangan oksigen pun menegakkan tubuhnya.


"Kamu nggak apa-apa, Mas? Mau aku panggilin dokter?"


Dengar! Dalam keadaan seperti ini saja, Ara masih bersikap lembut dan memanggilnya "Mas". Yang mana membuat air mata Darma kembali menetes. Katakan apa yang harus pria itu lakukan supaya merasa pantas di sisi Ara, selain mengemis sembari menangis.


Tak mengacuhkan keadaannya yang makin lemah, Darma justru berlutut di sisi ranjang masih dengan posisi menggenggam tangan Ara. "Aku minta maaf. Aku bodoh banget. Aku kayak orang yang nggak kenal kamu. Padahal, aku sama kamu udah jadi kita."


"Bangun. Jangan kayak gini," kata Ara. Jujur, ia tersentuh dengan ucapan Darma. Namun, untuk saat ini Ara sedang tidak ingin membahasnya. Kehilangan seorang anak yang ia sendiri belum melihatnya, bahkan dari layar monitor membuatnya hancur.


Dengan susah payah, akhirnya Darma bisa berdiri. Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Aku minta maaf," katanya lagi.


Dan Ara kembali mengalihkannya dengan pertanyaan lain, "Kenapa bisa begini?" tanyanya menatap Darma dari atas hingga setengah badan lelaki itu.


Ara mengangguk kecil. "Dokter bilang aku harus banyak-banyak istirahat. Aku mau tidur." Ia memalingkan wajah, dan setelahnya cairan bening yang sejak tadi ditahan-tahan pun mengalir.


"Aku tungguin kamu ... di sini." Darma mengelus kepala bagian belakang Ara, dan itu berhasil membuat wajah Ara makin basah oleh air mata.


Selama hampir tiga puluh menit, mereka berada dalam posisi itu. Ara benar-benar terlelap karena usapan yang diterimanya, sedangkan Darma masih terjaga. Dipandanginya tubuh istrinya itu. Darma tak bisa membayangkan bagaimana Ara semalam, tapi dari mata wanita itu, ia bisa melihat betapa ketakutannya istrinya. Darma merutuk dalam hati karena tak ada di samping Ara di saat perempuan itu membutuhkannya. Lelaki itu membenci dirinya yang dungu dan lebih mementingkan ego.


Mendengar pintu ruangan dibuka, Darma menoleh dan langsung menempelkan telunjuknya di bibir melihat ibunya muncul.

__ADS_1


"Gimana?"


Darma tak mengerti ke mana arah pembicaraan ibunya, jadi dia hanya mengedikkan bahu.


"Mama nggak tahu rasanya, tapi sebagai seorang perempuan jangankan kehilangan lihat anak sakit sedikit saja rasanya sedih banget. Kamu yang sabar, yang kuat, biar Ara juga cepat pulih dan bisa ceria kayak semula."


Darma mengangguk-angguk. Kendati demikian, perasaan sedihnya tetap saja tak bisa disembunyikan. Bahu lelaki itu sontak bergetar hebat ketika sang ibu memeluknya. "Ma, gimana kalau Ara nggak maafin aku?"


Selly merenggangkan pelukudan menepuk keras bahu anaknya. "Ara itu baik, kamu sangat beruntung punya istri kayak dia. Mama tadi sudah bilang kamu mesti sabar. Sabar, Dar. Semuanya butuh waktu. Makan siang kamu tadi udah diantar, mau Mama bawa ke sini?"


Lagi, Darma hanya manggut-manggut.


"Mama ambilin. Setelah makan, kamu telepon mertuamu," kata Selly sambil berlalu.


Kekhawatiran Darma makin bertambah. Bagaimana jika nanti mertuanya meminta Ara untuk tinggal bersama mereka karena tahu kelakuannya yang sangat tidak bertanggungjawab? Darma mengurut pelipisnya yang berdenyut nyeri.


.


.


Mau ngenalin anak baruku. Yang berkenan, boleh banget mampir

__ADS_1



__ADS_2